Islam

Lagi, Puasa Ramadhan membentuk karakter

Secara syariat, ibadah puasa merupakan kewajiban bagi muslim dalam rangka mencapai ketaqwaan. Ditinjau dari aspek pendidikan, ibadah puasa merupakan proses penanaman pendidikan karakter pribadi muslim.

Ibadah puasa bukan hanya sekadar menahan segala yang membatalkan dan mengurangi kualitas puasa, namum lebih jauh bulan Ramadan bagaikan lembaga pendidikan yang mengajarkan pada setiap pribadi muslim untuk memiliki karakter mulia.

Dalam surat Al-Baqarah ayat 183 dijelaskan tujuan puasa, mencapai taqwa. Seruan puasa ditujukan kepada orang beriman: ‘’Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu menjadi orang yang bertaqwa.’’

Sebagai lembaga pendidikan, Ramadan memberi berbagai nilai edukasi bagi terbentuknya karakter insan paripurna. Di antara nilai-nilai pendidikan kaakter yang terangkum dalam ibadah puasa dapat dilihat dari beberapa aspek, yaitu :

Pertama, Ramadan sebagai lembaga pendidikan. Ada empat klasifikasi Ramadan sebagai lembaga pendidikan bagi umat Islam, di antaranya: Umat yang tak pernah menginginkan sekolah Ramadan. Indikatornya dapat dilihat keengganan untuk melaksanakan puasa setiap datangnya Ramadan.

Kemudian, umat masuk sekolah Ramadan, namun mereka turun kelas. Indikatornya ibadah puasa yang dilakukan tahun ini lebih buruk kualitasnya dibanding puasa tahun lalu. Selanjutnya, umat yang tinggal kelas. Indikatornya kualitas ibadah puasa tahun ini sama saja dengan puasa tahun yang lalu.

Terakhir, umat yang naik kelas. Indikatornya kualitas ibadah tahun ini lebih meningkat dibanding puasa tahun yang lalu. Pertanyaan yang perlu dijawab oleh setiap individu yang melaksanakan puasa, di manakah posisinya dari keempat posisi yang ada.

Kedua, puasa melatih pelakunya untuk bisa merasakan penderitaan orang yang kesusahan. Nilai ini bukan hanya sekader merasakan dalam aspek ekonomi, akan tetapi pada aspek yang lebih luas, seperti: Meletakkan diri pada kesetaraan sebagai makhluk Allah.

Apapun yang dimiliki hanya sebatas fasilitas yang diberikan Allah agar digunakan untuk membangun kemashlahatan umat manusia. Derajat, kedudukan, kekayaan, dan kehebatan duniawiyah lainnya tidak menjadi tembok pemisah antar sesama hamba Allah dan membuat dirinya merasa menjadi raja.

Bila keserakahan, kezaliman dan kesombongan justeru yang terbagun bagaikan tembok nan kokoh, maka berarti pendidikan Ramadan tak berhasil membangun karakter diri sebagai hamba Allah yang mulia. Semakin banyak kesempatan puasa Ramadan yang Allah berikan, namun semakin banyak kezaliman dan kejahatan yang dilakukan.

Pribadi yang demikian sesungguhnya telah tertipu dengan aksesoris dan hanya melaksanakan puasa sebatas syariat belaka. Ianya belum mampu memetik nilai tertinggi dari pendidikan puasa yang diprintahkan Allah padanya. Jika hal ini terjadi, maka merugilah diri karena hanya menampilkan asesoris puasa, dan belum menikmati isinya puasa.

Ketiga, puasa melatih untuk sabar dan saling memaafkan. Ibadah puasa mendidik manusia untuk sabar terhadap hal-hal yang membatalkan dan merusak ibadah puasa. Melalui kesabaran, manusia didik untuk bisa melihat sesama sebagai bahagian keluarganya dan bisa memaafkan kesalahan saudaranya sebelum ia dimintai maaf.

Keempat, puasa melatih diri untuk memiliki sikap qanaah dan keikhlasan atas ketetapan Allah. Puasa melati manusia untuk menerima ketetapan Allah dalam wujud kesyukuran. Bayangkan, tatkala sebelum berbuka puasa, nafsu mendorong keinginan untuk memenuhi berbagai keperluan.

Namun, ternyata setelah waktu berbuka tiba, hanya sebutir kurma dan seteguk air mampu menepis semua keinginan sebelum berbuka. Hal ini mengajarkan manusia agar qanaah atas ketetapan Allah. Sebab, ternyata keinginan hanya sebatas fatamorgana.

Tatkala waktunya tiba, keinginan yang besar tersebut tidak diperlukan sebesar sebelum mendapatkannya. Dengan sikap qanaah, manusia dilatih untuk selalu berbaik sangka pada Allah dan ikhlas atas semua ketetapan Allah. Sebab, tak semua yang diinginkan manusia merupakan yang terbaik menurut Allah untuk manusia. Hanya yang Allah tetapkanlah sebenarnya yang terbaik bagi manusia.

Kelima, puasa melatih diri untuk disiplin dengan waktu sebagai implementasi QS al-Asr: 1-4. Puasa melatih manusia hidup sesuai aturan dan menghargai waktu. Hanya pada saat puasa manusia disiplin dalam menggunakan waktu.

Saat menunggu berbuka, begitu datang waktunya, tak sedetikpun manusia ingin memperlambatnya. Makan yang diatur melalui berbuka dan imsak (awal menahan). Tatkala sikap taat waktu yang diajarkan oleh ibadah puasa mampu diterapkan pasca Ramadan, maka manusia akan hidup dalam keteraturan dan menghargai waktu secara bijak.

Namun, tatkala kedisiplinan hanya mampu diterapkan selama Ramadan dan pasca Ramadan kembali pada ketidakdisiplinan, berarti manusia telah gagal mendidik diri dengan karakter yang mulia.

Keenam, puasa melatih diri untuk bersikap jujur dalam pengawasan Allah. Puasa melatih manusia untuk bersikap jujur dengan dirinya.

Meskipun makanan terhidang di depan mata dan tak ada orang yang akan melihat, namun manusia tidak mau memakannya karena dorongan keyakinan bahwa meski tidak ada orang yang melihat, namun Allah Maha Melihat.

Ia hidup dalam pengawasan Allah yang tak pernah alpa meski sedetik jua. Tatkala nilai ini mampu diterapkan pasca Ramadan, betapa indahnya kehidupan ini.

Tidak akan pernah ada manusia yang dilatih oleh puasa berperilaku negatif, meski kesempatan itu ada dan tak seorangpun yang tahu.

Seperti tindakan korupsi yang menjadi penyakit kronis stadium empat bagi bangsa ini, hanya akan mampu dihancurkan tatkala prinsip puasa dan nilai kejujuran yang dilatih selama Ramadan mampu diterapkan dalam kehidupannya.

Berpijak pada nilai-nilai tarbiyah yang dikemas Allah dalam ibadah puasa di atas terimplementasi dalam kehidupan, maka yang muncul adalah turunnya rahmat Allah. Namun, yang terjadi justru sebaliknya.

Puasa yang dilaksanakan hanya sebatas rutinitas dan dalam wujud syariah belaka. Puasa seakan tak mampu membekas dalam diri manusia pasca Ramadan. Hal ini bisa terlihat jelas setelah Ramadan meninggalkan kita.

Manusia kembali ke habitat tradisi dan karakter asli dirinya jadi manusia rakus, sombong, takjub melihat diri, tak sabar, tak pernah menghargai waktu berbuat kebajikan, tak puas dengan apa yang diperoleh, secara sadar dan kasar mengambil hak orang lain secara zalim, dan tak pernah jujur atas dirinya.

Jangankan tak dilihat oleh sesama manusia, bahkan secara terang-terangan berkoalisi sejara kolektif untuk melakukan kejahatan.

Meski manusia mampu memakai asesoris diri untuk mengelabui orang lain guna menutupi kejahatan yang dilakukan dengan atribut-atribut kesalehan semu nan menipu, namun tatkala bertanya pada hati yang jujur, maka kebenaran dan kesalahan akan terasa secara nyata.

Retorika apapun bisa digunakan untuk membenarkan kesalahan menjadi sebuah kebenaran, apalagi dengan dalih demokrasi yang mengedepankan suara mayoritas yang diformat rapi. Namun, kesemua itu tak akan bisa bertahan lama.

Sebab, bagaikan minyak dan air tak akan pernah menyatu dalam suatu kesatuan, demikian pula kebenaran dan kesalahan. Namun, kondisi ini semakin diperparah tatkala hati kejujuranpun sudah mati akibat kerakusan diri.

Tatkala hal ini terjadi, maka apa bedanya manusia dengan hewan. Mungkin hewan jauh lebih baik dengan memberikan kebermanfaatan pada manusia.

Persoalannya, di manakah posisi kita tatkala melihat keenam indikator di atas. Pernahkah kita mengintrospeksi diri atas apa yang kita lakukan. Atau mungkin kita tak punya waktu lagi untuk merenung akibat keserakahan yang dominan menguasai diri.

Ramadan tanpa terasa semakin meninggalkan kita, namun sejauh manakah Ramadan telah menjadi tempat efektif mendidik karakter diri.

Hanya dengan hati yang selalu terpelihara, jawaban atas pertanyaan akan bisa dilayangkan untuk dijawab dengan kebenaran. (H Samsul Nizar Ketua STAI Al-Kautsar Bengkalis; http://riaupos.co/2147-opini–pembentukan-karakter-.html#.VX3wVFLp9oc)-FatchurR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Lihat Juga
Close
Back to top button
Close
Close