Selingan

Office Boy Yang jadi Vice President(1/4)

Houtman Zainal Arifin lahir tanggal 27 Juli 1950 di Kediri Jatim. Pengalaman hidupnya amat inspiratif patut untuk disimak, yang awalnya ia hanya seorang office boy (OB) hingga bisa menduduki jabatan nomor satu sebagai seorang Vice President Citibank.

 

Beliau pernah menjabat direksi di perusahaan swasta, pengawas keuangan di perusahaan2 swasta, komite audit BUMN, konsultan, penulis serta dosen pasca sarjana di sebuah Universitas. Houtman dilahirkan dari keluarga pas-pasan. Kisah hidupnya dimulai ketika lulus dari SMA, sekitar tahun 60-an.

 

Hotman merantau ke Jakarta dan tinggal di daerah Kampung Bali, Houtman memimpikan hidup cukup dan jadi orang sukses di Ibukota. Namun di Jakarta Houtman menerima kenyataan kehidupan ibukota sangat keras dan tidak mudah. Tidak banyak pilihan lulusan SMA, pekerjaan tidak mudah diperoleh.

Sewaktu tinggal di tanah abang, ayahnya sakit keras. Ortunya ingin berobat, tapi tak ada biaya cukup. Melihat keadaan itu, ia tidak menyerah. Bermodal hanya Rp 2.000,- hasil pinjaman dari temannya, Houtman jadi pedagang asong menjajakan perhiasan imitasi dari jalan raya hingga ke kolong jembatan mengarungi kerasnya kehidupan ibukota.

 

Usaha dagangannya laku keras. Ketika ia menuai hasil usahanya, Tuhan memberi cobaan. Petugas penertiban datang, dagangannya di injak dan jatuh ke lumpur. Ketika semua dagangannya rusak bercampur lumpur, teman2nya seperti : Tukang sepatu, tukang sayur, dsb, ramai2 membersihkan dagangan Houtman. Disini Houtman mulai dapat pengalaman berharga kerasnya kehidupan.

Tetapi kondisi seperti ini tidak membuat Houtman kehilangan cita2 dan impian. Suatu ketika Houtman beristirahat di kolong jembatan, dia memperhatikan kendaran2 mewah yang berseliweran di jalan Jakarta. Para penumpang mobil berpakaian rapih, keren dan berdasi.

 

Houtman remaja ingin seperti mereka, mengendarai kendaraan ber-AC, berpakaian necis dan memiliki uang yang banyak. Saat itu juga Houtman menggantungkan cita2nya setinggi langit, sebuah cita2 dan tekad diazamkan dihatinya. Azam atau tekad kuat Houtman membuatnya ingin segera merubah nasib.

 

Tanpa menunggu lama Houtman mulai mengirimkan lamaran kerja ke setiap gedung bertingkat yang dia ketahui. Bila ada gedung yang menurutnya bagus maka segera dikirimkannya lamaran kerja. Houtman menyisihkan tiap keuntungan dari asongan digunakan membiayai lamaran kerja. Bersambung/ …….. (http://www.biografiku.com/2012/12/biografi-houtman-zainal-arifin-kisah.html)-FatchurR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.




Enter Captcha Here :

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close
Close