RSS Feed     Twitter     Facebook

Toleransi Beragama Dari Masyarakat Betawi Kampung Sawah

Vote This Post DownVote This Post Up (No Ratings Yet)
Loading...
   View : 4 views    Font size:

(news.detik.com)-JAKARTA; Di Kampung Sawah Masyarakat terlatih hidup dalam perbedaan agama satu dengan lainnya. Pelajaran menjaga hidup bersama bisa dipetik dari warga Islam, Kristen Protestan, dan Kristen Katolik di pinggir Jakarta ini.

Bagi orang Betawi di sini, toleransi bukan saja slogan tapi jadi adat. Tiap-tiap warga baru yang datang bisa dengan mudah merasakan kerukunan di sini, cukup dengan menerima warna-warni perbedaan sebagai kekayaan bersama.

“Kalau sudah minum air Kampung Sawah, jadilah orang Kampung Sawah,” kata Agatha Ani (52), Ketua RW 04 Kampung Sawah di rumahnya, Jalan Kampung Sawah, Pondok Melati, (18/1/19).

 

Tiga tempat ibadah terletak berdekatan, semua berada di Jalan Raya Kampung Sawah, Kelurahan Jatimurni hingga Kelurahan Jatimelati, Bekasi, Jabar. Tiga tempat ibadah itu : Masjid Agung Al Jauhar Yayasan Pendidikan Fisabilillah (Yasfi), Gereja Kristen Pasundan (GKP) Jemaat Kampung Sawah, dan Gereja Katolik Santo Servatius.

 

Ini tempat masyarakat muslim dan kristiani hidup bersama. Uniknya, masyarakat kristiani asli sini punya identitas Betawi. Agatha terlahir di keluarga Katolik, namun dia masuk Islam pada 1992. Dia bersyukur hidup lingkungan yang menerima perbedaan.

“Saya orang Kampung Sawah asli, saya dilahirkan di sini, dari kecil sampai saya setua ini, sudah kepala lima, saya melihat rukunnya Kampung Sawah. Malah saya bangga jadi orang Kampung Sawah” katanya.

 

Menurutnya, ada cara orang Kampung Sawah bisa diterapkan di tempat lain untuk menjaga kerukunan antarumat beragama. Pertama, ajarkan sikap toleransi sejak kecil, jangan tunggu anak dewasa. Belajar kerukunan bukan dari sekolah, tapi mulai dari keluarga. “Awalnya keluarga, nggak usah orang luar, barulah ke tetangga sekitar. Itu yang utama,” kata Agatha.

Sebagaimana yang dialaminya, dia diberi pengertian tentang tempat ibadah berlainan di sekitar rumahnya. Kebetulan di kawasan ini 3 tempat ibadah terkemuka.

 

Cara kedua, masyarakat lintas agama perlu saling mengunjungi saat hari besar agama. Ini bukan aktivitas ikut beribadah agama lain, tapi silaturahmi sesama warga. “Tetangga saya, kerabat saya di sekitar yang beragama Katolik mengajak anak cucunya ke rumah yang berlebaran untuk saling bersilaturahmi”.

 

Dengan praktik seperti itu, toleransi bukan hanya berhenti sekadar nasihat tapi jadi praktik, kemudian jadi adat, dan adat bakal diwariskan dari generasi ke generasi. Ini juga jadi sebab suasana tahun baru selalu semarak di Kampung Sawah, warga saling bersalaman, keliling, dan membaur.

KH Rachmadin Afif (74), pendiri Yayasan Fisabilillah dan tokoh Islam di Kampung Sawah, menyatakan ada faktor yang menjadikan warga beda agama bisa rukun, yakni kekerabatan. “Antara Kristen, Katolik, Protestan, ada Advent, ada Pantekosta, semua adalah masih satu nenek moyang,” kata Rachmadin.

Bila ada potensi konflik antarumat beragama terdeteksi, maka potensi itu segera dibicarakan pihak rumah ibadah di sini. Konflik diredam sejak dini. Saat Natal, warga muslim membantu mengamankan lingkungan. Bila salat Idul Fitri atau Idul Adha, warga kristiani turut mengamankan. Bila ada acara di gereja namun jemaat kurang lahan parkir, maka jemaat dipersilakan parkir di halaman masjid.

 

“Kalau parkir gereja kurang, nggak nampung misal ketika Natalan, ya di sini parkirnya, di masjid. Itu bukan masalah akidah, silakan pakai di sini,” tuturnya. Untuk menjaga ketenteraman bersama, Rachmadin melarang ceramah agama yang menyulut suasana permusuhan antarumat beragama. Dia tegas bila nyata ada ceramah yang terdeteksi memuat ujaran kebencian.

“Kalau ada penceramah yang galak, di sini kita nggak pakai. Yang suka ngata-ngatain orang, lu bukan ceramah lu, provokator” ujarnya berdialek Betawi. Tokoh masyarakat dari Betawi Katolik Kampung Sawah, Jacob Napiun, juga punya resep menjaga kerukunan.

 

Pertama, pertahankan sikap menghormati dan wariskan ke generasi baru. Hubungan kemasyarakatan lintas iman juga perlu terus dipupuk. Ada satu paguyuban, namanya Baraya Kampung Sawah, yang rutin menggelar pertemuan lintas agama, lintas marga, dan lintas generasi.

“Kegiatan itu memberi kita kesempatan berinteraksi mempererat persaudaraan,” kata Jacob. Peran tokoh agama penting dalam menjaga kerukunan. Jacob melihat para tokoh Islam dan Kristen di sini selalu menyerukan persaudaraan.

Tokoh yang menjunjung penghargaan terhadap keberagaman sering diundang untuk berbicara di forum Kampung Sawah. Tokoh yang pernah diundang antara lain Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar hingga mantan Menteri Lingkungan Hidup lulusan Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Sonny Keraf.

 

Kini Kampung sawah tak hanya berisi orang Betawi Islam dan Kristen saja, namun banyak etnis lain dari seluruh Indonesia. Kampung Sawah terbuka pada siapa saja yang hendak mereguk nikmat kerukunan hidup bersama, tanpa harus menghilangkan perbedaan.

“Katakanlah Kampung Sawah terlalu kecil untuk menjadi contoh bagi Indonesia. Tapi sekecil apapun Kampung Sawah, kalau kita mau belajar dari yang ada di Kampung Sawah, tidak akan sia-sia. Harapan saya, biarlah Kampung Sawah menjadi Indonesia mini,” tandasnya.

 

(dnu/fjp; Adhi Indra Prasetya;  Bahan  dari :  https://news.detik.com/berita/d-4402734/belajar-toleransi-beragama-dari-masyarakat-betawi-kampung-sawah)-FatchurR *

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

*

code