Hobi danKetrampilan

Loh Jinawi

Puluhan tahun yang lalu, saat Wayang Kulit masih menjadi satu-satunya tontonan yang bisa menyedot ribuan penonton, saya sudah mendengar gambaran ki Dalang tentang sebuah negeri yang
“tata tentrem kartaraharja, gemah ripah loh jinawi, subur kang sarwo tinandur, murah kang sarwa tinuku, bebek ayam rajakaya, enjang medal ing pangonan, sonten bali ing kandange dewe-dewe”

Gambaran negeri yang demikian itu masih relevan hingga saat ini, setidaknya apa yang saya lihat di desa-desa di Tempel Sleman. Tanahnya subur, tidak henti-hentinya dialiri air, dibajak, ditandur, dipanen, di bajak lagi dan seterusnya.

 

Tanaman yang ditanam-pun beragam jenisnya bukan hanya padi, melainkan cabe, tomat, melon, tembakau dan masih banyak ragamnya. Di banyak tempat, sampai tebing Merapi, mereka menanam Salak, tanamanin-situ (yang asli local dari kawasan itu), selain menghasilkan buah yang produktif, juga menjaga kelestarian tanah dan menjaga kestabilan tanah dari ancaman longsor.

Penduduknya tidak kekurangan makanan, terbukti pohon rambutan yang bagaikan lautan memerah di hampir semua halaman rumah tidak ada pencuri. Kelapa banyak yang jatuh karena tua, bahkan sampai tumbuh bersemi. Jambu, pepaya-pepaya yang matang seakan disediakan untuk tupai atau kelelawar, penduduk sudah kenyang. Pisang (kecuali pisang raja, yang ada cerita tersendiri) lebat dalam tandanan yang panjang.

Penganan, sayuran, jajanan murah. Dengan seribu rupiah kita bisa memperoleh 4 potong tempe bungkus, cukup untuk sarapan. Sayuran tidak lebih dari dua ribu per ikatnya. Warung atau penjual di pasar yang mencoba menaikan harga semena-mena tentu akan dijauhi oleh pembelinya.

Cerita mengenai ternak. Ayam kampung Jogya dari jenis turunan Ayam kedu yang tersohor itu. Posturnya serasi, cantik betinanya dan gagah si Jagonya. Mereka dibiarkan mencari makanan sendiri
berkeliaran, menangkap serangga, ulat di kebun atau mengais sisa-sisa panen padi. Gemuk-gemuk, sehat dan menyenangkan.

 

Ayam kedu terkenal telurnya banyak dan pandai merawat anak-anaknya yang ramai berciap-ciap. Dan betul juga kata ki Dalang, puluhan tahun bahkan ratusan tahun yang lalu, saat senja, ayam, mentog ini pulang sendiri-sendiri ke kandang masing-masing.

Saat senja, matahari temaram di ufuk barat, gelap malam mulai bergayut menyelimuti kampung, pintu-pintu ditutup, suasana sepi nyenyet seakan member kesempatan kita untuk beristirahat dengan nyenyak, guna bangun saat subuh dan memulai hari baru untuk mencari rejeki kembali. (Salam, SH; http://fundamen40.blogspot.com; Jogya memang cocok untuk pensiunan)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.




Enter Captcha Here :

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close
Close