Islam

Burung Mutton

074 Burung Mutton mungkin burung terhebat. Sosoknya tidak segagah Elang, tidak juga sebesar burung Albatros. Namun burung yang tidak besar ini tiap tahun selama 6 bulan menempuh perjalanan dengan rute yang panjang. Perjalanan panjang di mulai dari pantai Australia atau New Zealand, menuju ke timur ke laut lepas Pasifik, namun ditengah perjalanan berbelok ke utara menuju pantai Jepang.

Menyusur sisi timur benua Asia sampai di laut Bering. Laut Bering tidak jauh dari kutub Utara adalah batas benua Asia dan sisi barat Amerika atau tepatnya Alaska. Burung ini beristirahat sebentar dan kemudian menyusur pantai barat Kanada dan pantai California sebelum kemudian menyeberang Lautan Pasifik kembali ke Australia.

Rute panjang ini membentuk angka delapan dan menempuh jarak total 24.000 km. Setiap tahun selama tepat enam bulan. Di bulan Oktober, begitu datang mereka langsung membersihkan sarangnya, kawin dan mengerami telurnya.

Mutton kecil yang sehat ini tumbuh cepat dan belajar terbang, mengambang di air dan keahlian menangkap ikan. Pada bulan April mereka sudah mahir terbang dan ikut terbang bersama orang tuanya, rutin menempuh perjalanan yang luar biasa lama dan panjang.

Burung muda ini belum pernah terbang sebelumnya. Belum memahami peta rute. Tetapi mereka selama ber-abad2 menempuh rute yang sama, sekalipun cuaca kadang tidak sama. Angin mungkin berubah. Namun selalu dalam jadwal yang tepat, paling terlambat hanya seminggu.

Burung bukan seperti manusia yang dikaruniai kemampuan untuk memanfaatkan penemuan ilmu sebelumnya, sehingga pengetahuan manusia saat ini adalah akumulasi jutaan penemuan-penemuan sebelumnya. Burung tidak, ada Yang Mengatur atau Menguasainya.

Para ahli yakin, bahwa peta terbang burung Mutton ini sudah tercetak dalam gen mereka ( La puissance et la fragilite, Prof Hamburger, 1972). Peta ini seolah sudah terprogram dengan sempurna dalam otak Mutton. Rute, kronologi selalu tepat. Penemuan abad dua puluh ini, sudah ditulis oleh Al Qur’an pada abad ke tujuh, empat belas abad yang lalu,

Surat an-Nahl (QS 16:79), ….”Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang dimudahkan terbang di angkasa bebas. Tidak ada yang menahannya kecuali Allah. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kebesaran Allah, bagi yang beriman”. Kemudian dalam surat Al Mulk (QS 67:19) ….

”Apakah mereka tidak memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya diatas mereka? Tidak ada yang menahannya selain yang Maha Pemurah. Sesungguhnya Dia Maha Melihat sesuatu”….

Dalam kedua ayat itu tertulis “yumsikuhunna” dari asal kata “amsaka” menurut Prof M.Bucaille terjemahan yang tepat adalah “memegang” (dalam tafsir Dr.A.Hatta, menahan), yang artinya Allah menguasai dan burung itu tunduk kepada kuasa Allah. (Sadhono Hadi; dari grup FB ILP)-FR
—–

Sajian lainnya : Khutbah Jumat
069 Seorang jama’ah shalat Jum’at akan beruntung bila mendapatkan isi khotbah yang bermanfaat untuk meningkatkan ilmu, disampaikan oleh Khatib yang menarik dan di dalam mesjid yang bagus dengan perangkat pengeras suara yang jernih, jelas dan bermutu tinggi.

Di kawasan Bandung, masjid-masjid yang saya tahu memiliki sound-system yang di desain dengan baik antara lain di masjid Agung alun-alun, di masjid Salman, masjid Istikhamah, masjid LIPI dan tentu masih banyak lagi. Saya jadi ingat pernah punya kenalan, seorang insinyur elektro lulusan ITB yang memiliki keahlian merancang desain sound-system.

Almarhum dengan sukarela berkeliling membantu memberikan saran kepada masjid-masjid tentang pemilihan peralatan dan penempatan loud-speaker sehingga suara dapat diperkeras dengan optimal. Paduan antara khatib yang baik, materi yang berbobot serta pengaturan sound-system yang baik akan membuat para jama’ah nyaman menyimak dan syiar Islam menemui sasarannya.

Saya pernah bersembahyang Jum’at di salah satu masjid tersebut dengan khatibnya seorang da’i yang terkenal yang berasal dari Bandung Utara. Sehari-hari da’i tersebut membawakan tauziah dalam bahasa yang lembut dan diselingi oleh humor yang segar.

Namun, ketika beliau berkhotbah suaranya keras, bersemangat malah berapi-api. Pendengarnya, tentu saja tidak ada yang sempat mengantuk mendengarkan isi khotbahnya yang menarik. Da’i itu mungkin berpegang ke sebuah hadits shahih, dari petikan penuturan Jabir ra,

“ ……. Apabila Rasulullah SAW berkhotbah kedua matanya merah, suaranya keras, kemarahannya memuncak, seolah-olah beliau adalah pemberi peringatan kepada pasukan yang berkata, ‘Musuh mendatangi kalian di pagi dan sore hari’ ……..” (diriwayatkan oleh Muslim, Ibnu Majah dll,)

Sebaliknya saya sering juga mengikuti Jum’atan di komplek orang-orang yang terpelajar di bangunan masjid yang megah dan indah, namun sound-systemnya sangat buruk, khatibnya tampaknya sekedar memenuhi kewajiban, sehingga tidak semua jama’ah baris pertama dan kedua yang bisa mendengar khotbahnya dengan jelas.

Hampir seluruh jama’ah tertidur dengan nyaman, bahkan jama’ah yang berada di tangga luar, duduk-duduk menunggu selesai khotbah sambil menghadap ke timur …..

Catatan,
posting ini perbaikan posting sebelumnya yang salah tutul …. maaf. (Sadhono Hadi; dari grup FB ILP)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.




Enter Captcha Here :

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close
Close