Iptek dan Lingk. Hidup

Produk Eropa vs Buatan China

Malam tadi saya menghadiri undangan Gala Dinner “110 Tahun Ericcson di Indonesia”. Acara eklusif ini diadakan di ballroom hotel mewah Four Seassons, di Gatsu Jakarta. Hadir juga di acara yang ciamik itu, Dirjen Ismail dan Sammy Pangerapan mewakili MenKominfo; dan banyak kerabat industri telekomunikasi Indonesia.

Yang saya tahu, produk telekomunikasi Ericcson di Indonesia sudah hampir koit dipenyet infrastruktur buatan Huawei dan ZTE yang berasal dari China; dan ponsel Samsung dan LG made in Korea. Ya, rasionalnya doi sebenarnya tinggal dut aja.

Tapi hebatnya, di bidang network, Ericsson masih ingin tetap survive sebagai mitra vendor perangkat telekomunikasi di sini. Mereka kini satu2nya produk infrastruktur seluler Eropa yang masih bernapas di Indonesia. Ini beda dengan Siemens Jerman, Motorola AS dan Nokia Finlandia yang telah pada wasalam duluan. Apalagi merek dari BUMN PT Inti nu ti Bandung tea, nu eta sih parantos ka “sukabumi” sejak lama. Hiks.

Lalu kenapa sih operator2 seluler Indonesia pada gak memakai produk buatan Eropa dan Amerika? Padahal kita tahu, perangkat mereka andal dan handal. Mereka juga tidak pelit dalam berbagi teknologi. Dan China pun sebenarnya belajar dari sana juga.

Dalam pemilihan sistem telekom ada 4 kriteria utama, yaitu: QCDT, atau Quality, Cost, Delivery dan Technology. Tapi China tahu bener tabiat dan kondisi kita, makanya yang dia mainkan adalah strategi “CodelQutec” (cost, delivery, quality dan technology).

Pertama Cost. Kita kan lagi takut2nya dengan isu “kerugian negara”, maka dia terapkan jurus banting harga. Yang penting harga murah dan menang tender. Urusan after sales belakangan.
Kedua delivery. Masalah ada barang yang masih kurang gak papa, pokoknya kirim duluan. Apalagi orang Indonesia sekarang sedang ter-gila2 dengan “ongkir gratis”. Maka masuklah dia punya barang, tuh.

Ketiga quality. Kalau barang elektronik, Network-Device-Accessories di telekomunikasi seluler sih beda2 tipiiiislah mutunya. Laptop, tivi, ponsel, lampu digital, saat ini semua juga buatan China. KW-2 siapa takut? Yang penting harganya pas di kantong dan speknya oke.

Ke-4 Technology, ini lain cerita. Perihal busway gandeng yang di DKI, case-nya beda. Buatan China merk Zhong Tong dinaikinya gruduk2 dan kadang2 ngebul berasap dan terbakar; sedangkan yang Scania Swedia, standarnya juga Euro 6, alamak empuknya dan gak ada bisingnya. Ada harga ada mutu…
Di bidang teknologi sistem seluler, China tau betul bahwa kriteria “life time” itu bikin mahal dan boros, makanya dia bikin produk berbasis “life cycle”. Konsepnya, beli barang berumur 7 tahun, kalau 4 tahun teknologi sudah berubah? Gampang kan?

Kita harus belajar dari kiat dan siasat China. Kan agama juga mengajarkan agar kita tak segan belajar sampai ke negeri China. Memahami bahwa yang bisa dibikin gampang, jangan dibuat susah. Menyadari bahwa relasi, koneksi, dan basa-basi itu adalah kunci sukses dalam bisnis.

 

Dan utamanya; apapun politiknya dan siapa pun pemimpinnya, tujuan pokok bisnis adalah profit alias duit! Hah, teori apaan tuh? Eh bro, yang di atas itu adalah falsafah dagang Cina 3C, yaitu: Cin-cai, Ceng-li dan Cuan. Simpel aja.

Kembali ke Ericsson, kita tahu performansi dan mutu produk Swedia itu sekelas barang Jerman atau Inggris. Prima mutunya dan aman dipakai. Maka disarankan agar bos Ericsson yang katanya cinta Indonesia, berkiprah dengan cara Indonesia. Kita ajarin itu orang bule yang diimpor dari Eropa, ayo kerja sama dengan BUMN PT Inti Indonesia, supaya harga-transfer teknologinya bermanfaat buat kita semua.

Percayalah, saya gak bekepentingan apa2. Tapi boleh dong kasih tau, bahwa mobil saya adalah Volvo buatan Swedia. Mobil itu umurnya sudah 20 tahun, tapi soal safety dan kenyamanannya bolehlah diadu dengan mobil Wuling terbaru yang produk tahun 2017.

 

Salam Indonesia, selalu. (Garuda-40 tahun aktif di pertelekomunikasian Indonesia)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.




Enter Captcha Here :

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Lihat Juga
Close
Back to top button
Close
Close