Iptek dan Lingk. Hidup

Apakah Robot Itu Solusi Kebutuhan Kaum Jompo

(bbc.com/indonesia)-Resepsionis di Institut Inovasi Media (Institute of Media  Innovation/IMI) di Universitas Teknologi Nanyang di Singapura adalah perempuan berambut coklat bernama Nadine Dari jauh, tidak ada yang aneh penampilannya. Jika dilihat dari dekat, keraguan muncul. Dia adalah robot.

 

Nadine itu robot “cerdas” yang mampu bertindak independen. Untuk sebuah mesin, penampilan dan perilakunya alami. Dia dapat mengenali orang dan emosi manusia, dan dapat mengaitkan hal menggunakan database pengetahuannya. Di IMI, kemampuan Nadine masih ditingkatkan sebagai resepsionis. Namun tak lama, Nadine dapat jadi suster perawat nenek Anda.

 

Populasi menua

Penelitian menggunakan robot sebagai perawat atau suster makin meningkat. Tak sulit melihat mengapa. Populasi global makin menua, yang menekan sistem layanan kesehatan. Banyak jompo usia 80-an mungkin hanya butuh teman untuk mengobrol atau seseorang yang dapat mengawasi jika mereka jatuh. Namun, sebagian  mereka menderita penyakit serius, seperti demensia.

 

Bagaimana kita menyediakan perawatan bermutu mengatasi kebutuhan ini? Banyak pakar berpikir jawabannya robot. Nadine dikembangkan tim yang dipimpin Prof Nadia Thalmann. Mereka meneliti manusia virtual bertahun-tahun. Nadine, telah ada tiga tahun. “Dia berkapasitas seperti manusia untuk mengenali orang-orang, emosi dan pada saat bersamaan mengingat mereka,” kata Prof Thalmann.

 

Secara otomatis, Nadine beradaptasi dengan orang dan situasi yang dihadapinya, dan cocok merawat orang tua. Robot ini memonitor kesehatan pasien, minta bantuan dalam kasus darurat, mengobrol, membacakan cerita atau bermain. “Humanoid tidak pernah letih atau bosan,” kata Prof Thalmann. “Dia mengerjakan apa yang ditugaskan.”

 

Namun, Nadine tidak sempurna. Dia sulit mengerti logat, dan koordinasi tangannya belum sempurna. Namun Prof Thalmann berkata robot sudah dapat merawat orang tua dalam 10 tahun.

 

Belum siap untuk robot

Perusahaan teknologi raksasa AS, IBM, juga sibuk meneliti robo-nurse (robot perawat), bekerja sama dengan Universitas Rice di Houston, Texas. Mereka menciptakan Multi-Purpose Eldercare Robot Assistant (Mera) IBM atau robot asisten perawat multifungsi. Mera dapat memonitor detak jantung dan pernafasan pasien dengan menganalisa video muka mereka.

 

Robot itu dapat melihat apakah pasien jatuh dan menyalurkan informasi ke perawat. Namun, tidak semua siap untuk perawat robot, terang Susann Keohane, pemimpin penelitian global untuk inisiatif strategis pada penuaan IBM. Ini didukung penelitian yang dilakukan Gartner, yang menemukan “perlawanan” untuk penggunaan robot humanoid dalam perawatan orang tua.

 

Orang-orang tidak nyaman dengan ide orang tua mereka dirawat robot, meski bukti menunjukkan itu lebih hemat, kata Kanae Maita, analis utama di inovasi teknologi personal di Gartner Research.

 

Internet of  things

Di tengahh keraguan itu, IBM yakin penelitian Internet of Things (IoT) terbukti tercapai lebih segera. Perusahaan itu meneliti sensor dan IoT dapat mengidentifikasi perubahan di kondisi fisik atau anomali di lingkungan seseorang.

 

Dengan merekam bacaan atmosfer (seperti karbon dioksida) di ruang pasien, perawat mengerti kebiasaan seseorang, seperti kapan mereka makan siang, atau berjalan, tanpa menyerang ruang pribadi mereka. Para perawat dapat menandai perubahan dengan cepat dan merespon sesuai kebutuhan.

 

Keohane berkata: “Ada kesempatan nyata menciptakan solusi inovatif baru, termasuk penggunaan robot dan Internet of Things, yang akan membantu orang-orang mengembangkan independensinya, dan memperkaya kualitas kehidupan mereka.”

 

Robo pets (robot peliharaan)

Meski penggunaan humanoid makin melebar masih panjang, , robo-pets (robot peliharaan) sudah digunakan di dunia. Dikembangkan di Jepang, Paro adalah terapis bayi anjing laut bayi yang telah menunjukkan dapat mengurangi tanda perilaku dan psikologi demensia. Anjing laut merespon sentuhan dan didesain untuk membuat kontak mata. Sudah digunakan 5.000 buah.

 

Percobaan klinis dengan pasien demesia, oleh tim Dr Sandra Petersen di Universitas Texas di Tyler, Texas, menemukan Paro memperbaiki gejala seperti depresi, kecemasan dan stress. Kebutuhan  pengobatan yang terkait gejala dapat dikurangi hingga 1/3nya.

 

Dalam beberapa kasus hasilnya lebih mengagumkan. Dr Petersen berkata: “Pasien yang sudah non-verbal mulai berbicara lagi – awalnya ke anjing laut, lalu ke orang lain tentang anjing laut.” Ada kelemahan dari robo-pets, seperti diakui Dr Petersen – yang nyata biayanya. Sebuah Paro berbiaya US$5.000 (Rp66 juta).

 

Ada keengganan orang orang medis mengadopsi terapis yang tidak memiliki latar belakang farmakologi.  Namun, Dr Petersen yakin Paro berperan di banyak lingkup berkaitan kesehatan, karena kecerdasan buatan anjing laut itu dapat diprogram untuk mengadaptasi serangkaian tingkah laku

 

“Saya kira Paro dapat berperan di perawatan post-traumatic stress disorder (stress akibat trauma), dalam rehabilitasi neurokognitif di pasien stroke, dengan pasien yang kesakitan atau dalam perawatan paliatif,” katanya. “Anak-anak dengan autism dapat membaik dari interaksi dengan anjing laut.”

 

Masalah etis

Ada kelemahan dari solusi robotik ini. Satu isu, kata Prof Sethu Vijayakumar, direktur Pusat Robotik Universitas Edinburgh, apakah penyebaran perawat humanoid dapat mengarah ke isolasi yang semakin besar bagi para orang tua.

 

“Kita harus tanya: apakah (robot) mengisolasi manusia makin dalam, atau benar membantu manusia?” kata Prof Vijayakumar. Robot juga menimbulkan kekhawatiran tentang isu data pribadi, tambahnya.

 

“Mutu dan personalisasi layanan [robotik] secara proporsional berkaitan dengan jumlah data yang anda masukkan ke sistem. Data anda menjadi sejenis kurs untuk akses atas layanan yang lebih baik.

 

“Sebuah harga yang menarik untuk masalah etis. Sebuah area yang sensitif.” Mengesampingkan kekhawatiran yang ada, Prof Vijayakumar berkata perkembangan robot perawat tak dapat dielakkan. “Jika demografis tak berubah, kita akan lihat robot yang signifikan untuk mengurusi masalah usia tua.”

(Gabriella  Mulligan;  Bahan dari : https://www.bbc.com/indonesia/majalah-39301221)-FatchurR *

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.




Enter Captcha Here :

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Lihat Juga
Close
Back to top button
Close
Close