Psikologi

Kisah tukang batu

Di masa kerajaan di negeri Cina, seorang raja bergembira dengan cara menyelenggarakan sayembara untuk menemukan orang terbaik di bidang tertentu. Kali ini raja melombakan untuk menemukan pemecah batu terkuat, dari seluruh negeri dengan lomba memecah batu besar.

 

Aturannya peserta harus berprofesi sebagai pemecah batu, aturan kedua peserta hanya boleh menghantamkan palunya sekali ke batu. Siapa yang mampu memecahkan batu berkeping-keping maka ialah pemenangnya dan dihadiahi rumah, tanah dan ternak.

 

Pagi itu di alun-alun kerajaan berkumpul semua pemecah batu yang merasa terkuat datang dari seluruh pelosok negeri untuk memenangkan sayembara itu. Seorang pemecah batu dengan postur tubuh yang terbesar dan kekar maju lebih dahulu.

 

Dengan angkuh dan percaya diri ia mendekati batu. Peserta lain khawatir ia akan jadi pemenangnya. Tapi apa daya, si pemecah batu yang kekar itu beruntung karena mendapat kesempatan pertama. Setelah menggemertakkan jari tangannya ia menggenggam palunya lalu mulai mengayunkan palu ke arah batu dengan sikap yang yakin bahwa batu akan segera pecah. Bang!!! Palu menghantam batu. Dan…. Batu tak bergeming. Raja menyungging senyum. Ia senang batunya masih utuh.

 

Akhirnya peserta terkejut dengan kegagalan si pemecah batu yang kekar itu, sebagian dari mereka bersemangat untuk maju sementara sebagian lagi mulai ragu2. Mereka merasa lebih buruk dari si pemecah batu kekar tadi.

 

Sayembara tetap berlangsung. Satu demi satu pemecah batu bergantian menghantamkan palunya. Dengan kekuatan, teknik, keahlian mereka. Tetap saja batu itu tak bergeming. Utuh bagai tak tersentuh. Peserta terakhir adalah seorang pemecah batu yang sederhana.

 

Tubuhnya tidak kekar. Sejak pagi ia tidak antusias. Ia mendapat urutan terakhir. Yang menyaksikan menatapnya dengan tatapan cemooh, termasuk raja yang tampaknya dari peserta ke peserta ia hanya bertambah puas dan puas dan tahu kalau batu ajaibnya tak terkalahkan.

 

Setelah menghormat raja pemecah batu bernafas panjang, ia tampak tenang. Lalu dengan segenap usahanya ia menghantamkan palunya. Suaranya jauh lebih keras dari suara yang ditimbulkan palu peserta lain. Karena suara itu berasal dari suara hancurnya si batu menjadi berkeping-keping.

 

Tidak ada suara riuh kemenangan yang ada adalah keheningan dan orang tercengang. Suara lantang sang penasehat yang memecah kesenyapan. Dengan suara lantang mengumumkan bahwa si pemecah batu inilah pemenangnya.

 

Tapi ia menghampiri raja yang tercengang, “Yang Mulia… Bukan hamba yang memecahkan batu itu. Yang membuat batu itu menjadi berkeping adalah hantaman demi hantaman dari setiap pemecah batu yang pernah menghantamnya. Mereka semua tidak gagal. Mereka semua berhasil.

 

Saat mereka menghantam, batu itu mengalami keretakan di dalam, meski kecil. Kita tidak bisa melihat dari luar. Maka bagikanlah hadiah sayembara ini kepada tiap orang yang menghantamkan palunya ke batu itu.” Lalu iapun undur diri dan meninggalkan arena sayembara.

 

Apa pesan moral dari cerita ini

Tidak ada peta siap pakai untuk kehidupan yang kita jalani ini. Kita sendirilah yang harus menggambar peta itu secara sadar &  sesuai dengan nilai-nilai hidup yang kita yakini bisa membuat kita bahagia secara lahir maupun batin.

 

Untuk itu tidak ada  “peta sukses” yang sama setiap orang. Kembali kita sendiri yang menggambar “peta sukses” untuk diri kita. Kita sendiri juga yang harus meracik resep untuk jalan keluar dari masalah yang kita hadapi.

 

Saat kita berupaya mencari solusi atas masalah kita. Ingat kisah pemecah batu. Kita tidak pernah tahu batu (masalah) kita akan terburai pada hantaman ke berapa, untuk itu tetaplah menghantam. Jangan pernah berhenti. Jangan menyombongkan diri pada hantaman yang meluluh lantakkan batu masalah, karena bukan pukulan terakhir itu yang menjadi pil ajaib. Melainkan adalah keseluruhan rangkaian proses kita untuk menyelesaikan masalah.

 

Saat kita sedang menjalani proses, ingatlah upaya itu pasti membuahkan hasil. Kita tidak gagal. Sama seperti batu tadi, sesungguhnya ia sudah retak di dalam. Yang kita butuhkan adalah kita menghantam lagi sehingga retakan di dalam itu keluar dan menghamburkan batu masalah kita menjadi berkeping-keping dan kita bisa melanjutkan perjalanan kita kembali.

 

Ingat masalah tidak pernah muncul dalam satu hari. Sebenarnya ia muncul karena tumpukan-tumpukan sampah kecil yang lalai kita perhatikan dan bersihkan. (Andre W)-FatchurR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Lihat Juga
Close
Back to top button
Close
Close