Pengalaman Anggota

Jogja’s one day tour (FE 013)

Pagi2, saya belum sempat mandi, pintu rumah bordering. Tiga sahabat menunggu di depan pintu dengan tubuh berkeringat dan helm sepeda masih bertengger diatas kepala. Mereka bersepeda dari daerah sekitar Jogja sekitar 20-25 km ke rumah saya dengan jalan terus menanjak tanpa ada turunan.

 

Senang sekali saya melihat mereka yang usianya sudah sekitar 60 tahun atau lebih, mantan pejabat, pengajar pasca sarjana, menikmati masa tuanya dengan kesehatan yang prima dan persahabatan yang langgeng.

Lebih surprise, mereka datang bukan sekedar berkunjung mengobati kangen, tapi menawarkan diri  membantu saya jadi tuan rumah pada acara Jogja’s one day tour pertengahan Januari 2017. Sungguh saya terbantu dan terharu atas ketulusan mereka. Kami berunding menyiapkan acara se-baik2nya untuk tamu2 nanti, urutan acara insya Allah akan kami tata sebagai berikut,

Pagi hari, tentu setelah sarapan, para tamu akan kami ajak berjalan-jalan di sebuah kebun salah satu di desa wisata, binaan CDC Telkom. Mereka akan menikmati, rasanya memilih salak dipohon, kemudian memetiknya dan menyantapnya langsung di tempat.

 

Mereka dipersilahkan makan sepuasnya, manakala ingin sekedar membawa pulang, ya ditimbang dan dibayar dengan harga kebun. Para tamu akan mendapat penjelasan dari guide tatacara memelihara kebun dan lika-liku bisnis salak.

Kemudian, para tamu diajak meluncur ke Museum Ulen Sentalu, tempat disimpan benda2 dan perjalanan sejarah Keraton Jogja dan Keraton Solo. Dari luar museum ini seperti hutan dengan pohon2 lebat, namun keindahan di dalam dan dibawah tanah ditata sangat professional, jadi menyusuri tempatnya saja sudah merupakan atraksi yang menarik.

Lanjut tamu2 diajak berpetualang menikmati kegarangan Merapi bila sedang murka, meninjau museum lapangan lokasi mBah Marijan diterjang lahar. Benda2 rumah tangga dan kendaraan yang tak sempat diselamatkan jadi saksi hebatnya bencana. Insya Allah sekalipun perjalanan berbatu diatas mobil2 off-road, aman untuk anak2, orang tua dan ibu-ibu.

Seterusnya setelah makan siang dengan masakan langsung dari dapur Jawa, para tamu akan kami ajak ke sebuah masjid tua di komplek keraton. Pengunjung bisa menikmati keindahan dan kemegahan arsitektur Jawa dengan cungkup bertingkat.

 

Bagian induk ditopang oleh tiang-tiang kayu jati besar tidak kurang dari 36 tiang bundar, memberikan suasana adem dan khusu. Sedangkan bagian serambi luar menyajikan keceriaan dan keindahan ukiran Jawa yang meriah pada tiang dan balok-balok kayu. Sungguh kontras.

Lebih lanjut para tamu akan kami ajak menikmati tamasya di museum de Mata, sebuah tempat dimana pengunjung bisa berfoto artifial dengan pemandangan yang spektakular. Mohon disiapkan jangan sampai camera low-battere, bisa menyesal.

 

Saran saya di sini saling bertukar kamera, sehingga kamera kita ya berisi sosok kita sendiri. Tidak jauh dari museum itu para tamu akan kami ajak menikmati patung-patung lilin di museum de-Arca. Kembali, para selfish akan dimanjakan untuk berfoto dengan para tokoh terkenal.

Last but not least, bila masih ada waktu, sebelum kembali ke stasiun dengan KA malam ke Bandung atau Jakarta, para tamu akan diajak menikmati hasil renovasi terakhir di Malioboro by night. Lampu dan banyak bangku2 kayu di trotoar lebar, suasana yang jauh lebih nyaman dari pada sebelum renovasi.

 

Malioboro kini beda, lebih ramah dan lebih memanjakan pejalan kaki. Sekali lagi kalau waktu mengijinkan akan kami ajak makan malam ke angkringan istimewa di Ngasem, komplek keraton. Lengkaplah wisata kebun, wisata sejarah, adventure, wisata kuliner, wisata religi dan wisata kontemporer, hanya dalam satu hari. Insya Allah. (Sadhono Hadi; dari grup FB ILP)-FR

Foto : Museum Ullen Sentalu

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.




Enter Captcha Here :

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close
Close