Psikologi

Arti juara

Juara, bisa jadi semua orang ingin jadi seorang juara namun apa arti juara itu ? Disini kita akan bahas arti juara dan bagaimana menjadi juara. Banyak definisi juara dari para ahli namun kita belum mengetahui apa arti juara itu. Juara adalah seseorang yang dapat menggunakan mentalnya dari keadaan di bawah dan dapat mengubah posisinya menjadi di atas.

 

Seorang juara juga harus bisa mempertahankan yang telah ia dapatkan dan mebuatnya jadi lebih baik. Tidak ada kata putus asa di dalam diri sang juara. Walau ia pernah merasakan berada di posisi atas dan tiba2 jatuh karena kesalahannya sendiri ia dapat kembali bangkit dengan mental bajanya yang membuat ia kembali lagi menjadi seorang juara sehingga tidak ada kata “Putus Semangat” dalam dirinya.

 

Selalu rendah hati dan tidak menyombongkan diri adalah sifat2 sang juara sejati. Tidak iri melihat kawannya berhasil justru ia berfikir bagaimana ia dapat sukses seperti mereka melalui jalan dan usaha ia sendiri. Sang juara juga akan selalu mengalami pengalaman yang pahit dalam hidupnya.

 

Dari pengalaman pahit itu ia dapat mengambil pelajaran dari kesalahannya dan mencoba tidak jatuh di lubang yang sama. Tidak menganggap enteng hal2 yang ia telah kuasai, ia terus belajar dan belajar walau ia sudah bisa. Juara sejati adalah dia yang dapat mengatur waktu secara baik dalam membagi waktu antara dia harus belajar dan waktu dia untuk bersantai.

 

Bertindak aktif dan bermanfaat bagi orang banyak merupakan kapasitas juara yang sangat diimpikan, percuma jadi seorang juara tapi tidak bermanfaat. Kejujuran seorang juara tak kalah pentingnya dalam membangun diri menjadi juara. Jujur adalah salah satu aspek yang dapat membawa ia nyaman dimana-mana. Tidak pernah menyontek, menyalin karya orang lain, dan lain sebagainya.

 

Ia akan selalu mencoba membuat inovasi2 baru dan berusaha bekerja jujur. Tidak pelit ilmu dengan temannya yang belum mengerti. Dia dapat membagi ilmu bermanfaat kepada teman2nya sehingga teman2nya juga dapat mengerti seperti dia. Yang terpenting untuk pegangan seorang juara adalah sang juara tidak akan pernah takut mengalami kekalahan dalam persaingan.

 

Dari sisi itu sang juara mengembangkan mental pribadi yang kuat. Sang juara tak pernah ber-malas2an mengerjakan tugas2 dan selalu disiplin tinggi. Optimisme jadi nilai plus buat sang juara. (by KhanifFP ; https://translate.google.com/translate?hl=en&sl=id&u=http://efnisakinah.blogspot.com/&prev=search)-FatchurR

————-

 

Sajian lainnya, silahkan saja :

  1. Beban
  2. Nasehat ibu
  3. Bob sadino (1933-2015)

————

 

Beban
Suatu siang Sadhu Sundar berjalan di Himalaya bersama temannya. Cuaca buruk dan dingin. Sore tiba dengan cepat dan temannya memperingatkan, mereka harus tiba di tujuan sebelum malam. Ketika melewati jalan setapak di atas jurang kecil, mereka dengar rintihan, pria telah jatuh dan luka parah.

Teman Sadhu “Jangan berhenti. Tuhan menempatkan dia dalam karmanya. Ia harus menyelesaikan sendiri. Mari kita bergegas sebelum kita juga mati.”
Sadhu menjawab, “Tuhan mengirimkan aku ke sini untuk menolongnya. Aku tidak bisa mengabaikan”
Sadhu menuruni jurang, sementara temannya melanjutkan perjalanan.

Ternyata pria itu tidak bisa jalan karena patah kaki. Sadhu mengikat orang itu di punggung dengan mantelnya. Mulailah ia merangkak naik dengan penuh penderitaan. Tiba di jalan setapak, Sadhu telah mandi keringat. Dengan susah payah ia menembus kegelapan dan salju tebal . Ia berusaha kuat walau hampir pingsan kelelahan.

Akhirnya ada cahaya lampu. Mendadak ia hampir jatuh tersandung. Sadhu berlutut dan menyingkirkan salju, ternyata ia tersandung tubuh rekannya yang mati membeku kedinginan. Sadhu selamat justru karena ia menolong pria asing itu. Dengan menggendong beban berat, Sadhu berkeringat. Dan ketika tubuh Sadhu bersentuhan dengan tubuh pria itu, tubuh mereka berdua menjadi hangat.

Lama setelah itu, seorang murid tanya ke Sadhu, “Apa yang tersulit didunia ini?” Sadhu menjawab, “Tidak memiliki beban untuk dibawa.” Memiliki beban ternyata membuat kita “hidup.”

Bukan beban dosa atau akibat kesalahan kita, tapi orang tua yang perlu dirawat, pasangan yang sulit, anak yang bermasalah dll. Pengorbanan kita bagi orang lain, justru menolong kita. Tuhan dapat mengubah sebuah beban menjadikarunia. (Muchisam; dari Grup WA-72)-FR

————

 

Nasehat ibu
Pagi itu anak gadis tanya ke ibunya : “Ibu, selalu terlihat cantik. Aku ingin seperti Ibu, gimana caranya”
Dengan tatapan lembut & senyum haru, jawab Ibu, “Untuk bibir menarik, ucapkan perkataan yang baik.”
“Untuk pipi yang lesung, tebarkanlah senyum ikhlas kepada siapa pun…”
“Untuk mata yang indah menawan, lihatlah selalu kebaikan orang lain…”

“Untuk tubuh yang langsing, sisihkanlah makanan untuk fakir miskin…”
“Untuk jemari tangan lentik menawan, hitunglah kebajikan yang telah diperbuat orang kepadamu…”
“Untuk wajah putih bercahaya, bersihkanlah kekotoran batin…”

“Anakku.. Janganlah sombong akan kecantikan fisik karena itu akan pudar oleh waktu.
Kecantikan perilaku tidak akan pudar walau oleh kematian.
~Biasakan ucapkan 4 kata kepada siapapun dengan santun: Terima Kasih, Maaf, Tolong, dan Permisi.

~Jika kamu BENAR, maka kamu tidak perlu marah.
~Jika kamu SALAH, maka kamu wajib minta maaf.
~Kesabaran dengan keluarga adalah KASIH.
~Kesabaran dengan orang lain adalah HORMAT.

~Kesabaran dengan diri sendiri adalah KEYAKINAN.
~Kesabaran dengan TUHAN adalah IMAN.
~Jangan terlalu mengingat masa lalu, karena hal itu akan membawa AIR MATA.
~Jangan terlalu memikirkan masa depan, karena hal itu akan membawa KETAKUTAN.

~Jalankan saat ini dengan senyuman, karena hal itu akan membawa KECERIAAN !
~Setiap ujian dalam hidup ini bisa membuat kamu pedih atau lebih baik.
~Setiap masalah yang timbul bisa menguatkan atau menghancurkan.
~Pilihan ada padamu, apa kamu pilih menjadi korban atau pemenang.

~Carilah hati yang indah dan bukan wajah yang cantik.

~Hal-hal yang indah tidak selalu baik, tapi yang baik akan selalu indah. (Djoko Budi Santoso; dari grup WA-VN)-FR

———-

 

Bob sadino (1933-2015)
*** Membawa selusin bodyguard bukan jaminan keamanan. Tapi rendah hati, ramah, dan tidak mencari musuh, itulah kunci keamanan.
*** Obat dan vitamin bukan jaminan hidup sehat. Jaga ucapan, jaga hati, istirahat cukup, makan dengan gizi seimbang dan olahraga yang teratur, itulah kunci hidup sehat.

*** Rumah mewah bukan jaminan keluarga bahagia. Saling mengasihi, menghormati, dan memaafkan, itulah kunci keluarga bahagia.
*** Gaji tinggi bukan jaminan kepuasan hidup. Bersyukur, berbagi, dan saling menyayangi, itulah kunci kepuasan hidup.

*** Kaya raya bukan jaminan hidup terhormat. Tapi jujur, sopan, murah hati, dan menghargai sesama, itulah kunci hidup terhormat.
*** Hidup berfoya-foya bukan jaminan banyak sahabat. Tapi setia kawan, bijaksana, mau menghargai, menerima teman apa adanya dan suka menolong, itulah kunci banyak sahabat.

*** Kosmetik bukan jaminan kecantikan. Tapi semangat, kasih, ceria, ramah, dan senyuman, itu kunci kecantikan.
*** Satpam dan tembok rumah yang kokoh bukan jaminan hidup tenang. Hati yang damai, kasih dan tiada kebencian itulah kunci ketenangan dan rasa aman.

*** Hidup kita itu sebaiknya ibarat “bulan & matahari”—dilihat orang atau tidak, ia tetap bersinar. Dihargai orang atau tidak, ia tetap menerangi. Diterimakasihi atau tidak, ia tetap “berbagi”.
*** Jika Anda bilang Anda susah, banyak orang yang lebih susah dari Anda. Jika Anda bilang Anda kaya, banyak orang yang lebih kaya dari Anda. Di atas langit, masih ada langit. Suami, istri, anak, jabatan, harta adalah “titipan sementara”. Itulah kehidupan.

*** Nikmatilah hidup selama Anda masih memilikinya dan terus belajar untuk bersyukur dengan keadaanmu! Karena Anda tidak akan tahu kapan Sang Pemilik Raga akan datang dan mengatakan pada Anda, “Ini saatnya pulang!”—memaksa Anda meninggalkan apa pun yang Anda cintai, dan Anda banggakan, serta sombongkan. (SSA; dari grup WA-VN)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Lihat Juga
Close
Back to top button
Close
Close