Islam

Kesehajaan Dan Husnudzan Di Bulan Ramadhan

(jatim.sindonews.com; oleh Ahmad Zainul Hamdi Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya)-Dia menerbitkan puisinya kali pertama saat usia(19) di sebuah harian nasional.

 

Sejak itu, puisi2nya lahir mengiringi pengembaraan jiwanya. Di tahun 2008, dia diundang panitia festival sastra internasional yang bergengsi, Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) untuk membacakan puisi-puisinya. Di 2011, dia diundang panitia Jakarta Berlin Arts Festival, di Berlin, Jerman.

Dia tidak sepiawai Tohpati dalam memetik gitar, tapi jemarinya lincah memainkan dawai alat musik yang biasa dimainkan Carlos Santana ini. Beberapa lagu pernah digubahnya. Saya suka satu lagu bossanova ciptaannya yang saya dengar saat dimainkan adiknya. Adiknya lebih akrab dengan grunge, genre musik yang pernah dipopulerkan oleh Kurt Cobain bersama Nirvana-nya.

Jika Anda bayang yang saya gambarkan ini sosok seperti Andrea Hirata atau Emha Ainun Najid, Anda salah. Dia M. Faizi, Lora dari Madura. Lora adalah panggilan putra kiai pada masyarakat Madura, seperti panggilan “Gus” di Jawa. M. Faizi putra kiai dari pesantren Annuqayah Guluk-Guluk, Sumenep, Madura.

Pesantren Annuqayah bukan pesantren modern ala Gontor, bukan lembaga pendidikan Islam berlokasi di perkotaan ala sekolah2 Islam terpadu yang menjamur. Annuqayah itu pesantren tradisional-tua di Desa Guluk Guluk, 23 km dari Sumenep. Bangunan pesantrennya berjajar dengan rumah2 penduduk  sederhana dan dikelilingi sawah atau perladangan khas alam Madura.

Sejak ayahnya wafat, M. Faizi mengganti posisi sang ayah mengajar ngaji santri. Tidak heran jika dia sering dipanggil “kiai” daripada “lora”. Walau bukan penikmat fanatik puisi2nya, namun saya sering menikmati rangkaian kalimat2nya di wall FB-nya, yang menggabungkan keindahan dan “kenakalan”.

 

Salah satu status FB-nya yang membuat saya tercenung, ketika dia menarasikan kesahajaan, keikhlasan dan husnudzon (perasangka baik) di Bulan Puasa. Saya kutipkan di bawah ini:

 

Gigihlah seperti anak remaja menunggu buka: mengumpulkan segala jenis makanan dan minuman, padahal setelah azan, seteguk air melupakan semuanya.

Ikhlaslah seperti musafir di warung terminal: asal muka tidak tampak, betis tak apa-apa kelihatan; dikira mokel padahal sedang mengambil rukhsoh safar.

Bait pertama mengajarkan kepada kita agar kegigihan tidak jatuh dalam kerakusan. Puasa mengingatkan kita perut memiliki kapasitas objektif. Ketika seseorang tidak makan-minum sejak pagi, bukan berarti perut sanggup menampung volume makanan dan minuman sehari dalam sekali santap.

 

Ketika ada orang terjebak dalam bencana sehingga tidak makan minum 2 hari 2 malam pun perutnya tidak akan sanggup melahap volume makanan dan minuman dua hari dalam sekali jamuan makan.

Ketika orang tak bisa bedakan kegigihan dan kerakusan, puasa menyadarkan batas2 kewajaran dalam memenuhi kebutuhan. Kini, kita berhasil menciptakan sistem penyimpanan canggih hingga kita bisa menyimpan kerakusan segunung dan seluas hutan hanya dalam catatan2 angka. Puasa menfasilitasi kita mengenali kewajaran memenuhi kebutuhan. “Mengumpulkan segala jenis makanan-minuman, padahal setelah azan, seteguk air melupakan semuanya” kata sang Lora.

Puasa menyediakan kesempatan bagi kita untuk memiliki kesantunan dalam kehidupan bersama. Tapi, tidak jarang pelaku puasa justru dihinggapi kesombongan karena merasa diri sebagai orang suci. Orang seperti ini tidak jarang jatuh ke dalam sikap su’udzon (berprasangka buruk) pada siapa saja yang makan di siang hari di Bulan Puasa.

Orang seperti ini lupa Tuhan tidak memerintah manusia berpuasa dalam rangka membunuhnya. Karena itu Allah mengizinkan orang2  yang tidak sanggup menjalankan puasa karena sangat kepayahan, misalnya orang dalam perjalanan (safar), sakit, atau orang tua, untuk tidak berpuasa.

Puasa yang seharusnya membuat jadi andap asor (sopan santun), justru memupuk kesombongan pelakunya hingga membubung tinggi melebihi Tuhannya. Kesombongan itu menuntunnya melihat siapa saja dengan prasangka buruk karena menganggap diri tidak memiliki cela.

 

Mungkin ini yang dimaksud sang Lora ketika dia menulis, “Ikhlaslah seperti musafir di warung terminal: asal muka tidak tampak, betis tak apa2 kelihatan; dikira mokel padahal mengambil rukhsoh safar” (msd; Bahan dari : SindoNews dan https://jatim.sindonews.com/read/10639/1/kesahajaan-dan-husnudzan-di-bulan-ramadhan-1557932731)-FatchurR *

*** Rukhsoh artinya : Izin Pengurangan Atau Keringanan. (FR)

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close
Close