Pengalaman Anggota

Kascing (BT 063)

Sudah beberapa kali saya mencoba membuat kompos dari daun kering, namun tak kunjung sukses. Tidak semudah yang diceritakan di buku panduan. Tergiur oleh cerita pak Benyamin Haris, saya mencoba membuat pupuk kascing.

 

Saat bertemu di Bandung saya diajarin tuntas, kemudian petani hebat itu memperkenalkan dengan suhu cacing di Magelang pak Anton. Ada tempat teduh dibawah workshop yang tidak dipakai, saya bersihkan dan ditempat itu saya buat kandang cacing dari bambu dan kayu sengon bekas.

 

Sebagai media cacing, saya punya banyak limbah serbuk bambu yang sudah direndam tidak kurang tiga bulan, yang banyak digunakan di desa. Makanan cacing dari kotoran sapi, saya pesan ke tetangga dan langsung masuk ke buis beton diameter 1 meter.

 

Saya beri tutup kayu berlapis plastic agar tidak kehujanan. Kotoran ini harus dibuat bubur, dan saya sudah menyediakan drum bekas yang dipotong di tengah bekas tempat sampah. Hanya itu saja persiapan yang diperlukan. Masih affordable lah, buat kantong pensiunan.

Ketika cacing pesanan sudah datang, kayaknya makhluk itu langsung betah, tandanya tidak lama langsung hilang, menyusup ke media dan tidak muncul lagi. Eh, tidak sampai dua minggu saya sudah panen kascing. Mudah sekali. Kascing saya lebih gelap dari yang saya beli, tapi masih kalah hitam dengan produksi pak Haris.

 

Saya harus ayak, karena masih agak kotor dan masih terbawa cacing-cacing kecil. Cacing-cacing ini harus saya punguti dan langsung disantap oleh ikan koi saya. Saya harus tanyakan lagi ke pak Haris bagaimana produknya bisa bersih dan hitam begitu.

Tidak fair bila tidak saya ceritakan juga sisi sulitnya berternak cacing. Pertama, semula saya pikir menjijikkan bergelimang cacing, ternyata cacingnya kecil tidak sebesar cacing tanah yang dulu sering saya pakai mancing di sungai, jadi tidak terlalu menjijikan. Kedua, ya resikonya, saya harus berkutak ria dengan kotoran sapi.

 

Jijik dan gengsi harus ditanggalkan. Bau kentutnya hanya muncul saat mengaduk buburnya, sebelum dan sesudahnya tidak bau. Ketiga, cacing2 itu ternyata rakus, sehingga setiap hari saya harus memberi makan. Tapi itu kan resiko memelihara binatang, sapi sampai burungpun setiap hari harus diberi makan.

Banyak penduduk desa saya memiliki kolam, yang airnya diambil dari hulu sungai-sungai Merapi, mudah-mudahan mereka mau menampung cacing saya kelak. Sedang kascingnya semoga mampu memenuhi kebutuhan saya sehari-hari, sehingga tidak perlu beli lagi. Itu saja target saya.

Namun jangan dulu saya disebut peternak cacing, terlalu dini. Pasti banyak tantangan yang akan saya hadapi. Saya tidak tahu hama yang mungkin kelak menghadang. Saya juga belum tahu cara mengendalikan pertumbuhannya, memisahkan, mengembangkan. Belum tentu berhasil juga. Insya Allah lain kali saya cerita. (Sadhono Hadi; dari grup FB ILP)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.




Enter Captcha Here :

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Lihat Juga
Close
Back to top button
Close
Close