Psikologi

Belajar dari Pretty Woman

Seorang ‘wanita cantik’ masuk ke pesawat dan mulai mencari tempat duduknya. Dia memperhatikan tempat duduknya berada di sebelah seseorang yang tidak punya kedua lengan tangan. Dia ragu2 untuk duduk di sebelahnya.

 

‘Wanita Cantik’ itu mengatakan ke pramugari, dia tidak bisa duduk di kursi dengan nomor yang sudah ditentukan dan bepergian dengan nyaman di sebelah orang yang tak punya kedua lengan tangan; dan meminta pramugari mengganti tempat duduknya.

 

Pramugari bertanya, “Nyonya, apa saya boleh tahu alasannya”? ‘Wanita Cantik’ : “Saya tidak suka dengan orang seperti itu. Saya tidak suka duduk di sebelah orang2 seperti itu dalam perjalanan ini”. Pramugari terkejut mendengar ini karena dari penampilannya, wanita ini seperti orang dengan sopan santun tinggi.

 

‘Wanita Cantik’ itu memberi tahu pramugari, dia tidak mau duduk di tempat itu dan minta pramugari mencarikan tempat duduk lain. Pramugari minta wanita itu bersabar dan mengatakan dia akan mencoba yang terbaik mengakomodasi permintaannya; dan cari tempat duduk kosong. Tetapi dia tidak dapat menemukannya.

 

Pramugari kembali menemui wanita itu dan berkata, “Nyonya! Semua kursi di kelas ekonomi penuh. Tapi untuk kenyamanan, kita selalu memberi yang terbaik untuk membuat penumpang kita semua puas”. Setelah mengatakan demikian, pramugari menemui kapten pesawat.

 

Setelah beberapa waktu, pramugari ini kembali dan memberi tahu wanita itu, “Nyonya! Kami sangat menyesal atas ketidaknyamanan anda. Di seluruh pesawat ini, hanya ada satu kursi kosong dan itu ada di Kelas Satu (First Class).

 

Saya berbicara dengan tim kami dan kami ambil keputusan luar biasa. Ini kejadian pertama kali di perusahaan kami untuk memindahkan penumpang dari Kelas Ekonomi ke Kelas Satu (First Class) ”

 

‘Wanita Cantik’ itu gembira dan sebelum wanita itu mengucapkan sepatah kata, … Pramugari beralih ke orang yang tidak memiliki kedua lengan dan berkata, “Tuan, bisakah anda pindah ke Kelas Satu (First Class)? Kami tak mau anda mengalami musibah dengan duduk di samping orang yang kurang sopan ini.”

 

Mendengar ini tiap orang bertepuk tangan dan menyambut baik keputusan itu. ‘Wanita Cantik’ itu sangat malu.

 

Orang itu berdiri dan berkata, *“Saya mantan prajurit dan kehilangan kedua tangan dalam ledakan bom saat tugas operasi di perbatasan Kashmir. Awalnya, ketika saya dengar wanita itu bicara, saya berpikir : Apakah saya mempertaruhkan nyawa saya untuk orang2 semacam ini? “

 

“Tapi setelah melihat tindakan kalian semua, saya merasa bangga karena saya kehilangan kedua tangan saya untuk negara saya.”* Dan setelah berkata demikian, dia pindah tempat ke Kelas Satu (First Class).

 

‘Wanita Cantik’ itu tepekur di kursinya. “Kecantikan tidak pada yang terlihat di wajah dan tubuh. Kecantikan pada orang yang baik ada di dalam pikiran orang luhur.” (Beauty is not in what is seen in face and body. Beauty in a good person is in his/her lofty thoughts.). (Joni Pathibang ex RisTI dan Dapen; bahan dari grup WA-sebelah)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Lihat Juga
Close
Back to top button
Close
Close