Psikologi

Bukan Keluarga Biasa(3/6)

(duniaarie.blogspot.com)- 3-Pendapat Malcolm

Malcolm tak setuju pada pendapat, orang sukses karena faktor yang ada dalam dirinya sendiri seperti kepribadian (personality) dan kecerdasan (intelligence). Paradigma lama mengatakan driving force sukses adalah pada faktor individual. Padahal, kita bisa sukses yang makin banyak dengan cara mencari lingkungan yang memungkinkan orang-orang meraih kesuksesan.

 

Bisa dari budaya yang ada di sekitarnya dan orang tuanya hidup dan memberi ruang. “Successfull people are people who have made the most of series of gifts that have been given to them by their culture and their history,” Malcolm menjelaskan.

Orang sukses sebagai outlier itu memiliki sejarah dan budaya yang mendukung dan mengantarkannya jadi orang atau keluarga sukses. Premis Malcolm, kalau ingin sukses, bukan semata mengandalkan intelijensi, tapi juga menciptakan budaya dan lingkungan yang kondusif, termasuk budaya dan lingkungan keluarga (orang tua).

Malcolm mengambil contoh Bill Gates, orang terkaya dunia saat ini. Sejarah Bill menunjukkan, wajar dan masuk akal bila dia sukses berbisnis dan jadi superjenius komputer. Ketika usianya 13 (1969), Bill sudah belajar di private school di Kota Seattle yang punya ruang komputer dengan mesin ketik jarak jauh dan terhubung dengan mainframe.

 

Siapa saja bisa mengutak-atik (bermain-main) dengan masin ketik jarak jauh itu dan bisa melakukan programming secara real-time. “Saat itu, 99% universitas di AS belum punya alat ini,” kata Malcolm.

Ketika usia (15), Bill dan mitranya Paul Allen mendapati kenyataan ada mesin komputer mainframe di Universitas Washington yang menganggur setiap pukul 2 dinihari sampai 6 pagi. Keduanya lalu bangun pada jam fajar itu dan mengutak-atik pemrograman. Pemuda lain tak melakukan karena tidak mendapati fasilitas itu, atau setidaknya tidak tahu.

 

Jadi, di usia itu Bill rutin belajar programming 4 jam per hari. Tak mengherankan, ketika usianya (20), dia punya pengalaman yang jauh lebih banyak ketimbang orang lain sehingga posisi start-nya jauh lebih bagus ketimbang pelaku lain ketika bisnis komputer mulai booming.

Kesempatan, lingkungan dan sejarah mengantarkan Bill sebagai jago programming hingga lahirlah Microsoft yang membawanya terbang kaya raya. Malcolm hanya ingin menjelaskan, ada faktor sejarah dan lingkungan — termasuk lingkungan keluarga dan orang tua — yang menjadi driving force kesuksesan.

 

Tampaknya, pandangan Malcolm itu relevan untuk menjelaskan realitas keluarga sukses di Indonesia. Mungkin bisa mengambil contoh keluarga Sri Mulyani yang 9 saudaranya dan dia berkarier dengan baik di bidang masing-masing dan rata-rata lulus S-2 dan S-3.

Menurut Mbak Ani, (Sri Mulyani), sejak dini ortunya membiasakan anaknya “bersuara”, menceritakan yang dialami hari itu. Tiap anak cerita, bapak-ibunya juga, cerita pekerjaan. “Jadi, kami terbiasa dengan cerita ortu tentang rekannya bila ada masalah, atau mahasiswa mahasiswa : Pintar  bego, kurang ajar, dan yang perlu dikasihani. Dari situ muncul nilai-nilai yang bisa diambil sebagai pelajaran,” tutur Sri.

Contoh lain, kebiasaan membaca yang ditanamkan dari kecil dan dijadikan hobi. “Kalau pagi datang koran Suara Merdeka, kami rebutan membacanya. Juga majalah seperti Kuncung dan Gadis,” katanya. Bahwa rata-rata anaknya berkembang jadi artikulatif (pandai berbicara), itu karena orang tuanya mengondisikannya dari kecil.

Pola itu ada kemiripan dengan keluarga Noto Husodo Widodo. Joyce, putri drg. Noto yang dokter gigi, lingkungan keluarga yang diciptakan ayahnya mendorong anak-anaknya jadi dokter gigi. Tempat tinggal ayahnya sekaligus tempat praktik. Anaknya semasa kecil biasa menghabiskan waktu di klinik sehingga akrab dengan peralatan kedokteran gigi. Bahkan, belajar dan mengerjakan PR juga di klinik.

Ayahnya sering “menghukum” dirinya di dalam klinik. Terus, bila musim liburan tiba, sering membantu praktik dengan membersihkan peralatan. Karena sering melihat praktik, dia terbiasa. Ketika Joyce kuliah, juga kini, obrolan tiap bertemu ayahnya — misalnya saat makan bersama — tak jauh-jauh dari dunia dokter gigi. “Papa sering menceritakan kasus yang dia temukan,” kata Joyce.

 

(Arie Fiantisca; Bahan dari : http://duniaarie.blogspot.com/2009/08/mereka-bukan-keluarga-biasa.html; Dikutip dari situs http://www.swa.co.id/swamajalah/sajian/details.php?cid=1&id=8629-FatchurR * Bersambung ………

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Lihat Juga
Close
Back to top button
Close
Close