Psikologi

Belajar dari filosofi Bersepeda

Yang suka sepeda dan menjiwai, tahu bener akan cerita berikut:
Ada tanjakan ada turunan. Saat sedang menanjak, janganlah terlalu bernafsu mencapai puncak … atur nafas, atur tenaga, konstankan putaran … supaya efektif mencapai puncak … dan konsentrasi tetap ada untuk menghadapi turunan.
Saat sedang menurun … janganlah kaget hingga terlalu cepat menarik rem … kamu akan terjungkal dan makin terpuruk. Ikuti alur jalannya … seimbangkan remnya … ambil momentum putarannya … hingga saat kamu menanjak kamu tidak membuang tenaga …

Bersepeda itu bukan masalah jumlah kilometer … tapi lebih pada menikmati setiap kayuhan untuk mendapatkan tiap kilometer itu. Begitupula kehidupan … Hidup menarik bukan karena jumlah umur, tapi bagaimana kita menikmati setiap detik untuk mendapatkan umur tersebut …

Bersepeda juga bukan masalah sepeda atau komponen yang ada di dalamnya … tapi bagaimana menggunakan sepeda dan komponen tersebut untuk mendapatkan perjalanan yang menarik … yang bisa kita nikmati, bisa kita ceritakan, bukan hanya menggunakan sepeda untuk kita banggakan harganya.

Begitu pula kehidupan … Kehidupan bukan masalah harta yang kita dapatkan, tapi bagaimana memaknai harga yang kita punya untuk membuat hidup kita lebih berharga secara batin, bukan hanya secara nominal. Ada pepatah Jawa bilang, “urip kuwi golek jeneng … ojo golek jenang” …

Terjemahan bebasnya, “hidup itu cari nama bukan cari makan..”, maksudnya hidup itu harus bermanfaat (bagi orang banyak) sehingga membuat nama yang baik, bukan hidup hanya cari harta tapi tak membuat perbedaan apa-apa.

Sama dengan sepeda, buat apa punya sepeda kalau cerita yang kita punya hanya saat kita membelinya, bukan pada saat menaikinya. Bukankah menaikinya itu terlihat dan terasa lebih menarik. “It is about the journey, not the destination … Because life is a journey …” (Budhi R; dari grup WA-72; sumber dari http://www.akuinginsukses.com/filosofi-bersepeda/)-FR

———-

 

Sajian lainnya : Siklus kehidupan

Ketika burung hidup, ia makan semut. Ketika burung mati, semut makan burung. Waktu terus berputar sepanjang zaman. Siklus kehidupan terus berlanjut. Jangan merendahkan siapapun dalam hidup, bukan karena siapa mereka, tetapi karena siapa diri kita.

Kita mungkin berkuasa tapi WAKTU lebih berkuasa daripada kita. Waktu sedang jaya.., kita merasa banyak teman di sekeliling kita. Waktu sakit.., kita baru tahu bahwa sehat itu sangat penting, jauh melebihi HARTA.

Ketika  tua, kita baru tahu kalau masih banyak yang belum dikerjakan, dan telah di ambang ajal, kita baru tahu begitu banyak waktu terbuang sia2. Hidup tidak lama, sudah saatnya kita bersama membuat HIDUP LEBIH BERHARGA,  saling menghargai, saling membantu dan memberi, juga saling mendukung.

Jadilah teman perjalanan hidup yg tanpa pamrih dan syarat. Believe in “Cause and Effect”
Apa yang ditabur, itulah yang akan kita tuai . (Koesh; dari grup WA-72)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.




Enter Captcha Here :

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Lihat Juga
Close
Back to top button
Close
Close