Pengalaman Anggota

Silaturahim membuat sehat

Katanya silaturahim bisa membuat sehat. Benarkah? Mari kita bahas, secara logika sederhana saja.
Banyak “nafsu” manusia. “Nafsu” di tulisan ini maksudnya adalah keinginan yang berlebihan, keinginan besar, misalnya “nafsu makan”. Kata “Nafsu lu !”, itu juga mengindikasikan nafsu sebagi keinginan kuat atau malah berlebihan.

Salah dua bentuk nafsu yang lain adalah “nafsu” ingin mengetahui sesuatu dan “nafsu” ingin memberitahu sesuatu ke orang lain. Kita lagi enak-enak makan sambil nonton TV, tiba-tiba di luar rumah terdengar suara “Gubrak!”. Makan ditinggal, kita lari keluar rumah. Nah, itu pengaruh “nafsu” ingin mengetahui sesuatu. Nafsu ini lebih besar di laki-laki dibanding di kaum hawa.

Sebaliknya kita juga seringkali ingin bercerita kepada orag lain, tentang apa saja, misalnya : ” Itu katanya artis si cantik itu sedang kena masalah”. Atau :” Bu Anu itu hebat, kalungnya baru”. Nah, nafsu yang ini lebih besar di wanita dibanding pria.

Memberi tahu sesuatu yang ada di pikiran, perasaan kepada orang lain juga baik, sehingga pikiran, perasaan tidak jenuh, otak tidak panas menyimpannya. Orang yang menahan sendiri perasaan dan pikirannya, maka perasaan dan pikiran akan terbebani. Orang menjadi stres. Nah, kalau sudah stres, penyakit akan mudah datang. Dimulai dengan sulit tidur, rambut rontok (kecuali yang keturunan), dsb.

Kepada siapa kita bisa “memberi tahu sesuatu” itu? Ya ke keluarga, kawan, tetangga. Tentu harus bisa mengelola ‘sesuatu” atau isi informasinya. Kalau kita punya informasi 10, ya sampaikan saja yang 3 atau 4, itu cukup membuat hati plong. Kalau orang tidak bisa menahan diri, ada informasi 10 disampaikan 10 itu namanya ember bolong, apalagi kalau ceritanya ditambah.

Sebagai contoh nyata. dulu ketika masih muda dan tinggal di asrama, saya sekamar satu orang teman. Nah, teman saya sekamar ini nampaknya punya masalah. Saya bisa membaca dari raut mukanya yang kurang ceria. Masalahnya apa, entahlah. Saya pancing-pancing, tidak keluar juga ceritanya. Saya harap kalau sudah cerita, maka hati akan merasa lega.

Saya ajak jalan2 sore (jalan kaki).Saya cerita soal pacar (padahal ngarang saja) supaya dia cerita soala pacar, siapa tahu masalahnya di sana. Dia nggak cerita. Saya cerita keluarga saya dengan sedih-sedih, siapa tahu dia punya masalah keluarga. Eh, nggak cerita juga. Saya pancing dengan berbagai hal, ini dan itu, ternyata dia sama sekali tidak bercerita. Hebat teman saya ini, bisa menyimpan rahasia!

Apa yang saya khawatirkan akhirnya terjadi. Teman saya ini sakit dan masuk rumah sakit. Kata dokter, itu penyakit teman saya, berasal dari pikirannya (psikosomatik).

Jadi, banyaklah bersilaturahim. Makin banyak bersilaturahim, makin banyak kita bisa kita cerita, makin sedikit beban yang ada di perasaan dan pikiran. Maka hati, jantung dan otak tidak terbebani dengan berat. Hormon di tubuh akan bekerja dengan normal, sebab kinerja hormon di tubuh sangat dipengaruhi oleh pikrian dan perasaan. Maka badan akan sehat . (Widartoks 2016; dari grup FB MKPB Telkom)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.




Enter Captcha Here :

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Lihat Juga
Close
Back to top button
Close
Close