RSS Feed     Twitter     Facebook

Hadiah Natal terindah (3/3)

Vote This Post DownVote This Post Up (No Ratings Yet)
Loading...
   View : 2 views    Font size:
Hadiah Natal terindah (3/3)

Anda tidak akaan  menyesal melanjutkan membaca dari sumber titusbercerita.blogspot.co.id ini :

Mereka bermain dan tertawa setengah jam, sebelum Egar lihat jam di atas gereja dan ia putuskan pergi ke stasiun bis. Karena itu ia membawa gadis itu ketempat dimana ia menemukannya.

“Sekarang pulanglah, Ellis. Hati2 di jalan. Tuhan memberkatimu selalu.”
“Kemana anda pergi, Pak?” tanya Ellis pada orang asing yg baik hati itu.

“Saya harus pergi bekerja. Ingat sedapat mungkin bersekolah yang rajin. Selamat natal, sayang.”
Ia cium kening gadis itu, dan berdiri. Ellis mengucapkan terima kasih dengan suaranya yang kecil, senyum dan berlari kecil ke asramanya. Kebahagiaan yang sangat membuat gadis kecil itu lupa menanyakan nama teman barunya.

 

Egar merasa hangat di hatinya. Ia puas, dan berjalan ke stasiun bis. Pengemudi bis mengenalnya, dan sebelum Egar punya kesempatan untuk bicara apapun, ia tunjuk salah satu bangku yg masih kosong.
“Duduk di kursi kesukaanmu, saudaraku, dan jangan cemaskan apapun. Sekarang malam natal.”

Egar mengucapkan terima kasih, dan setelah saling menukar salam natal ia duduk di kursi kesukaannya. Bis bergerak, dan Egar membelai kalung yang ada di dalam kantongnya. Ia tidak pernah mengenakan kalung itu di lehernya, tapi ia punya kebiasaan untuk mengelus kalung itu setiap saat. Dan kini ia merasakan perbedaan dalam rabaannya.

 

Keningnya berkerut ketika ia mengeluarkan kalung itu dari kantongnya, dan membaca sebuah kalimat yang baru diukir dibalik bandulnya : ‘Selamat Natal, Ellis Salam Sayang, Sinterklas’ . Saat itu ia baru sadar bahwa ia telah keliru memberikan hadiah untuk Ellis……
***
Selama 30 tahun berikutnya hidup memperlakukan Egar amat keras. Dalam usaha cari pekerjaan yang lebih baik, ia terus menerus berpindah dari satu kota ke kota lain. Akhirnya ia sebagai pekerja bangunan di Marengo, sekitar 1000 km dari kampung halamannya. Dan ia belum bisa menemukan pekerjaan yang cukup baik untuk makan lebih dari sekedar makanan kecil atau kentang goreng.

Karena bekerja terlalu keras di bawah matahari dan hujan salju, kesehatannya menurun drastis. Bahkan sebelum umurnya 55 tahun, ia tampak tua dan kurus. Suatu hari menjelang natal, Egar digotong ke RS karena pingsan kecapaian. Hidup tampaknya akan berakhir untuk Egar.

 

Tanpa uang sepeserpun di kantong dan sanak famili yg menjenguk, ia kini terbaring di kamar paling suram di RS milik pemerintah. Malam natal itu, ketika tiap orang di dunia menyanyikan lagu2 natal, denyut nadi Egar melemah, dan ia jatuh ke dalam alam tak sadar.

Pejabat RS itu, yg menyempatkan menyalami pasien2nya, sedang siap2 kembali ke pesta keluarganya ketika ia melihat pintu gudang terbuka sedikit. Ia periksa buku di tangannya dan mengerutkan keningnya. Ruang itu seharusnya kosong. Dia mengetuk pintu, tidak ada jawaban. Dia membuka pintu itu dan menyalakan lampu.

 

Hal pertama yg dilihatnya adalah seorang tua kurus yang tergeletak di atas ranjang, di sebelah sapu2 dan kain lap. Tapi perhatiannya tersedot pada sesuatu yang bersinar suram di dadanya, yang memantulkan sinar lampu yang menerobos masuk lewat pintu yang terbuka.

Dia mendekat dan mulai melihat benda yang bersinar itu, yaitu bandul kalung yang sudah ke-hitam2an karena kualitas logam yang tidak baik. Tapi pada kalung itu membuat hatinya berdebar. Dengan hati2 ia memeriksa bandul itu dan membaca kalimat yang tercetak di baliknya.
‘Selamat Natal, Ellis Salam Sayang, Sinterklas’

Air mata turun di pipi Ellis. Inilah orang yang paling diharapkan bertemu seumur hidupnya. Inilah orang yang membuat masa kanak2nya tak terlupakan hanya dengan 1 malam saja, dan inilah orang yang membuatnya percaya bahwa Sinterklas ada di dunia ini.

Dia periksa denyut nadi Egar dan mengangguk. Tangannya yang terlatih memberitahu harapan masih ada. Ia panggil kamar darurat, dan bergerak cepat ke kantornya. Malam natal yang sunyi itu dipecahkan dengan kesibukan mendadak dan bunyi detak langkah2 kaki puluhan perawat dan dokter jaga.

“Jangan kuatir, Pak Siapapun nama anda. Ellis disini sekarang, dan Ellis akan mengurus Sinterklasnya yang tersayang.”

Dia menyentuh kalung di lehernya. Rantai emas itu bersinar begitu terang sehingga seisi ruangan terasa hangat walau salju menderas diluar. Perasaan yang didapatnya tiap ia menyentuh kalung itu. Malam ini dia tidak harus bertanya lagi karena ia baru saja menemukan orang yang memberinya hadiah natal yang paling sempurna sepanjang segala jaman… (By Kisah Inspirasi); Tamat…….

 

Monggo lengkapnya klik aja :  (http://titusbercerita.blogspot.co.id/2011/11/natal-hadiah-natal-terindah.html)-FatchurR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply