Psikologi

Susahnya Melihat Diri Sendiri

Gajah di pelupuk mata tak tampak, kuman diseberang lautan tampak. Peribahasa populer yang menggambarkan susahnya melihat ke diri sendiri. Tepatnya peribahasa itu “mengejek” kita semua bahwa hal yang berkonotasi negatif, kesalahan atau  kekurangan, susah sekali hal itu diakui sebagai kesalahan, kekurangan atau hal negatif pada diri sendiri.

 

Kita lebih suka melihat “kuman” di seberang lautan sana! Lain hal kalau berbau positif. Kata-kata,”Oh, itu ide saya. Kalau tidak ada saya, proyek itu mustahil berhasil!”. Sepertinya kalau hal-hal positif, kita akan berlomba-lomba untuk berkaca dan menunjukkan refleksi itu ke orang lain!

Hal yang biasa dan manusiawi? Memang, tetapi apa mau dengan paradigma gajah di pelupuk mata membentuk kita menjadi pribadi yang picik, egois bahkan cengeng? Picik dan egois karena tidak bisa memanfaatkan ke-berbedaan yang berangkat dari analisa diri dan situasi yang obyektif, tetapi selalu melihat kuman!

 

Cengeng karena seringkali menyingkapi suatu kesalahan, ketidakadilan atau ketidakbenaran selalu
menyalahkan “kuman”, sedangkan gajah gemuk yang beratnya berton-ton itu membebani pelupuk mata kita! Belajar melihat diri sendiri, jangan berkaca, tapi potret-lah diri sendiri!

 

Berkaca, refleksi-nya cuma sementara dan seringkali kita mudah mengingkari refleksi dari kaca itu dengan menghindar! Tetapi dengan memotret diri sendiri, refleksi-nya permanen dan bisa terus sebagai pengingat bahwa yang tergambar dalam “potret diri” itu masih memerlukan perbaikan.

Potret diri adalah wahana eksplorasi mental untuk memulai meningkatkan ’self awareness’, bila berharap untuk mampu menguasai situasi sosial atau mempengaruhi orang lain.  Tanpa melakukannya, seperti yang saya sebutkan diatas, kita akan tumbuh menjadi orang yang kian picik, egois dan cengeng! Yang seharusnya kita terus belajar menajamkan sensor untuk memahami diri dan situasi sekitar kita.

Cara yang paling mudah untuk ’memotret diri’ ini adalah dengan membandingkan diri kita dengan orang lain, memahami kesamaan, terutama persepsi dan pemahaman, kemudian mengidentifikasi keunikan serta keberbedaan orang lain.

 

Hanya dengan ketajaman mental seperti ini kita bisa mengembangkan respek terhadap orang lain. Dalam proses eksplorasi mental ini, kita pasti secara otomatis ingin merasa benar, ingin membela diri dan bahkan ingin meneruskan cara-cara kita yang lama dan yang sudah ada.

 

Hal ini sangat manusiawi karena manusia memang dibekali proses mental untuk menjaga keseimbangan jiwanya. Namun demikian, orang yang ingin memperkuat mentalnya, perlu juga ‘menilai, membandingkan, menafsirkan, mengantisipasi dan melatih input yang masuk dan mencocokkannya dengan realita, mencari kebenaran dan mengambil resiko bahwa ada kemungkinan ia harus berubah. Hanya dengan cara inilah kita sebagai manusia, berkembang menjadi manusia yang berpikiran fleksibel dan berpikiran terbuka dalam menghadapi
tantangan..

Potret diri juga merupakan langkah awal pembelajaran “emotional intelligence”. Kecerdasan atau kemampuan yang dimiliki seseorang dalam mengenali, mengelola dan mengendalikan emosi pada diri sendiri, memahami perasaan orang lain, menjalin hubungan yang baik dengan orang lain, pemecahan masalah, serta berpikir realistis.

 

Sehingga mampu berespon secara positif terhadap setiap kondisi yang merangsang munculnya emosi-emosi tersebut. Kualitas emosional dalam mengekspresikan rasa empati, mengungkapkan dan memahami perasaan, pengendalian amarah, kemandirian, kemampuan memecahkan masalah
pribadi, ketekunan, kesetiakawanan, keramahan dan sikap hormat. Yang mana kualitas-kualitas emosional tersebut sangat penting peranannya bagi keberhasilan dan kesuksesan seseorang.

Kenapa penting? Karena apabila seseorang “cerdas” dalam upaya mengenali, memahami dan mewujudkan emosi dalam porsi yang tepat, biasanya apresiasi positif akan mengikutinya. Karena bisa mengelola emosi menjadi terkendali dan dapat dimanfaatkan untuk memecahkan masalah kehidupan terutama yang terkait dengan hubungan antar manusia.
Apresiasi positif sangat diperlukan dalam suatu hubungan antar manusia bukan?. Apresiasi positif akhirnya memudahkan untuk “menglabelkan” diri kita sosok pribadi yang menyenangkan, pemecah masalah dan pribadi yang mempunyai pikiran terbuka dan fleksibel. Tinggal kita raih hasil
dari apresiasi positif itu, KESUKSESAN!

Daniel Goleman, megungkapkan bahwa ada aspek kecerdasan emosional yaitu :
1.      Kesadaran diri, yaitu kemampuan seseorang untuk mengetahui apa yang ia rasakan pada suatu saat dan menggunakannya untuk memandu dalam pengambilan keputusan bagi diri sendiri.
2.      Pengaturan diri yaitu kemampuan seseorang menangani emosinya sendiri sehingga berdampak positif terhadap pelaksanaan tugas, peka terhadap kata hati, sanggup menunda kenikmatan sebelum tercapainya suatu sasaran, dan mampu pulih kembali dari tekanan emosi.
3.      Motivasi diri, kemampuan menggunakan hasrat yang paling dalam untuk menggerakkan dan menuntun menuju sasaran, mampu mengambil inisiatif dan bertindak secara efektif serta mampu bertahan menghadapi kegagalan dan frustrasi.
4.      Empati yaitu kemampuan untuk merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain, menumbuhkan hubungan saling percaya dan mampu menyelaraskan diri dengan berbagai tipe orang.
5.      Ketrampilan sosial yaitu kemampuan untuk mengendalikan emosi dengan baik ketika berhubungan sosial dengan cermat dapat berinteraksi dengan lancar, menggunakan ketrampilan ini untuk mempengaruhi, memimpin, bermusyawarah, menyelesaikan permasalahan dan bekerja sama dengan tim.

Tidak ada salahnya untuk memulai itu semua, diawali pembiasaan diri kita untuk lebih “mendengar” terlebih dahulu daripada “berbicara”. Karena apa yang kita yakini, ketahui atau dikehendaki tidak selalu sama dengan apa yang dipersepsikan orang luar terhadap diri kita.
Karena dari “mendengar” memudahkan kita untuk menganalisa dan disesuaikan dengan persepsi orang luar terhadap kita. Dengan “berbicara” terlebih dahulu, biasanya persepsi kita akan lebih dominan ditembakkan ke orang lain, yang nantinya malah terkesan “asbun” (asal bunyi) atau “omdo” (omong doang). Dan biasakan instropeksi terlebih dahulu dalam menyingkapi suatu masalah. Siapa tau masalah itu datang karena EGO kita!

So, masih kuat menggendong gajah di pelupuk mata? (Tjahjanto; Copas dari milis tetangga)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.




Enter Captcha Here :

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close
Close