Selingan

Wayang-Gatutkaca(3)-Sambutan tidak mengenakkan

Pendapa Kerajaan Hastina yang megah, besar, tinggi dan luas saat itu seakan bergetar, demi menyaksikan siapa yang datang. Ternyata yang datang adalah Dewi Kunti diiringi anak-anaknya, yaitu Puntadewa, Bima, Arjuna, Pinten dan Tangsen.

Resi Bisma yang berada di situ, turun dari singgasana dan menjemputnya. Satu persatu dia peluk, selayaknya menyambut anak hilang dan kini kembali pulang. Dari pihak kurawa tak satupun memberi sambutan ke mereka, setelah diberi isyarat oleh Sengkuni untuk tidak memberi sambutan itu. Setelah saling tegur sapa dan menanyakan keselamatan, Resi Bisma membuka pembicaraan.

” Cucu-cucuku Ngger, Putadewa, Bima, Arjuna, Pinten dan Tangsen, serta Anakku Kunti, kami sangat bahagia mendapatkan kalian ternyata masih hidup semua”, katanya.
” Benar, berkat doa Resi Bisma, kami dapat perlindungan dewa, sehingga selamat”, jawab Dewi Kunti.

Semua kurawa dan Patih Sengkuni bingung, karena ternyata para pandawa masih hidup. Patih Sengkuni yang sudah banyak makan asam agar, akhirnya bisa menguasai diri dan berkata.
” Resi Bisma, kita semua menyaksikan, Dewi Kunti dan para pandawa telah wafat di peristiwa Bale Sigala Gala. Jadi tak mungkin mereka bisa hidup kembali. Mereka yang datang ini tentu hantu para pandawa, atau orang yang mengaku-aku sebagai Dewi Kunti dan para pandawa”, kata Sengkuni.

Resi Bisma dan para pandawa kaget dan kini berkerut merut keningnya. Sementara para kurawa merasa lega karena Sengkuni bisa memberi jawaban yang sangat tepat di situasi yang gawat.

” Resi Bisma, apa gunanya anak2 berbohong? Kami tidak biasa bobong. Kalau ya dikatakan ya, kalau tidak dikatakan tidak”, kata Dewi Kunti seraya menenangkan diri. Terdengar suara gigi Bima gemeretak pertanda menahan marah. Dewi Kunti menggamit tangannya sebagai isyarat agar Bima menahan diri.

” Orang-orang ini ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan. Mohon berhati-hati Resi Bisma, jangan terkecoh dengan penampilan mereka yang “memelas” dan kata-kata mereka yang manis. Mereka tentu sudah hafal dengan suara Dewi Kunti dan para pandawa, lalu berlatih bersandiwara seperti yang kita saksikan sekarang ini”, jawab Sengkuni.

Resi Bisma sebenarnya yakin bahwa mereka yang datang adalah para pandawa dan Dewi Kunti, merasa bingung juga, sebab apa yang disampaikan Sengkuni masuk akal. Setelah kejadian kebakaran menimpa Bale Sigala Gala, dan memang ditemukan enam mayat yang mengindikasikan mereka adalah Dewi Kunti dan para pandawa.

” Paman, Paman Sengkuni, apa kami ini pernah berbohong?”, kata Puntadewa sebagai anak tertua di pandawa dan selalu berkata jujur.
” Kalau Putadewa yang asli saya percaya dia tidak akan bohong, tapi kalian jelas bukan para pandawa”, jawab Sengkuni. Puntadewa terdiam.

” Maksudmu bagaimana Sengkuni?”, kata Resi Bisma.
” Para pandawa dan Dewi Kunti semua telah meninggal. Banyak orang menjadi saksi atas kematian mereka”, kata Patih Sengkuni sengit.

Kini situasi di ruangan itu semakin tegang. Pihak kurawa berusaha mempertahankan argumen atau pendapat bahwa para pandawa telah meninggal semua dan memang mereka yakin demikian. Pada saat kejadian juga ditemukan enam mayat yang salah satunya nampak tinggi besar dan itu adalah Bima. Di sisi pandawa merasa mereka memang benar-benar masih hidup.

Resi Bisma yakin pandawa masih hidup, ya mereka yang datang itu. Sebab suara mereka benar2 suara pandawa. Terlampau sulit membuat enam orang memerankan suara enam orang dengan sangat akurat, postur tubuh juga sangat pas dengan para pandawa ketika masih hidup, beberapa bulan yang lalu.

 

Namun dia berusaha agar mempunyai informasi yang akurat sebelum memutuskan, sehingga keputusannya memang adil dan bukan sekedar dia dituakan dan sebagai pewaris tahta Hastina yang asli, hanya saja dia sudah menyerahkan hak itu kepada Dewi Durgandini *).

Pihak pandawa sedih, sebab kedatangan mereka bukan disambut sukacita oleh saudara2nya satu kakek, yaitu para kurawa. Namun malah tidak dipercaya, malah sudah dianggap sudah mati semua, bahkan tahta kerajaan sudah diduduki oleh Duryudana, padahal hak waris atas tahta itu ada pada Puntadewa.

Pihak kurawa jadi tegang, sebab mereka berhitung, banyak kemungkinan yang bisa terjadi. Pertama, Resi Bisma pemilik sah dari kerajaan Hastina bisa membuat keputusan apa saja, yang menguntungkan kurawa, atau merugikan. Kedua, Resi Bisma menghukum dengan keras kalau percaya yang dikatakan pihak pandawa. Tentu masih banyak kemungkinan lain yang bisa dilakukan oleh Resi Bisma.

Begitupun, bisa saja Bima yang memang mudah marah lalu tiba-tiba mengamuk menghajar mereka. Tubuhnya yang tinggi besar adalah modal besar untuk bertarung. Dia juga mempunyai kuku pancanaka yang sangat menakutkan, sebab lebih kuat dan tajam dari cakar elang dan macan sekalipun. Berkali-kali mereka, para kurawa dan pandawa berkelahi dan selalu pihak pandawa yang menang.

Maka Sengkuni mau tak mau harus berfikir keras agar Resi Bisma bisa mempercayai perkataannya. Apalagi sekarang istana dan kerajaan Hastina ada di genggaman mereka. Kekuasaan dan kekayan ada di tangan mereka. Apa jadinya kalau tiba-tiba diserahkan kepada pandawa. Mereka yang sudah terbiasa pesta pora dalam bulan-bulan terakhir, bisa jadi akan gigit jari.

” Resi Bisma, mereka ini hanya mengarang cerita saja. Kalau memang pandawa masih hidup, untuk membuktikan bahwa mereka pandawa, harus ada saksi hidup. Padahal tidak ada satupun saksi hidup yang membuktikan bahwa mereka adalah pandawa”, kata Sengkuni kemudian untuk meyakinkan Resi Bisma dan sekaligus memojokkan para pandawa.

Kini para pandawa yang menjadi bingung. Bagaimana mungkin menghadirkan saksi yang bisa membuktikan bahwa mereka masih hidup, serta masuk akal manusia biasa dan Resi Bisma.

Semua terdiam beberapa saat. Ketika sesaat kemudian di luar pendapa yang menjadi ruang sidang itu terjadi suara ribut-ribut. Beberapa orang berusaha masuk ke ruang itu, namun dihalangi oleh prajurit Hastina. Mereka tetap berusaha menerobos masuk, terjadi dorong mendorong. Kemudian tersembullah kepala salah satu orang dan orang itu berteriak keras.

” Resi Bisma, ijinkan kami menghadap !”, kata seseorang. Kepalanya berusaha dikeataskan. Mulutnya ¬†tersembul dan nampak dari dalam ruang sidang, seakan suaranya hanya ingin didengar Resi Bisma. Semua mata di ruang sidang serempak menoleh tanpa dikomando, kini semua mata tertuju ke pintu pendapa yang besar dan lebar itu; Bersambung Jum’at depan‚Ķ.. (Widartoks 2016; dari grup FB-ILP)- FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Enter Captcha Here :

Back to top button
Close
Close