RSS Feed     Twitter     Facebook

Tim Gowes P2Tel Cabang Sidoarjo Berkiprah

Vote This Post DownVote This Post Up (No Ratings Yet)
Loading...
   View : 3 views    Font size:
Tim Gowes P2Tel Cabang Sidoarjo Berkiprah

Semboyan Yakes Telkom, Sehaat, sehat sehat, kini makin banyak variasi dan pesertanya. Khususnya bagi pensiunan Telkom sahabat kita yang umumnya berumur diatas 55 tahun bahkan ada yang diatas 80 tahun.

 

Berikut adalah Tim Gowes PDuaTel Sidoarjo, yang berkiprah kembali Sabtu, 21-09-2019 sejak gowes perdana 3 bulan lalu dan berfoto yang diterima Redaktur. Tapi tahukah anda sejarah sepeda Onthel ?, Monggo simak dari sumber berikut ini :

 

(adira.co.id)-Pernah dengar tentang sepeda unta? Sepeda unta itu sebutan lain untuk Sepeda Ontel dan sebutan bersepeda adalah Gowes. Sepeda, alat transportasi yang lazim digunakan orang Indonesia tempo doeloe. Mudah sekali menemukan sepeda klasik ini di wilayah perkotaan saat itu.

 

Sepeda atau pit pancal rodanya berdiameter 28 inci. Material sepeda pun kuat dan tahan lama. Posisi sadel cukup tinggi dan setang dipasang sejajar dengan sadel. Hal ini mengharuskan pengemudinya duduk tegak. Ciri khas lain, rantainya berpenutup, itu mempercantik sepeda. Pada roda depan, ada dinamo untuk menghidupkan lampu. Rem drum melengkapi sepeda yang giginya tak bisa diutak-atik.

 

Masyarakat mengenal sepeda sejak jaman Belanda. Kebiasaan bersepeda mengikuti kebiasaan orang Belanda. Di Belanda, masyarakatnya kerap perg bersepeda. Di sana, menemukan sepeda semudah kita menemukan sepeda motor di Indonesia.

 

Sejarah menunjukkan, foto tertua sepeda di Indonesia bertahun 1895. Di abad ke-20, bertahap sepeda-sepeda itu diekspor ke Indonesia dari Negeri Kincir Angin. Beberapa merek yang mudah ditemui di antara lain Fongers, Simplex, Burger, Gazelle, dan Hartog. Belakangan buatan Eropa lainnya dikirim ke Indonesia, seperti buatan Inggris dan Jerman. Jumlahnya tak sebanyak buatan Belanda.

 

Penjajah Belanda sengaja membawa sepeda ke Indonesia. Mereka sadar cuaca disini cocok untuk bersepeda. Kebiasaan ini diikuti kaum bangsawan Indonesia. Situasi ini menjadikan sepeda sebagai simbol status sosial masa itu. Sepeda hanya milik yang berstatus sosial tinggi.

 

Sepeda hanya populer di perkotaan hingga 1970-an. Masuknya sepeda motor mengubah kebiasaan bersepeda. Walhasil, populasi pengguna sepeda bergeser ke pedesaan. Pemandangan masyarakat desa bersepeda berangkat bekerja tiap pagi masih ditemui di beberapa wilayah, salah satunya di Yogjakarta.

 

Seiring waktu, jumlah sepeda berkurang, mungkin rusak termakan usia. Hal itu justru menaikkan pamor sepeda lawas. Seperti barang kuno, makin tua semakin antik. Semakin sedikit jumlahnya, makin langka, makin mahal harganya.

 

Para kolektor sepeda lawas tak hanya orang tua, tapi merambah ke generasi muda. Penggemar sepeda antik ini bergabung dalam Komunitas Sepeda Tua Indonesia (KOSTI).

 

Di Kawasan Kota Tua, Jakarta, kita bisa menemukan sepeda Onthel dengan mudah. Ada yang berfungsi sebagai ojek sepeda, ada pula yang disewakan untuk berkeliling di sekitar Museum Sejarah Jakarta.  (Bahan dari : https://adira.co.id/sahabatlokal/menilik-sekilas-sejarah-sepeda-ontel-1)-FatchurR

 

*** Sudahkah Anda mencoba atau rrutin bersepeda /bergowes ? (FR)

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

*

code