RSS Feed     Twitter     Facebook

Kopral Rezeki Lebih dari Jenderal

Vote This Post DownVote This Post Up (No Ratings Yet)
Loading...
   View : 12 views    Font size:
Kopral Rezeki Lebih dari Jenderal

(zonasatunews.com)-Brigjen TNI (Purn) Mazni Harun berdiri posisi sikap sempurna di atas panggung,  sambil memberi hormat.  Di bawah panggung Kopral Kepala (Kopka) TNI (Purn) Haryanto, membalas memberi hormat.

 

Adegan  janggal itu  di garasi Perusahaan Otobus (PO) Haryanto di pinggiran Kota Kudus, Rabu sore (7/8). Seorang jenderal memberi hormat ke kopra; Kendati sama2 pensiun—di luar kelaziman tradisi militer. Mazni mantan DanSatgas Intel BAIS TNI  mengaku pantas member hormat itu. Haryanto ini orang luar biasa, ujarnya.

 

Dia terharu dan bangga bisa mengajak sejumlah purnawirawan bersilaturahmi dengan Haryanto. Salah satunya Letjen TNI (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin yang pernah jadi  atasan Haryanto di Kodam Jaya. Kopral Haryanto pemilik PO Haryanto itu mantan anak buah Mazni saat dia jadi Danyon Arhanud 1/1 Kostrad  di Serpong Tangerang (1990-1993).

 

Bukan karena Haryanto jadi orang sukses, harta kekayaannya melebihi jenderal. Namun perjuangan dan sikap hidupnya, pantas dapat penghormatan.  Bukan hanya dari Mazni. Sejumlah pensiunan perwira tinggi yang hadir menyatakan salut dan respek pada Haryanto. Jarang orang kaya dermawan dan pemurah seperti pak Haryanto,  ujar mantan KSAU Marsekal TNI (Purn) Imam Sufaat.

 

Cerita tentang Haryanto perpaduan kegigihan, keuletan, dan keteladanan.  Dalam bahasa anak2 milenial sekarang,  Haji Haryanto itu pengusaha startup suskes dan tumbuh besar. Dia philantropis, dermawan. Sebagai anak ke-6 dari 9 bersaudara, Haryanto anak petani miskin. Ketiadaan biaya membuatnya gagal meneruskan studinya di STM.

 

Bermodal ijazah Sekolah Teknik (ST), setingkat SLTP, dia melamar jadi prajurit ABRI. Dia untung diterima jadi anggota ABRI berpangkat terendah, Prajurit Dua. Tugasnya jadi sopri truk mengangkut alat2 berat, meriam, dan logistik untuk pasukan.

 

Semangatnya  membara mengubah nasib membuat Haryanto cari penghasilan tambahan selepas dinas. Saya jadi sopir omprengan dengan trayek Serpong ke Kota Tangerang ujarnya. Hasil menabung, dia bisa beli angkot. Jumlah angkotnya terus bertambah, sampai 50. Pangkatnya prajurit, tapi jadi juragan angkot.

 

Saya ingat tahun 90-an itu Haryanto menyunatkan anaknya dengan mengundang dalang Ki Mantep Sudarsono. Acara di alun2 Tangerang. Bayarannya kalau gak salah waktu itu Rp 50 juta, ujar Mazni. Dari  Batalyon Arhanud I, Haryanto dimutasi ke Kodam Jaya.  Pangdam Jaya saat itu Mayjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin teman satu angkatan Mazni Harun (Akabri 1974).

 

Karena bisnisnya membesar, Haryanto minta pensiun dini. Dia pensiun tahun 2.002 di usia (43). Dengan modal kucuran dari BRI Rp 3 miliar, Haryanto beli 6 armada bus.  Usahanya hampir bangkrut ketika krisis ekonomi melanda tahun 2007-2008.

 

Dia terlilit utang ke BRI Rp 27 miliar. Setelah dijadwal ulang pembayarannya, dia dapat keringanan 5 tahun. Dengan bantuan Bank Nagari, dalam 3 tahun utang itu bisa dilunasi. Usahanya tumbuh. Kini dia memiliki 250 armada bus. Terdiri dari bus pariwisata dan  bus angkutan kota antar provinsi (AKAP).

 

Sangat memuliakan anak yatim dan  ibunda

Cerita tentang Haryanto tidak berhenti pada keberhasilannya jadi juragan perusahaan bus, sejumlah restoran, dan pom bensin. Apa yang dilakukannya dengan kekayaan itu justru  jauh lebih menarik. Dia menggunakan kekayaannya untuk membantu orang lain dan menebar kebaikan.

 

Dia menampung sejumlah temannya, termasuk pensiunan tentara, bekerja di perusahaannya. Seorang karyawannya ada yang pensiunan perwira menengah berpangkat Letkol. Haryanto saat ini mengurus dan menyantuni  4.000 anak yatim. Juga membiayai para hafidz penghafal Al Quran di beberapa pesantren.

 

Setiap tahun dia berangkatkan puluhan orang, termasuk karyawannya  umroh dan haji. Haryanto juga banyak membangun masjid. Secara personal Haryanto dikenal sebagai pribadi sederhana dan soleh. Dia selalu mengajak karyawannya untuk salat berjamaah lima waktu.

 

Sebuah spanduk di garasi armada busnya bertuliskan sebuah pesan : Apabila Hidupmu Susah. Tengoklah Sudah Benarkah Sholat Berjamaahmu??? Haryanto juga berpuasa sunah yang  jarang dilakukan orang. Puasa Dalail Khairat.

 

Puasa sunah yang dilakukan setiap hari sepanjang  tahun. Puasa ini dilengkapi dengan membaca salawat nabi dari kitab Dala’il Al Khairat yang ditulis seorang tokoh sufi asal Maroko Imam Al Jazuli.

 

Puasa semacam ini banyak diamalkan oleh santri di Pondok Pesantren Darul Fallah 3 Jekulo, Kudus dan beberapa pesantren lain di Jawa.

 

Selain salat berjamaah tepat waktu, dan puasa dalail, Haryanto punya satu amalan lagi yang menjadi satu kunci keberhasilannya. Dia sangat memuliakan Ibunya.

 

Dia sering terlihat mengendong ibunya, kendati diusia 90 tahun masih sangat sehat. Keuletan, kedermawanan, dan sikapnya yang memuliakan anak yatim dan ibunda menjadi kunci sukses  Haryanto.

 

Dia pantas mendapat penghormatan bukan hanya dari para purnawirawan petinggi militer, mantan atasannya, namun juga dari kita semua. (Muchisam-72; sumber : Hersubeno Arief; Editor : Setyanegara; Cuplikan dari : http://www.zonasatunews.com/tokoh-opini/pangkat-kopral-rezeki-lebih-dari-jenderal-kisah-sukses-bos-bus-haryanto/)-FatchurR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

*

code