Islam

Jadi Lebih Baik Sepanjang Waktu

(mediaindonesia.com)-BULAN suci Ramadan disambut kaum muslimin penuh semangat sehingga atmosfer spiritualitas umat meningkat. Aspek2 kehidupan dikaitkan ibadah, seperti tarawih, tadarus, berbagi takjil, mebayar infak, dan sedekah.

 

Karena Ramadan itu syahrul ibadah atau syahrul qiyam (bulan beribadah). Di awal bulan suci masjid dan musala dipenuhi orang beribadah. Santunan kepada yatim dan duafa, tontonan di TV dipenuhi tausiah. Sinetron dan seabrek aktivitas lain bermuatan kebaikan dan kesalehan.

 

“Patut disyukuri dan gembira atas semangat ibadah yang semarak ini karena Ramadan itu anugerah dan kado spesial dari Allah SWT untuk umat Nabi Muhammad SAW. Datang setahun 1x memuliakan umat Islam dengan segala keistimewaannya,” kata KH Cholil Nafis ke Media Indonesia di Jakarta, (19/5).

 

Namun, Ketua Komisi Dakwah MUI itu mengingatkan agar Ramadan yang penuh berkah jangan dikultuskan karena umat muslim jadi saleh dan baik selama sebulan saja. Setelah Ramadan, kebaikan dan kesalehan menjadi minimalis.

 

“Jadi, kita jangan mengultuskan Ramadan. Karena Ramadan itu media ‘pembakaran ego’ sehingga rohaniah atau spiritualitas manusia berfungsi baik. Jadilah kita hamba Allah SWT dengan seluruh ketaatan kepada-Nya, selama dan setelah Ramadan,” katanya.

 

Ia kutip pesan ulama yang menegaskan, “Jadilah kalian hamba Allah, dan janganlah kalian menjadi hamba Ramadan.” Pesan para ulama itu, sejalan spirit dari QS: Al-Baqarah ayat 183 yang terkenal sebagai dalil utama perintah Allah SWT bagi umat Islam berpuasa.

 

Muara dari puasa ialah ketakwaan permanen dan bukan temporer. Capaian takwa yang dikehendaki dari amalan Ramadan bersifat utuh dan kontinu sehingga perlu upaya agar konsisten atau istikamah 11 bulan berikutnya dalam menjalani kehidupan.

 

Cholil yang meraih doktor di University of Malaysia mengatakan, tidak mudah untuk istikamah. Pasalnya, upaya2 manusia acap terhalang oleh ego. Ego itu satu kesatuan diri (nafs) yang menyatu dalam struktur kepribadian manusia, sebagaimana psikolog terkemuka, Sigmund Freud, pernah mengulasnya.

 

Kendalikan ego

Kebanyakan manusia menghadapi masalah serius atas egonya. Karena itu, keberadaan ego seorang muslim mendapat perhatian ekstra lantaran kerap membuat orang terlena. Tidak jarang seseorang mampu mengalahkan pertempuran dengan setan yang membisiki maksiat atau mempertuhankan makhluk lainnya, tetapi justru kalah atas dirinya sendiri.

 

Maka dari itu, menurut lulusan magister UIN Syarief Hidayatullah Jakarta itu, wajar bila Nabi SAW berpesan ke umat Islam pasca memenangkan perang Badar yang berat dan terjadi di bulan puasa pada 17 Ramadan. Ia kutip pernyataan Nabi SAW. “Kalian telah pulang dari pertempuran kecil menuju pertempuran akbar.”

 

Sahabat bertanya, “Apakah pertempuran akbar (lebih besar) itu Rasul? Rasul menjawab, “Jihad (memerangi) hawa nafsu.” Ini sama maknanya dengan hadis: “Jihad yang terutama adalah seseorang berjuang melawan dirinya dan hawa nafsunya.” (HR Baihaqi). Karena itu, ibadah puasa jadi perisai bagi mukmin untuk mengendalikan ego agar tetap bisa dikontrol penuh oleh kesadaran batin.

 

“Marilah kita manfaatkan puasa sebulan penuh ini untuk membakar ego agar jadi pribadi matang. Sejatinya, orang yang paling mulia di sisi Allah SWT itu yang mampu mengendalikan egonya sehingga terwujud dalam sikap dan karakter terpuji pada aktivitas sehari-hari,” pungkas pengurus pada PBNU itu. (H-1; Syarief Oebaidillah; Bahan dari : https://mediaindonesia.com/read/detail/236956-menjadi-lebih-baik-sepanjang-waktu)-FatchurR *

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Lihat Juga
Close
Back to top button
Close
Close