RSS Feed     Twitter     Facebook

Selamat Jalan Sahabat

Vote This Post DownVote This Post Up (No Ratings Yet)
Loading...
   View : 177 views    Font size:
Selamat Jalan Sahabat

Kalau kita perhatikan, minggu ini pak Herdy telah berkenan melepas tiga orang seniornya, dengan NIK yg berurutan:

  1. Pak Martono 55
  2. Pak Teddy 56
  3. Pak Endro 57

 

Jika kita renungkan,kehidupan manusia ini sangat dipengaruhi oleh besaran energi yang ada. Tubuh atau raga kita lebih tunduk kepada jiwa, karena antara jiwa dan raga sebenarnya lebih dominan fungsi jiwa. Keseimbangan antara jiwa dan raga itu harus kita jaga, karena ini bisa jadi kunci kesehatan diri kita yang sesungguhnya.

 

Rasulullah Saw bersabda: ”Tidaklah dari seorang muslim yang tertimpa penyakit, sakit atau yang semisalnya, kecuali Allah Swt merontokkan kesalahan2nya sebagaimana rontoknya daun2nya. pohon” (HR Bukhari 5660 dan Muslim 2571, Shahih Muslim 1991/4).

 

Sakit adalah penggugur dosa, sarana evaluasi diri dan ladang amal bila disikapi dengan sabar.   ”(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata, Sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kami kembali.”   (QS. Al-Baqarah :156).

 

Kesibukan kita se-hari2 banyak menyita waktu. Rasanya baru kemarin kita menikmati masa remaja, tanpa kita sadari tiba2 sudah jadi tua. Rasanya belum lama bekerja, ternyata sudah harus memasuki masa pensiun. Karena kesibukan, kita menjadi lupa bahwa kita pasti akan mati.

 

Ya, kematian pasti menghampiri tiap makhluk bernyawa. Siapa pun orangnya, di mana pun dia, bagaimana pun keadaannya, dan sedang melakukan apa pun dia, kematian menghampiri dengan tiba2, tanpa pemberitahuan terlebih dulu. Tiga sahabat kita, pak Teddy, pak Endro Lukito dan pak Martono minggu ini telah berpulang mendahului kita semua.

 

Kematian adalah hak prerogatif Allah Swt. Ia akan datang pada waktu yang telah ditetapkanNya, dan di tempat yang dikehendakiNya.   Allah Swt. berfirman: ”Dimana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, sekali pun kamu di dalam benteng yang kuat dan kokoh.” (Q.S. An Nisa’ : 78)

 

Islam mengajarkan sesungguhnya kematian bukanlah akhir dari kehidupan manusia. Kematian adalah pintu untuk memasuki kehidupan manusia selanjutnya, suatu kehidupan yang sama sekali lain dari yang sekarang kita alami, yaitu kehidupan ukhrawi.

 

Hidup itu sendiri pada hakekatnya adalah antrian menuju kehidupan yang baru melalui proses kematian. Memang sejak manusia mengenal kehidupannya, tak henti-hentinya semua berusaha mendapatkan rahasia untuk bisa terus hidup, serta mencari faktor yang dapat membuatnya langgeng.

 

Meski telah mencurahkan segenap usahanya, namun manusia tidak bisa menemukan rahasianya. Semua tunduk pada kematian dan menyerah pada panggilan ajal. Kematian sebuah keniscayaan. Cepat atau lambat, kematian itu pasti. Ia pasti datang mengakhiri semua bentuk petualangan. Dengan kematian akan melenyapkan semua bentuk kekuasaan dan kesombongan.

 

Kedudukan manusia di sisi Allah tidak ditentukan kapan dan di mana ia mati, tapi diukur bagaimana kondisi hatinya, dan apa yang dia amalkan ketika ia mendapatkan kesempatan hidup di dunia. Tempat dan waktu kematian tidak akan membawa keberuntungan. Hakikat ini harus selalu menghiasi pikiran kita. Sebab dalam keadaan apa kita mati, akan menjadi penentu prestasi kehidupan di alam keabadian.

 

Kematian mencabut kebahagiaan dan membuat takut sekalipun ia tegar dan gagah perkasa. Kematian bisa membuat makhluk hidup ini menjadi gemetar.  Padahal kematian itu hal pasti, dan pada saatnya nanti kita semua mati. Kematian itu mutlak dan keniscayaan yang harus terjadi.

 

Kematian penuh dengan misteri, teramat sulit jika hanya dilacak oleh rasionalitas dan hanya mengandalkan hal yang bersifat empiris.

 

Kematian tidak mengenal urutan NIK, pangkat atau jabatan. Yang tua tidak berarti harus mati terlebih dahulu. Tidak dapat diundur atau dimajukan. Takut pada kematian sebenarnya menyalahi fitrah. Tidak memberi manfaat apa-apa kecuali hanya membuang potensi, menghambat prestasi, dan kontra produktif.

 

Orang yang takut pada kematian hidupnya diwarnai dengan kegelisahan, kegamangan, kekhawatiran, dan tidak memiliki tanggungjawab.  Karena itu, manusia patut merenung tentang diri dan kehidupannya. Kematian pasti akan datang menjemput, lalu membawa kita menuju kehidupan yang sesungguhnya, yaitu kehidupan yang abadi. (M.A.F ; dari grup WA-VN)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

*

code