Selingan

Ada yang berbohong di FB

(yuswohady.com)-Kalau selama ini kita punya ungkapan nakal: “Hidup tak semudah kata2 motivator,” maka saya punya ungkapan lain: “Hidup tak seindah postingan di FB.” Dunia FB itu “dunia kinclong”:  Sebagian penuh : Keindahan, kesuksesan, kebaikan, karena ada yang orang di FB bohong (?).

 

Kondisi sesungguhnya buruk, namun keburukan itu dipermak sehingga terlihat indah dan kinclong di FB.

Mbak2 dan mas2 yang wajahnya biasa2 membohongi orang banyak di FB dengan memasang profile photo yang cantik2 dan ganteng2 (“thanks to Photoshop”).

 

Mahmud2 (mamah muda) yang kesehariaanya struggling mengurus anak balita dan suami membohongi di FB dengan menampilkan diri sebagai sosok ibu muda yang bahagia dan ceria (dengan postingan foto2: liburan ke Singapura, arisan sesama mahmud, atau shopping di mal).

 

First jobber milenial yang karir dan prestasi kerjanya pas2an membohongi di FB dengan menampilkan diri sebagai sosok aktif, positif, dan sukses (dengan postingan foto2 : keaktifan menghadiri beragam seminar, meeting dengan kolega di Starbucks, atau nge-gym di akhir pekan)

 

Entrepreneur tanggung yang bisnisnya struggling membohongi di FB dengan menampilkan diri sebagai sosok pebisnis sukses (dengan postingan foto2 : jadi pembicara beragam seminar publik, meeting dengan vendor di lobi hotel berbintang, atau peresmian pembukaan gerai baru).

 

Akibat dunia FB “wow”, kini makin banyak orang ngiri karena sebagian orang lain di FB positif, sukses, begitu bahagia, dan hebat, sementara mereka tidak. Ada yang kini stres karena merasa sudah jungkir-balik berjuang, namun tak kunjung sukses seperti teman2nya di FB yang mudah menuai sukses.

 

“Setiap orang berbohong di Internet,” kata Seth-Stephens Davidovitz dalam buku terbarunya: Everybody Lies: Big Data, New Data, and What the Internet Can Tell Us about Who We Really Are (2017).

Ujarnya: “In the internet, people lie to friends. They lie to colleagues. They lie to husbands and wives. They lie to boyfriends and girlfriends. They lie to government… even they lie to themselves.”

 

Dan tak hanya di FB, kebohongan itu tumbuh subur di medium jejaring sosial lain seperti Instagram, Twitter, atau WA. Di situ orang cenderung berbohong agar dirinya terlihat lebih cantik-ganteng, lebih baik, lebih positif, lebih sukses, lebih peduli, lebih pengertian, lebih harmonis… singkatnya, lebih hebat.

 

Kita berbohong di FB agar kita diterima dan diinginkan lingkungan sosial kita. Ini yang disebut: “social desirability bias”. Sejak awal menggunakan, kita “dididik” FB untuk berbohong pada orang lain. Melalui social desirability bias, berbohong jadi kebiasaan tiap kali kita meng-update status, memposting foto, atau mengunggah video di FB.

 

Bentuk kebohongan kita macam2 ada bohong besar (big lies), ada bohong kecil (small lies), ada bohong putih (white lies) yaitu bohong untuk kebaikan, juga bohong untuk promosi diri (self-promotion lies).

 

Menariknya, sebagian besar kebohongan kita di FB itu small lies yaitu kebohongan remeh2, kebohongan sepele, yang praktis tak merugikan orang lain, tak berisiko apapun, dan bukan kejahatan serius, sehingga begitu enteng kita melakukannya… setiap saat.

 

Karena tiap saat melakukannya, maka berbohong jadi naluri kita yang natural. Tak heran jika kebohongan demi kebohongan terjadi secara bawah sadar (subsconscious). Di FB sering kita tidak sadar bahwa kita telah berbohong.

 

Setelah baca tulisan ini, kini Anda tak perlu risau dan berkecil hati. Kalau dalam hati Anda berfikir Anda tidak hebat disbanding teman2 Anda di FB, maka Anda tidak sendirian. Mereka juga tidak hebat2 amat. Mereka berbohong agar terlihat hebat.

 

Ingat dua hal ini:

Pertama: “Mayoritas orang berbohong di FB”.
Kedua: “Percayalah, dunia tidaklah seindah postingan teman2 Anda di FB.”

 

Prasetya B Utama; Bahan dari : Yuswohady;  http://www.yuswohady.com/2018/03/10/setiap-orang-berbohong-di-facebook/)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close
Close