Islam

Mabrur Sebelum Berhaji

Asep Sudrajat (61) dan Asih, istrinya mewakili insan mabrur sebelum berhaji. Hampir 20 tahun mereka menabung demi wujudkan cita2 memenuhi panggilan Allah ke tanah suci Mekah Al Mukarramah. Niat  kuat dibuktikan dengan sungguh2. Mengumpulkan sedikit demi sedikit dari hasil warung kecilnya.

Rp 50. 830. 000 terkumpul, hampir cukup untuk ongkos haji yang Rp 27 juta / orang, saat itu. Hanya perlu menambah sedikit agar pas. Menabung satu tahun lagi barangkali tercukupi.

Niat lengkap, tekad bulat, mereka akan mendaftar. Hari2 berikutnya mereka makin giat berdagang. Menyisakan hasil meski kecil. Hingga suatu pagi mereka dengar Kang Endi, karibnya sesama jamaah masjid Ash-Shabirin, sakit. Ia dirawat di RSHS, Bandung. Asep menjenguknya.

Kang Endi dirawat di ICU. Tumor ganasnya menjalar, begitu diagnosis dokter, Asep bergidik. Ia besarkan hati sahabatnya untuk sabar, tawakal dan berdoa. Hari ke-8 Kang Endi dipindah ke ruang kelas 3. Kamar yang menurut ukurannya gak cocok.

Hari ke-11, perawat membawa surat. Tawaran operasi tumor ganas. Biayanya ±Rp 50 juta. Dengan keterbatasan, keluarga Kang Endi gigit jari. Kondisinya makin parah, badan makin kurus dan lemah. Sorot mata redup dan tak bisa bicara. Terkulai tak berdaya. Di pinggir ranjang. Asep ambil keputusan besar, pamit pulang.

Dirumah, Asep sampaikan ke Asih, sang istri. “ Bu, kondisi Kang Endi memburuk. Bapak tidak sanggup melihatnya “ papar Asep dan cerita solusi tawaran RSHS. “ Kasihan ya Pak. Kita bantu apa?” Tanya Asih.

 

“ Bagaimana bila dana tabungan haji kita diberikan ke mereka untuk biaya operasi?” Asih kaget.

“ Diberikan? Wah Pak, ± 20 tahun menabung. Masak cita2 ini pupus seketika membantu orang lain?”.
“ Bu, banyak orang berhaji, belum tentu mabrur di sisi Allah. Ini jalan kita meraih keridhaan Allah. Bapak yakin, bila kita tolong, Insya Allah, kita ditolong Allah” nasihat Asep.

Kalimat2 suami menyirami relung hati Asih. Istri shalihah itu setuju. Esoknya, Asep-Asih ke RS. Mengajak bicara istri Kang Endi dan menyerahkan uang itu.
Istri Kang Endi tersentak, menangis. Uang itu dibawa ke bagian administrasi. Formulir diisi. Besoknya jam 08.00 operasi tumor dijalani.

 

Sebelum operasi, dokter spesialis tulang yang menangani, berbincang dengan keluarga. “Doakan ya operasinya lancar. Dari mana dana operasi ini?” Tanya dokter yang tahu kondisi ekonomi Kang Endi.
“ Alhamdulillah. Ada tetangga yang bantu Dok, Pak Asep,” jawab istri Kang Endi.
“ Beliau usaha apa?” Di benak dokter, Asep pengusaha sukses.

“ Dia usaha warung kecil di dekat rumah. Saya nggak percaya waktu dia bantu”.
Operasi lancer, keluarga, dokter dan perawat gembira. Tinggal menjalani masa penyembuhan pasca operasi. Selama itu, Pak Asep sering menjenguknya.

Suatu hari Asep dan dokter itu berkenalan. Dokter memujinya, Pak Asep hanya mengembalikan pujian itu ke Allah. Dokter itu minta alamat Asep.  Kini Kang Endi pulang dari RS. Uatu malam, Asep dan Asih di rumahnya. Warungnya belum tutup. Tiba2 mobil sedan hitam berhenti di depan pagar rumah mereka.

 

Asep dan Asih tak bisa kenali mereka. Begitu dekat, tahulah dia yang datang dokter yang merawat Kang Endi. Ia dengan istrinya. Asep kikuk menerima mereka. Seumur hidup gak pernah terima ‘tamu besar’ seperti itu. Mereka disilahkan masuk. Diberi sajian ala kadarnya. Mereka terlibat pembicaraan hangat.

 

Asep tanya maksud kedatangannya. Dokter bilang berniat silaturrahim dan merasa terharua atas pengorbanan Asep dan istrinya. “ Kami ingin belajar ikhlas seperti bapak-Ibu” ungkapnya. Asep mengelak. Merendah.

“ Pak Asep dan Ibu, saya dan istri akan tunaikan haji tahun depan. Saya mohon doa Bapak-Ibu agar kami dimudahkan Allah Ta’ala. Saya yakin doa orang2 shalih seperti Bapak-Ibu akan dikabulkanNya”. Ber-kali2 Asep dan Asih mengaminkan, walau ada rasa sedih-getir. Sebab mereka seharusnya berangkat juga.

“ Tapi, supaya doa Bapak-Ibu makin dikabulkanNya, agar Bapak-Ibu berdoanya di tempat2 mustajab?” Asep bingung, tapi ia tanya” Maksud Pak Dokter?”
“ Izinkan saya dan istri mengajak Bapak-Ibu berhaji bersama kami dan berdoa di sana sehingga Allah mengabulkan doa kita semua” tutur dokter.

Asep dan Asih diam. Hening. Tak ada jawaban. Hanya ada derai air mata Asep dipelukan erat dokter, dan uraian tangis haru Asih dipelukan istri dokter. Dan, di ujung malam itu, tangis Asep-Asih makin meledak dalam sujud2 yang syahdu dan di pijar2 syukur yang menyala indah.***

“ Orang2 yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, nisacaya DIA menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” ( Q. S. Muhammad : 7)

Sabda Rasul Saw “Siapa yang menyelesaikan mukmin dari kesulitan2 dunia, niscaya Allah memudahkan kesulitan2nya dihari kiamat. Siapa yang memudahkan orang yang kesulitan niscaya Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat” (HR. Muslim). (Alchairi; dari grup WA-VN; sumber Kisah nyata dikutip dari majalah Hidayatullah edisi Desember 2007)

Monggo lengkapnya klik aja :  (http://eastlamp-lampeast.blogspot.co.id/2014/01/)-FatchurR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Enter Captcha Here :

Back to top button
Close
Close