Kristiani dan Hindu

Musuh kita adalah diri sendiri

“…”Barangsiapa menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku; dan barangsiapa
menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku…” – Lukas 9:48
Saudari-saudaraku yang terkasih di dalam Kristus, tatkala yang mustahil terjadi dalam hidup kita,
Allah sebenarnya sedang memberi penguatan agar iman kita semakin teguh. “Sebab bagi Allah tidak
ada yang mustahil” (Luk 1:37).

 

Selain itu, Allah juga ingin menegaskan: “Hal-hal yang lebih besar lagi akan kau lihat” (Yoh 1:50). Yesus bahkan berkata: “Barang siapa percaya kepada-Ku, akan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sama seperti yang Ku-lakukan; ia bahkan akan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada
ini” (Yoh 14:12).

 

Allah ingin iman kita semakin dewasa sehingga berkelimpahan buah. Tetapi, ajaran dunia berusaha meruntuhkan iman anak-anak Allah dengan menyuruh melihat sesame sebagai ancaman. Kita disuruh menghalalkan ketamakan, kedengkian, mau menangnya sendiri, mencari pujian, melakukan pembenaran atas kesalahan yang dibuat, suka bertengkar, bergosip, dan membanding-bandingkan tentang siapa yang paling terbesar atau terhebat (Luk 9:46).

 

“Orang berdosa menolak teguran, dan akan menemui dalihnya untuk menuruti kehendak sendiri” (Sir
32:17). “Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat” (Yoh 3:19).

 

Padahal, Tuhan sudah member perintah utama-Nya yang kedua, yaitu: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mat 22:39). Santo Fransiskus dari Assisi mengingatkan: “Tidak ada satu pun orang yang layak kita disebut sebagai musuh, yang ada adalah penolong dan tidak berbahaya. Kamu tidak memiliki musuh kecuali dirimu.”

Sebagai pengikut Kristus, kita terbiasa memohon yang sudah diajarkan-Nya: “Berikanlah kepada
kami hari ini rezeki yang kami perlukan” (Mat 6:11). Kita juga tidak lupa memohon agar Allah
menambahkan iman sehingga semakin mampu melangkah seturut kehendak-Nya (Luk 17:5).

Inilah permohonan terbaik dari segala permintaan, seperti yang diungkapkan Rasul Paulus: “Sementara manusia lahiriah kami binasa, namun batin kami dibarui dari hari ke hari. Derita ringan yang segera akan berlalu menyiapkan kami untuk harta kemuliaan yang sedemikian besar” sehingga “tidak lagi memperhatikan hal-hal yang kelihatan, tetapi hal-hal yang tidak kelihatan” (2Kor 4:16-18).

 

Kita bertekun dalam “Kitab Suci” agar dituntun “kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus” (2Tim 3:15); rajin mendoakan keluarga, saudara seiman, dan sesama agar Allah berkenan mengampuni, berbelas kasihan, dan sudi mengabulkan permohonan mereka (1Tim 2:1); sambil mempersembahkan hidup kita sebagai “persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah” (Rm 12:1).

 

Dengan begitu, kita menyerupai Yesus karena tidak mementingkan diri dan mau jadi
perantara bagi orang (1Yoh 2:1; Ibr 7:25). Kita akhirnya sampai pada alasan yang termulia
dalam memohon, yaitu: “menjadi seperti anak kecil” (Luk 9:48); karena seluruh permohonan
dikembalikan seturut kehendak Allah, seperti diajarkan Yesus: “terjadilah kehendak-Mu” (Mat
6:10).

 

“Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Luk 18:14). Amin. (with Justinus DarmonoVeronica Partini Vicandayu Ofs)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Enter Captcha Here :

Back to top button
Close
Close