Islam

Apa itu barokah

Barokah adalah kata yg diinginkan semua hamba beriman, karenanya kita dapat limpahan kebaikan dalam hidup. Barokah bukan cukup & mencukupi saja, tapi barokah bertambahnya ketaatan ke Allah dg segala keadaan, berlimpah atau sebaliknya. Barokah itu: “albarokatu tuziidukum fi thoah” ~ barokah menambah taatmu kepada Allah

Hidup yg barokah itu sehat, kadang sakit itu justru barokah seperti Nabi Ayyub As sakitnya menambah taat kepada Allah. Barokah itu tak selalu panjang umur, ada yg umurnya pendek tapi dahsyat taatnya layaknya Musab ibn Umair. Tanah yg barokah itu bukan karena subur & panoramanya indah, karena tanah yg tandus seperti Makkah punya keutamaan di hadapan Allah tiada yg menandingi.

Makanan barokah itu bukan yg komposisi gizinya lengkap, tapi makanan itu mampu mendorong pemakannya jadi lebih taat setelah makan. Ilmu yg barokah itu bukan yg banyak riwayat & catatan kakinya, tapi yg barokah ialah yg mampu menjadikan seorang meneteskan keringat & darahnya dalam beramal & berjuang untuk agama Allah.

Penghasilan barokah juga bukan gaji yg besar & bertambah, tapi sejauh mana ia bisa jadi jalan rizqi bagi yg lainnya & semakin banyak orang yg terbantu dg penghasilan tersebut.

Anak² yg barokah bukanlah saat kecil mereka lucu & imut atau setelah dewasa mereka sukses bergelar & mempunyai pekerjaan & jabatan hebat, tapi anak yg barokah ialah yg senantiasa taat kepada Rabb-Nya & kelak di antara mereka ada yg lebih shalih & tak henti²nya mendo’akan kedua Orang tuanya. (Sapuwan; dari grup WA-78)-FR
——-

Sajian IBO lainnya :
1. Keadilan Allah
2. S A K I T
3. Al-Qur’an dan Jenderal
——–

Keadilan Allah
Ketika itu Nabi Musa AS bermunajat di bukit Thursina. “Ya, Allah, tunjukkan keadilanmu
kepadaku”
Allah berfirman ke Musa, “Jika Aku menampakkan keadilan-Ku kepadamu, engkau
tidak akan sabar dan tergesa gesa menyalahkan-Ku.”

“Dengan taufik-Mu,” kata Musa, “Aku akan bersabar menerima dan menyaksikan keadilan-Mu”.
Firman Allah, “Pergilah kau ke suatu mata air. Bersembunyilah di dekatnya dan saksikan yang terjadi”
Musa pergi ke mata air yang ditunjukkan kepada nya. Tidak lama, datang seorang penunggang kuda. Ia turun dari kudanya, mengambil air dan minum.

Saat itu, ia menyimpan sekantong uang. Dengan tergesa- gesa ia pergi sehingga lupa membawa uang yang disimpannya. Tidak lama kemudian, datanglah seorang anak kecil untuk mengambil air. Ia melihat sekantong uang lalu mengambilnya dan langsung pergi.

Setelah anak itu pergi, datang seorang kakek buta. Ia mengambil air untuk minum, berwudhu dan sholat. Setelah si kakek selesai sholat, datang penunggang kuda tadi untuk ambil uang yang tertinggal.
Ia menemukan kakek buta itu sedang berdiri dan akan segera beranjak pergi.
“Wahai kakek tua, kamu pasti mengambil kantongku yang berisi uang!”

Betapa kagetnya kakek itu. Ia berkata, “Bagaimana saya dapat mengambil kantong Anda, sementara mata saya tidak dapat melihat?”
“Kamu jangan berdusta. Tidak ada orang lain disini selain dirimu!”, bentak si penunggang kuda.

Setelah bersitegang, akhirnya kakek buta itu dibunuhnya. Ia menggeledah si kakek, tentu ia tidak menemukan uang yang dicarinya.
Saat melihat kejadian itu nabi Musa protes ke Allah SWT, “Ya Allah, hamba tidak sabar melihat kejadian ini. Namun hamba yakin Engkau Maha Adil. Mengapa kejadian itu bisa terjadi?”

Allah SWT mengutus malaikat Jibril menjelaskan yang terjadi. “Wahai Musa, Allah Maha tahu hal2 gaib yang tak kau ketahui. Anak kecil yang ambil kantong itu mengambil haknya. Dahulu, ayahnya pernah bekerja pada si penunggang kuda, tapi jerih payahnya tidak dibayar. Jumlah yang harus dibayar sama dengan yang diambil anak itu. Si kakek buta adalah pembunuh ayah anak kecil itu sebelum ia mengalami buta.”

Sering, karena keterbatasan kita sebagai manusia, tidak mampu membaca keadilan Allah secara tepat. Kita anggap Allah tidak adil karena keputusan-Nya terasa janggal dan merugikan diri kita. Firman Allah SWT, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu; dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui,” (QS. Al Baqarah : 216). (Endartono; dari grup WA-W9)-FR

———

S A K I T
~ Sakit itu “Zikrullah”. Mrk yg menderitanya lebih sering menyebut Asma Δllαħ dibanding ketika sehat.
~ Sakit itu “Istighfar”. Dosa2 akan mudah teringat, jk datang sakit. Shg lisan terbimbing mohon ampun.
~ Sakit itu “Tauhid”. Bukankah saat sedang hebat rasa sakit, kalimat thoyyibah yg akan terus digetar?
~ Sakit itu “Muhasabah”. Kita lg sakit akan punya lebih banyak wkt utk merenungi diri dlm sepi, menghitung2 bekal kembali.

~ Sakit itu “Jihad”. Kita ketika sakit tak boleh menyerah, wajib terus ikhtiar, berjuang demi kesembuhan.
~ Bahkan sakit itu “Ilmu”. Bukankah ketika sakit, kita akan memeriksa, berkonsultasi & pd akhirnya merawat diri utk berikutnya ada ilmu utk tdk mudah kena sakit.

~ Sakit itu “Nasihat”. Yg sakit mengingatkan si sehat utk jaga diri. Yg sehat menghibur yg sakit agar mau bersabar. Δllαħ cinta dan sayang keduanya.
~ Sakit itu “Silaturrahim”. Sa’at jenguk, bukankah keluarga yg jarang bertemu akhirnya datang membezoek, penuh senyum dan rindu mesra ? Krn itu pula sakit adalah perekat ukhuwah.

~ Sakit itu “Penggugur Dosa”. Barang haram tercelup di tubuh dilarutkan di dunia, Anggota badan yg sakit dinyerikan dan dicuci-Nya.
~ Sakit itu “Mustajab Do’a”. Imam As-Suyuthi keliling kota cari org sakit lalu minta dido’akan olehnya.

~ Sakit itu salah satu keadaan yg “Menyulitkan Syaitan”. Diajak maksiat tak mampu – tak mau. Dosa.. lalu malah disesali.. kemudian diampuni.
~ Sakit itu membuat “Sedikit tertawa dan banyak menangis”. Satu sikap ke-Insyaf-an yg disukai Nabi & para makhluk langit.

~ Sakit meningkatkan kualitas “Ibadah”. Rukuk – Sujud lebih khusyuk, Tasbih – Istighfar lebih sering,
Bermunajat – Do’a jadi lebih lama.
~ Sakit itu memperbaiki “Akhlak”.
Kesombongan terikikis, sifat tamak dipaksa tunduk, pribadi dibiasakan santun, lembut & Tawadhu’.

~ Akhirnya “SAKIT” membawa kita sll ingat “KEMATIAN” Sυbħαπαllαħ. (Sapuwan; dari grup WA-78)-FR
———–

Al-Qur’an dan Jenderal
Suatu sore, di tahun 1525. Penjara tempat tahanan orang2 di situ terasa hening mencekam. Jenderal Adolf Roberto, Pemimpin Penjara yang terkenal bengis, tengah memeriksa setiap kamar tahanan. Setiap Sipir Penjara membungkukkan badannya rendah2 ketika ‘Algojo Penjara’ itu berlalu di hadapan mereka.
Karena kalau tidak, sepatu ‘jenggel’ milik tuan Roberto yang fanatik itu mendarat di wajah mereka.

Roberto marah besar ketika dari sebuah kamar tahanan terdengar seseorang mengumandangkan suara2 Ayat Suci yang amat ia benci. “Hai … hentikan suara jelekmu. Hentikan” Teriak Roberto se-keras2nya sembari membelalakkan mata. Namun apa yang terjadi? Laki-laki di kamar tahanan tadi tetap saja bersenandung dengan khusyu’nya.

Roberto bertambah berang. Algojo Penjara itu menghampiri kamar tahanan yang luasnya tak lebih sekadar cukup untuk satu orang. Dengan congak ia menyemburkan ludahnya ke wajah renta sang tahanan yang keriput hanya tinggal tulang. Tak puas sampai di situ, ia lalu menyulut wajah dan seluruh badan orang tua renta itu dengan rokoknya yang menyala.

Ajaib… Tak terdengar secuil pun keluh kesakitan. Bibir yang pucat kering milik sang tahanan amat gengsi untuk meneriakkan kata kepatuhan kepada sang Algojo, bibir keringnya hanya berkata lirih “Rabbi, wa-ana ‘abduka”. Tahanan lain yang menyaksikan kebiadaban itu serentak bertakbir sambil berkata,
“Bersabarlah wahai ustadz … Insya Allah tempatmu di Syurga”.

Melihat kegigihan itang tua yang dipanggil ustadz oleh sesama tahanan, ‘Algojo Penjara’ itu bertambah memuncak amarahnya. Ia perintahkan Pegawai Penjara membuka sel, dan ditariknya tubuh orang tua itu keras2 hingga terjerembab di lantai. “Hai orang tua busuk. Bukankah engkau tahu, aku tidak suka bahasa jelekmu itu? Aku tidak suka apa-apa yang berhubung dengan agamamu

Sang Ustadz lalu berucap, “Aku sangat merindukan kematian, agar aku segera dapat menjumpai kekasihku yang amat kucintai, Allah SWT. Karena kini aku berada di puncak kebahagiaan karena akan segera menemui-Nya, patutkah aku berlutut kepadamu, hai manusia busuk? Jika aku turuti kemauanmu, tentu aku termasuk manusia yang amat bodoh”.

Baru saja kata-kata itu terhenti, sepatu laras Roberto sudah mendarat di wajahnya. Laki-laki itu terhuyung. Kemudian jatuh terkapar di lantai penjara dengan wajah bersimbah darah. Ketika itulah dari saku baju penjaranya yang telah lusuh, meluncur sebuah ‘buku kecil’. Adolf Roberto bermaksud memungutnya.

Namun tangan sang Ustadz telah terlebih dahulu mengambil dan menggenggamnya erat-erat. “Berikan buku itu, hai laki-laki dungu!” bentak Roberto.
“Haram bagi tanganmu yang kafir dan berlumuran dosa untuk menyentuh barang suci ini”, ucap sang ustadz dengan tatapan menghina pada Roberto.

Tak ada jalan lain, akhirnya Roberto mengambil jalan paksa untuk mendapatkan buku itu. Sepatu laras berbobot dua kilogram itu ia gunakan untuk menginjak jari-jari tangan sang ustadz yang telah lemah. Suara gemeretak tulang yang patah terdengar menggetarkan hati. Namun tidak demikian bagi Roberto.
Laki-laki bengis itu malah merasa bangga mendengar gemeretak tulang yang terputus.

Bahkan ‘Algojo Penjara’ itu merasa lebih puas lagi ketika melihat tetesan darah mengalir dari jari-jari musuhnya yang telah hancur. Setelah tangan renta itu tak berdaya, Roberto memungut buku kecil yang membuatnya penasaran. Perlahan Roberto membuka sampul buku yang telah lusuh. Mendadak algojo itu termenung.

“Ah … sepertinya aku pernah mengenal buku ini. Tapi kapan? Ya, aku pernah mengenal buku ini.” suara hati Roberto bertanya-tanya. Perlahan Roberto membuka lembaran pertama itu. Pemuda berumur tiga puluh tahun itu bertambah terkejut tatkala melihat tulisan2 “aneh” dalam buku itu. Rasanya ia pernah mengenal tulisan seperti itu dahulu. Namun, sekarang tak pernah dilihatnya di bumi Spanyol.

Akhirnya Roberto duduk di samping sang Ustadz yang telah melepas nafas2 terakhirnya. Wajah bengis sang algojo kini diliputi tanda tanya yang dalam. Mata Roberto rapat terpejam. Ia berusaha keras mengingat peristiwa yang di alaminya sewaktu masih kanak-kanak. Perlahan, sketsa masa lalu itu tergambar kembali dalam ingatan Roberto.

Pemuda itu teringat ketika suatu sore di masa kanak2nya terjadi kericuhan besar di negeri tempat kelahirannya ini. Sore itu ia melihat peristiwa yang mengerikan di Lapangan Inkuisisi (lapangan tempat pembantaian kaum muslimin di Andalusia). Di tempat itu tengah berlangsung pesta darah dan nyawa. Beribu-ribu jiwa tak berdosa berjatuhan di bumi Andalusia.

Di hujung kiri lapangan, beberapa puluh wanita berjilbab digantung pada tiang2 besi yang terpancang tinggi. Tubuh mereka bergelantungan tertiup angin sore yang kencang, membuat pakaian muslimah yang dikenakan berkibar di udara. Di tengah lapangan ratusan pemuda Islam dibakar hidup2 pada tiang-tiang, hanya karena tidak mau memasuki agama yang dibawa mereka.

Seorang bocah laki-laki mungil tampan, berumur tujuh tahunan, malam itu masih berdiri tegak di lapangan Inkuisisi yang telah senyap. Korban2 kebiadaban itu telah syahid. Bocah mungil itu mencucurkan airmatanya menatap sang ibu yang terkulai lemah di tiang gantungan. Perlahan bocah itu mendekati tubuh sang ummi (ibu) yang sudah tak bernyawa, sembari menggayuti abayanya.

Sang bocah berkata dengan suara parau, “Ummi-2 mari kita pulang. Hari telah malam. Bukankah ummi telah berjanji malam ini akan mengajariku lagi tentang alif, ba, ta, tsa? Ummi, cepat pulang ke rumah”
Bocah kecil itu akhirnya menangis keras, ketika sang ummi tak jua menjawab ucapannya. Ia semakin bingung dan takut, tak tahu harus berbuat apa. Untuk pulang ke rumah pun ia tak tahu arah.

Akhirnya bocah itu berteriak memanggil bapaknya, “Abi … Abi … Abi …”
Namun ia segera terhenti berteriak memanggil sang bapak ketika teringat kemarin sore bapaknya diseret dari rumah oleh beberapa orang berseragam. “Siapa kamu?” teriak segerombolan orang yang tiba-tiba mendekati sang bocah.

“Saya Ahmad Izzah, sedang menunggu Ummi …” jawab sang bocah memohon belas kasih. ”
Hah … siapa namamu bocah, coba ulangi” bentak salah seorang dari mereka. “Saya Ahmad Izzah”
sang bocah kembali menjawab dengan agak grogi.
Tiba-tiba “plak! sebuah tamparan mendarat di pipi sang bocah.

“Wajahmu bagus tapi namamu jelek. Aku benci namamu. Kini kuganti namamu dengan nama bagus. Namamu sekarang ‘Adolf Roberto’ … Awas. Jangan kau sebut lagi namamu yang jelek itu. Kalau kau sebut lagi nama lamamu itu, nanti akan kubunuh!” ancam laki-laki itu.
Sang bocah meringis ketakutan, sembari tetap meneteskan air mata.

Anak laki-laki mungil itu hanya menurut ketika gerombolan itu membawanya keluar lapangan Inkuisisi. Akhirnya bocah tampan itu hidup bersama mereka. Roberto sadar dari renungannya yang panjang. Pemuda itu melompat ke arah sang tahanan. Secepat kilat dirobeknya baju penjara yang melekat pada tubuh sang ustadz. Ia mencari-cari sesuatu di pusar laki-laki itu.

Ketika ia menemukan sebuah ‘tanda hitam’ ia berteriak histeris, “Abi … Abi … Abi …”
Ia pun menangis keras, tak ubahnya seperti Ahmad Izzah dulu. Pikirannya terus bergelut dengan masa lalunya. Ia masih ingat betul, bahwa buku kecil yang ada di dalam genggamannya adalah Kitab Suci milik bapaknya, yang dulu sering dibawa dan dibaca ayahnya ketika hendak menidurkannya.

Ia juga ingat betul ayahnya mempunyai ‘tanda hitam’ pada bagain pusar. Pemuda beringas itu terus meraung dan memeluk erat tubuh renta nan lemah. Tampak sekali ada penyesalan yang amat dalam atas ulahnya selama ini. Lidahnya yang sudah berpuluh-puluh tahun alpa akan Islam, saat itu dengan spontan menyebut,

“Abi … aku masih ingat alif, ba, ta, tsa …” Hanya sebatas kata itu yang terekam dibenaknya. Sang ustadz membuka mata ketika merasakan ada tetesan hangat yang membasahi wajahnya. Dengan tatapan samar dia masih dapat melihat seseorang yang tadi menyiksanya habis2an kini tengah memeluknya.

“Tunjuki aku pada jalan yang engkau tempuh Abi, tunjukkan aku pada jalan itu” Terdengar suara Roberto memelas. Sang ustadz tengah mengatur nafas untuk berkata-kata, ia lalu memejamkan matanya. Air matanya pun turut berlinang. Betapa tidak, jika sekian puluh tahun kemudian, ternyata ia masih sempat berjumpa dengan buah hatinya, ditempat ini.

✳Sungguh tak masuk akal. Ini semata-mata bukti kebesaran Allah. Sang Abi dengan susah payah masih bisa berucap. “Anakku, pergilah engkau ke Mesir. Di sana banyak saudaramu. Katakan saja bahwa engkau kenal dengan Syaikh Abdullah Fattah Ismail Al-Andalusy. Belajarlah engkau di negeri itu,”
Setelah selesai berpesan sang ustadz menghembuskan nafas terakhir dengan berbekal kalimah indah :

“Asyhadu an-laa Ilaaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasullullah”
❇Beliau pergi menemui Rabbnya dengan tersenyum, setelah sekian lama berjuang di bumi ini.
kini seluruh hidup Ahmad Izzah dibaktikan untuk agama, sebagai ganti kekafiran yang di masa mudanya. (Sapuwan Ksg; dari grup WA-78)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Enter Captcha Here :

Back to top button
Close
Close