Islam

Kapok (TA 135)

Perang Qadisiyah berlangsung 3 hari. Kaum musimin sudah menguasai cara meredam kehebatan pasukan gajah dari kaum Persia. Pasukan gajah yang sempat membuat gentar dan mengacaukan kuda-kuda pasukan muslimin. Kelemahan gajah ternyata berada pada mata dan bibirnya.

 

Daging pada daerah itu lebih lunak dan dapat ditembus panah atau tombak, hingga gajah2 itu blingsatan kesakitan dan lari kian kemari tidak karuan. Perang besar ini terjadi pada pemerintahan Khalifah Umar dan ini perang yang terbesar antara kaum muslimin melawan pengikut agama majusi dari Persia.

Salah satu jago perang dari kaum muslimin, Abu Mihjan, sangat sedih dan menyesal tidak diijinkan terjun perang bahkan dipenjarakan oleh Panglima kaum muslimin, Sa’ad bin Abu Waqqash. Semalam Sa’ad marah besar kepada anak buahnya ini ketika mendapati Abu Mihjan minum Khamer.

 

Sa’ad menyadari dalam keadaan genting ini, bila dibiarkan khamer bisa meruntuhkan moral para prajurit. Saking marahnya dipukulnya Abu Mihjan.

Pagi itu, ketika perang sedang berkecamuk, Abu Mihjan berusaha menyuap penjaganya dengan seekor kuda, agar bersedia melepaskannya dan bisa ikut berperang. Tapi, penjaganya bergeming. “Begini saja, lepaskan aku untuk berperang dan setelah perang selesai, aku boleh kau tahan lagi”, Abu Mihjan menawar.
“Demi Allah aku bersumpah dan celakalah aku bila melanggar sumpahku ini”. Penjaganya tidak sampai hati untuk mengekang keinginan orang ini, sehingga melepaskan tahanannya.

Abu Mihjan segera berhambur ke medan perang. Ia menebas kiri-kanan, sehingga jauh menembus ke tengah pertahanan kaum Persia. Dari jauh komandan pasukan, Sa’ad melihat kehebatan seorang prajurit tangguh yang sepak terjangnya menggetarkan musuh rela berkorban mempertaruhkan nyawanya.

 

Sa’ad berkomentar, “Siapa prajurit itu. Kalau karena aku tahu, Abu Mihjan sedang dipenjara, pasti ia seorang Persia yang membelot” Sebelum perang berakhir, Abu Mihjan segera menyusup kembali ke perkemahan dan kembali ke penjara.

Ketika akhirnya Sa’ad mengetahui kejadian ini ia memaafkan, “Aku bebaskan kamu dari hukuman cambuk”, dan Abu Mihjan menjawab, “Aku bersumpah. Kapok. Tidak akan minum khamer lagi !”. (Sadhono Hadi; dari grup FB ILP; disadur dari riwayat 10 sahabat, Muhammad Ahmad Isa)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.




Enter Captcha Here :

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Lihat Juga
Close
Back to top button
Close
Close