Aku cinta Indonesia

BPJS (FE 115)

Program BPJS adalah program bagus, suatu bentuk keadilan dalam pelayanan kesehatan,  sehingga perlu didukung kesuksesannya. Selama ini beaya obat, menginap di RS, operasi, kemo itu momok bagi rakyat kecil dan dengan BPJS beaya-beaya itu bisa dipangkas dan dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat.

 

Aturannya, untuk ikut BPJS, seluruh keluarga yang dimuat di KK harus ikut, tidak boleh hanya ibunya saja atau anaknya saja, pokoknya semua harus ikut. Nanti bayar iurannya ya semua anggauta keluarga di KK harus dibayar setiap bulan. Ya cukup berat juga, tapi manfaatnya juga sangat besar.

 

Kami mendaftarkan seluruh keluarga saya di Jogja. Saya, walau pelayanan kesehatan ditanggung Yakes Telkom, tetap harus ikut didaftarkan dan bayar Rp.80.000 / bulan. Mereka tidak mau mengerti penjelasan saya, aturannya begitu, tidak ada kompromi. Apa boleh buat, buat pensiunan ini terlalu mewah, pelayanan kesehatan kok dobel2, tapi saya terima saja dan sudah berjalan 3 tahun.

 

Saya pribadi jarang berobat, juga saat dulu tinggal di Bandung. Suatu hari, saya pengin mencoba berobat lewat BPJS, memanfaatkan fasilitas yang selama ini saya bayar. Lagi pula RS dimana saya terdaftar jauh lebih dekat dari pada poliklinik Yakes yang jaraknya lebih dari 20 km dari tempat tinggal saya.

 

Saya selama ini, alhamdulillah sehat2 saja, tapi tentu orang seusia saya, ada saja yang bisa dikeluhkan, sekalipun tidak terlalu mengganggu. Saya kemudian mendaftar ke Faskes 1, yaitu Rumah Sakit rujukan pertama, dalam hal ini RS Swasta Widuri, yang berada di desa tidak terlampau jauh dari rumah.

 

Istri saya mempertimbangkan selain jarak, RS ini buka 24 jam, jadi tiap saat ada dokter BPJS yang bisa menangani kami. Dokter dan pelayanannya baik. Sebuah pilihan yang cerdas. Saya kemudian mendaftar, menunggu, tidak sampai belasan menit, setelah ditimbang dan di data, diminta masuk ke ruang dokter.

 

Saya sampaikan keluhan saya dan saya langsung minta rujukan ke dokter spesialis. Ia memeriksa sebentar, kemudian menanyakan beberapa pertanyaan untuk melengkapi surat rujukan yang akan dia tulis.

 

Surat rujukan yang sudah di print, ditandatangani dan di cap, ditujukan ke klinik spesialis di RS Queen Latifa, di Ring Road Barat. Surat Rujukan ini berlaku selama satu bulan untuk penyakit dan klinik yang sama.

 

RS Latifa agak jauh, tapi tidak sejauh RS Sardjito atau RS Panti Rapih, lagi pula sangat mudah di akses, bebas dari kemacetan dan tanpa kesulitan mendapatkan parkir. Saya serahkan surat rujukan asli dan satu copy, serta photo copy KTP dan kartu BPJS.

 

Sesungguhnya kita bisa booking antrian lewat telepon, tapi karena baru pertama kali saya datang, saya mendaftar langsung dan mendapat nomor terakhir. Tidak sampai dua jam saya sudah diperiksa oleh dokter spesialis.

 

Ibu dokter memberi resep. Saya juga mendapatkan surat perintah untuk kontrol dua minggu mendatang. Surat perintah kontrol ini surat sakti karena kelak saya tunjukan ke pendaftaran, disertai fotocopy ktp dan kartu BPJS langsung bisa berlenggang berobat dan mendapat obat tanpa bayar satu rupiahpun.

 

Saya patuhi perintah kontrol 2 minggu kemudian dan saya tunjukan ke dokter bahwa penyakit saya a sudah sembuh, tapi dokter ingin saya sembuh total tidak kambuh lagi. Saya diberi resep dan diminta kontrol 2 minggiu lagi. Saya kemudian mengambil obat dan berlenggang pulang. Total di RS saya tidak sampai satu jam.

 

Kesimpulannya, berobat lewat BPJS itu mudah tidak ribet, cepat dan …… menyembuhkan. Alhamdulillah.

(Sadhono Hadi; dari grup WA-VN)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close
Close