Islam

Mengingat kematian-Dzikrul Maut

Tidak ada seorangpun bisa menghindari datangnya kematian. Kaya, miskin, tua, muda, sakit atau sehat sekalipun tak berdaya tatkala ajal menjemput. Firman Allah Swt dalam Al Qur’an Surah An Nisa Ayat 78, Artinya :

Di mana kamu berada, kematian akan datang menjemputmu, meski kamu berada di benteng tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: “Ini dari Allah”, dan kalau mereka ditimpa bencana mereka katakan: “Ini (datangnya) dari kamu (Muhammad)”. Katakanlah: “Semuanya (datang) dari Allah”. Maka mengapa orang2 munafik itu tidak memahami pembicaraan sedikitpun? (QS An Nisa 4 : 78)

Sesuatu yang pasti dalam kehidupan kita ini adalah “kematian”. Sesungguhnya tujuan pasti dari kehidupan kita ini adalah menuju alam akhirat yang jalannya adalah melalui “kematian”.
Allah Swt berfirman dalam Al Qur’an Surat Ali Imran Ayat 185:

Artinya : “Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS Ali Imran 3 : 185)

Rasulullah SAW menggambarkan, hanya angan2 semata manusia bisa mengelak dari kematian. Manusia tidak akan lepas dari ajal, bahkan ajal itu meliputinya. Imam Bukhari telah meriwayatkan: Dari Abdullah, dia berkata:

Nabi SAW membuat garis segi-4, dan Beliau membuat garis di tengahnya keluar darinya. Beliau membuat garis2 kecil ke garis yang di tengah ini dari sampingnya yang berada di tengah. Beliau bersabda,”Ini manusia, dan ini ajal yang mengelilinginya, atau telah mengelilinginya. Yang keluar ini angan2nya. Dan garis2 kecil ini musibah. Jika ini luput darinya, ini pasti mengenainya.” [HR Bukhari, no. 5.938].

Tidak seorangpun tahu kapan dan dimana dia menemui kematiannya. Firman Allah Swt dalam Surat Luqman Ayat 34 : “Ilmu tentang hari kiamat hanya milik Allah, Dialah Yang menurunkan hujan, dan tahu yang ada dalam rahim. Tiada seorangpun tahu dengan pasti yang akan diusahakannya besok. Tiada seorangpun tahu di bumi mana dia akan mati. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS Luqman 31 : 34).

Sering kita terkecoh atau tak menduga, teman atau kerabat kita yang sehat dan bercerita dengan kita. Secara tiba-tiba kita mendapatkan kabar duka bahwa beliau telah meninggal dunia. Banyak sekali jalan kematian mendatangi kita, seperti terjatuh, kecelakaan, bencana alam dll.

Seperti peribahasa : “Mumbang jatuh, kalapa jatuh” yang artinya yang tua meninggal, yang muda juga meninggal. Tidak selalu harus tua yang lebih dulu meninggal, ketentuan Allah lah yang berlaku. “Bukan panyakit yang membunuh, tapi ajal yang sudah sampai”.

Apa saja bekal yang harus kita persiapkan? Bekal kita di akhirat kelak ditentukan amal perbuatan kita, sebagaimana firman Allah Swt : “Orang2 yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh malaikat dengan mengatakan kepadanya: “Salaamun’alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan”. (QS An Nahl 16 : 32)

Firman Allah pada Surat Al Ahqaf ayat 20 : “Ingatlah hari ketika orang kafir dihadapkan ke neraka (kepadanya dikatakan): “Kamu telah menghabiskan rezekimu yang baik dalam kehidupan duniawimu dan kamu telah ber-senang2; maka hari ini kamu dibalasi dengan azab yang menghinakan karena kamu menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak dan karena kamu telah fasik”. (QS AlAhqaf 46 : 20)

Marilah kita renungkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia : Mayit akan diikuti oleh tiga perkara (menuju kuburnya), dua akan kembali, satu akan tetap. Mayit akan diikuti oleh keluarganya, hartanya, dan amalnya. Keluarganya dan hartanya akan kembali, sedangkan amalnya akan tetap. [HR Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa-i]

Segera beramal sebelum datang kematian
Janganlah seseorang menunda ber-amal shalih karena kesibukan duniawinya. Karena selama manusia masih hidup, ia tidak akan lepas dari kesibukan. Orang yang berakal akan mengutamakan urusan akhirat yang pasti datang, dan mengalahkan urusan dunia yang pasti ditinggalkan.

Allah dalam Surah Al Munafiquun 63 : Ayat 9-11: “Orang beriman, janganlah hartamu dan anak2mu melalaikanmu mengingat Allah. Siapa yang berbuat demikian Maka mereka Itulah orang-orang yang merugi. dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata:

“Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku Termasuk orang-orang yang saleh?” dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan. (QS Al Munafiqun: 9-11)

Karena itu, hendaklah memanfaatkan waktu dalam hidupnya dengan sebaik-baiknya, mengisinya dengan amal shalih sebelum datang kematian. Imam Bukhari meriwayatkan:
Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu anhuma, Rasulul SAW memegang pundakku, lalu bersabda,”Jadilah engkau di dunia ini seolah orang yang asing, atau seorang musafir.”

Dan Ibnu Umar mengatakan: “Jika engkau masuk waktu Subuh, maka janganlah engkau menanti sore. Jika engkau masuk waktu sore, maka janganlah engkau menanti Subuh. Ambillah dari kesehatanmu untuk sakitmu. Dan ambillah dari hidupmu untuk matimu.” [HR Bukhari, no. 5.937].

Marilah kita yang beriman senantiasa mengingat datangnya kematian dan mempersiapkan bekal berupa amal shalih untuk menghadapinya. Coba kita renungkan sebuah lirik lagu lama yang berjudul “Selimut Putih” berikut ini. Masihkah kita akan melupakan pentingnya kehidupan akhirat kelak ?

Bila Izrail datang memanggil, Jasad terbujur di pembaringan
Seluruh tubuh akan menggigil. Sekujur badan ‘kan kedinginan

Tiada lagi gunanya harta. Kawan karib sanak saudara
Jikalah ada amal di dunia. Itulah hanya pembela kita

Janganlah mau disanjung-sanjung. Engkau digelar manusia agung
Sedarlah diri tahu diuntung. Sebelum masa keranda diusung

Datang masanya insaflah diri. Selimut Putih pembalut badan
Tinggal semua yang dikasihi. Berbaktilah hidup sepanjang zaman
*** (-opch-; Okky Pamenan)-FR
———-

Sajian IBO lainnya :
1. Keadilan Allah
2. Memuliakan Ortu
3. Percakapan Syeikh Dr. M.Hasan dengan Seorang
4. Sifat Wanita yang Mendatangkan rejeki
———–

Keadilan Allah
Nabi Musa AS bermunajat dibukit Thursina. “Ya Allah, tunjukkan keadilanmu padaku”. Allah pun berfirman ke Musa, “Jika Aku menampakkan keadilan-Ku padamu, engkau tidak akan sabar dan ter-gesa2 menyalahkan-Ku.” “Dengan taufik-Mu,” kata Musa, “Aku akan bersabar menerima dan menyaksikan keadilan-Mu”.

Firman Allah, “Pergilah kau ke suatu mata air. Bersembunyilah di dekatnya dan saksikan yang terjadi” Musa pergi ke mata air yang ditunjukkan kepada nya. Tidak lama datang penunggang kuda. Ia turun dari kudanya, ambil air dan minum. Saat itu, ia menyimpan sekantong uang. Dengan ter-gesa2 pergi sehingga lupa membawa uang yang disimpannya.

Kemudian, datang anak kecil mengambil air. Ia melihat sekantong uang lalu mengambilnya dan pergi. Setelah anak itu pergi, datang seorang kakek buta. Ia mengambil air untuk minum, berwudhu dan sholat. Setelah si kakek selesai sholat, datang penunggang kuda itu untuk ambil uangnya yang tertinggal. Ia menemukan kakek buta itu berdiri dan akan segera beranjak pergi.

“Kakek tua, kamu pasti ambil kantongku berisi uang”. Betapa kagetnya kakek itu. Ia berkata, “Bagaimana saya ambil kantong Anda, mata saya tidak dapat melihat?”. “Kamu jangan berdusta. Tidak ada orang lain disini selain dirimu”, bentak si penunggang kuda. Setelah bersitegang, kakek buta itu dibunuh. Ia menggeledah baju si kakek dan tidak menemukan uang yang dicarinya.

Saat melihat kejadian itu nabi Musa protes, “Ya Allah, hamba tidak sabar melihat kejadian ini. Hamba yakin kau Maha Adil. Mengapa kejadian itu terjadi?” Allah SWT mengutus malaikat Jibril menjelaskan apa yang terjadi. “Wahai Musa, Allah Maha Mengetahui hal-hal gaib yang tidak engkau ketahui.

Anak kecil yang mengambil kantong itu ambil haknya sendiri. Dulu, ayahnya bekerja pada si penunggang kuda, tapi jerih payahnya tidak dibayar. Jumlah yang harus dibayar sama persis dengan yang diambil anak itu. Si kakek buta adalah pembunuh ayah anak kecil itu sebelum ia mengalami kebutaan.”

Begitulah keadilan Allah SWT. Kadang kita berburuk sangka ke Allah SWT. Kita sering merasa diberi kesulitan oleh Allah SWT, orang lain kita lihat dapat kebahagiaan-kesenangan. Mengapa kita sulit cari nafkah, ketika orang lain mudahnya dapat kekayaan. Sering, karena keterbatasan kita, tidak mampu membaca keadilan Allah. Kita anggap Allah tidak adil karena keputusan-Nya janggal dan merugikan kita.

Firman Allah SWT, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu; dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui,” (QS. Al Baqarah : 216)–(Endartono-dari grup WA-W9
———–

Memuliakan Ortu
Hari itu saya Jum’atan di Graha CIMB Niaga Jl. Sudirman setelah lama nggak Jum’atan di situ. Sehabis meeting dengan calon investor di lantai 27, saya buru2 ke masjid karena takut terlambat, dan bener aja sampai di masjid adzan berkumandang. Karena terlambat saya jadi tidak tau siapa nama Khotibnya. Sambil mendengarkan khotbah saya lihat Khotib dari layar yg di pasang di luar ruangan utama masjid.

Khotibnya muda, tampan, berjenggot, penampilan bersih. Dari wajahnya saya lihat aura kecerdasan, tutur kata lembut namun tegas. Dari tampilan menarik tsb, saya penasaran apa kira2 isi khotbahnya. Betul dugaan saya, isi ceramah dan cara menyampaikan membuat jamaah terharu. Banyak yg mengucurkan air mata (termasuk saya), bahkan ada yg sampai tersedu sedan.

Dengan gaya menarik Khotib cerita “true story” : Seorang anak umur 10 th, Umar. Dia anak pengusaha sukses yg kaya. Umar di sekolahkan di SD Internasional bergengsi di Jakarta. Bisa ditebak, bayarannya mahal, tapi bagi pengusaha, bukan masalah. Si ayah berfikir kalau anaknya harus dapat bekal pendidikan terbaik di semua jenjang, agar anaknya kelak sukses mengikuti jejaknya.

Suatu hari isterinya kasih tau Sabtu depan si ayah diundang acara “Father’s Day” di SD Umar. “Waduuuh saya sibuk ma, kamu aja yang datang..” Bagi dia acara beginian nggak penting, dibanding urusan bisnis besarnya. Tapi kali ini isterinya marah dan mengancam, sebab sudah kesekian kalinya si ayah nggak pernah mau datang ke acara anaknya. Dia malu karena anaknya selalu didampingi ibunya.

Anak2 lain selalu didampingi ayahnya. Karena diancam isterinya, si ayah adir meski ogah2an. Father’s day adalah acara yg dikemas khusus, anak2 saling unjuk kemampuan di depan ayah2nya.. Karena ayah si Umar ogah2an maka dia memilih duduk di paling belakang..sementara para ayah yg lain (terutama yg muda2) berebut duduk di depan agar bisa menyemangati anak2nya yg akan tampil di panggung.

Satu persatu anak2 menampilkan bakat dan kebolehan masing2, ada yg menyanyi, menari, membaca puisi, pantomime, ada pula yg pamerkan lukisannya dll. Semua dapat applause yg gegap gempita dari ayah2 mereka. Tibalah giliran Umar dipanggil gurunya untuk menampilkan kebolehannya. “Miss, bolehkah saya panggil pak Arief..” tanya si Umar kpd gurunya.

pak Arief guru mengaji kegiatan ekstra kurikuler. “Boleh” jawab gurunya dan pak Arief dipanggil ke panggung. “Pak Arief, bolehkah bapak buka Kitab Suci Al Qur’an Surat 78 (An-Naba’)” Umar minta ke gurunya. ”Tentu boleh nak” .

“Tolong bapak perhatikan apakah bacaan saya ada yg salah.” lalu Umar melantunkan QS An-Naba’ tanpa baca mushafnya (hapalan) dengan lantunan irama yg persis seperti bacaan “Syaikh Sudais” (Imam Besar Masjidil Haram).

Semua hadirin terpaku mendengar bacaan Umar men-dayu2, termasuk ayah Umar yg duduk dibelakang. ”Stop, kamu selesai membaca ayat 1 s/d 5 dengan sempurna. Kini kamu baca ayat 9..” kata p.Arief yg tiba2 memotong bacaan Umar. Umarpun baca ayat 9…”Stop, coba baca ayat 21..lalu ayat 33..” setelah usai Umar membaca, kata p.Arief:

“Kini kamu baca ayat 40 (ayat terakhir)” Umar baca ayat ke 40 tsb sampai selesai”… “Subhanallah…kamu hafal Surat An-Naba’ sempurna nak…” teriak p.Arief sambil mengucurkan air matanya. Hadirin tak kuasa menahan airmatanya. P.Arief tanya ke Umar. ”Kenapa kamu pilih menghafal Al-Qur’an dan membacakan di acara ini nak, sementara teman2mu unjuk kebolehan yg lain..?” begitu tanya pak Arief penasaran.

Begini pak guru, waktu saya malas mengaji dalam mengikuti pelajaran, bapak menegur sambil menyampaikan sabda Rasul SAW : ”Siapa yang baca Al Qur’an, mempelajari, dan mengamalkan, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat.

Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua ortunya dipakaikan 2 jubah (kemuliaan) yang tidak didapat di dunia. Keduanya bertanya, “Mengapa kami dipakaikan jubah ini?” Dijawab,”Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Qur’an.” (H.R. Al-Hakim).

“Pak guru, saya ingin mempersembahkan “Jubah Kemuliaan” ke ortu di hadapan Allah di akherat kelak. Sebagai anak yg berbakti ke kedua ortunya..” Semua orang terkesiap dan tdk bisa membendung air mata dengar ucapan anak itu. Ditengah suasana hening tsb..tiba2 terdengar teriakan “Allahu Akbar” dari seseorang yg lari dari belakang menuju ke panggung…

Dia ayah Umar..yg ter-gopoh2 menubruk sang anak, bersimpuh memeluk kaki anaknya. ”Ampuun nak.. maafkan ayah selama ini tidak pernah memperhatikanmu, tdk pernah mendidikmu ilmu agama, apalagi mengajarimu mengaji…” ucap ayah menangis di kaki anaknya…” Ayah ingin kamu sukses di dunia nak. ternyata kamu memikirkan “kemuliaan ayah” di akherat, ayah malu nak” ujar ayah nangis ter-sedu2.

Saya lihat di layar Khotib mengusap air mata yg mulai jatuh. Semua jama’ah juga mulai meneteskan airmata, termasuk saya. Diantara jama’ah ada yg tidak bisa menyembunyikan suara isak tangisnya, haru. Entah apa yg ada dibenak jama’ah, mungkin ada yg merasa berdosa karena menelantarkan anaknya, mungkin merasa bersalah karena lalai mengajarkan agama kpd anaknya..

Mungkin menyesal krn tdk mengajari anaknya mengaji, atau merasa berdosa karena malas baca Al-Qur’an yg hanya tergeletak di rak bukunya dengan alasan sibuk urusan dunia. Saya menangis karena lalai urusan akherat, dan lebih sibuk urusan dunia. Padahal saya tau kalau kehidupan akherat jauh lebih baik dan kekal dari pada kehidupan dunia yg remeh, sendau gurau dan singkat ini.

Seperti firman Allah SWT dalam Q.S. Al-An’am ayat 32:”Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?”… Astagfirullahaladziim Allahu Ghofururrohim..
hamba mohon ampunan kepada Allah..Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang… Wallahu ‘alam bissawab.. (Ruswanto; dari grup WA-W9)-FR
———–

Percakapan Syeikh Dr. M.Hasan dengan Seorang
(islampos.com)-SYEIKH Dr. M.Hasan, berkata: Aku diskusi dengan pemuda yang keras (dalam ber-Islam). Aku bertanya, “Apakah meledakkan Klub malam di negara muslim halal atau haram?”
Dan dia menjawab, “Tentu halal, dan membunuh mereka diperbolehkan.” Aku tanya lagi, “Kalau kamu membunuh mereka yang bermaksiat ke mana mereka akan kembali?”

Dia jawab, “Sudah pasti ke neraka.”
Lalu aku tanya lagi, “Sedangkan ke mana tujuan syetan menggoda manusia?”
Dia : “Pasti ke neraka juga.” Aku berkata padanya, “Berarti kalian bersekutu dengan syetan dalam satu tujuan, menjerumuskan manusia ke neraka!”

Dan aku berikan dia hadits Rasul SAW ketika ada jenazah orang Yahudi yang lewat di hadapannya Beliau menangis, maka para sahabat bertanya: “Apa yang membuatmu menangis Rasulallah?”
Beliau jawab: “Aku telah membiarkan satu orang masuk neraka…”

Aku berkata : “Perhatikan perbedaan pola pikir kalian dengan Rasulullah SAW yang berusaha memberi hidayah ke manusia dan menyelamatkan dari siksa Api neraka? Kalian di satu lembah, sedang Rasul SAW dan Islam di lembah lain.” (Soenarto SA; sumber dari dedih mulyadi/islampos)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Enter Captcha Here :

Back to top button
Close
Close