Psikologi

Memerah susu

Jauh di dusunku yg sunyi, tempatku menata hati, tempatku mengayuh biduk kehidupan,
dalam belai lembut angin malam, di bawah temaramnya sinar rembulan, yang memberi kesyahduan…..
Hatiku teruntai beribu makna cinta, kala kubelai punggungmu, kuusap lembut dadamu,…..
kau kerdipkan mata padaku tanda setuju, damaikah kamu ?

mesrakah nuansa hatimu ? kuberanikan jemariku, mengelus kelembutan bukit-bukitmu,
tiada lagi jengah dan malu, kita menyatu……….
sedikit kau renggangkan pangkal pahamu, semakin memberikan keberanian buatku,
sungguh kaunikmati mesraku pada keindahan bukit-bukitmu, tanpa desah kelu dan sesal . . .

perlahan mulai keluar cairan putih itu, tiada penyesalan….
dan kutampung cairan putih itu dalam kepuasan dan . . . . . jadilah beberapa gelas susu segar yang didamba banyak insan….
trimakasih sapi perahku…….

trimakasih telah kau sediakan banyak nutrisi,
buat banyak balita dan saudaraku warga manusia.
(Andreas Rapih Indarto; terinspirasi kisah pemerah susu di peternakan sapi)-FatchurR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.




Enter Captcha Here :

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Lihat Juga
Close
Back to top button
Close
Close