Selingan

Wayang Gatutkaca (30)-Duta sayembara

Dewabrata, yang sekalipun masih muda tetapi sudah sering bertapa, sudah banyak menimba ilmu kenegaraan dan ilmu kehidupan manusia, akhirnya menguatkan diri dan berkata.

“ Ibu Durgandini, agar ibu tidak ragu dengan keputusan saya, dunia seisinya menjadi saksi, mulai saat ini saya akan menjalani hidup wadat, tidak akan kawin seumur hidup saya”, kata Dewabrata mantap.

Pada saat itu dunia seakan tergoncang demi mendengar perkataan Dewabrata. Para bidadari menangis menyaksikan keputusan Dewabrata. Kalau para dalang dalam becerita, sering ditambahi dengan adanya suara petir menggelegar yang menjadi pertanda sumpahnya sampai ke telinga para dewa.

Maka, hari-hari berikutnya kerajaan Astina sibuk mempersiapkan perkawinan Prabu Sentanu dengan Dewi Durgandini. Pesta pernikahan berlangsung meriah dengan mengundang tamu dari berbagai Negara.

Singkat cerita, dengan Dewi Durgandini, Prabu Sentanu mempunyai dua anak, yaitu Citragada dan Citrawirya. Dewabrata kemudian mejalani hidup sebagai pertapa, sebagai orang suci yang disebut Resi dan namanya lebih terkenal sebagai Bisma atau Resi Bisma, yang berarti ‘sumpah yang dahsyat’, karena sumpah untuk hidup membujang seumur hidup.

Ketika Citragada sudah dewasa, Prabu Sentanu menyerahkan tahta kerajaan Astina keapda Citragada. Prabu Sentanu kemudian menjadi pertapa.

Citragada sekarang menjadi raja Astina. Namun Citragada mati muda, mangkat dalam suatu peperangan. Maka sesuai Undang-undang yang berlaku saat itu, tahta Astina kemudian diserahkan kepada adiknya, Citrawirya, sekalipun masih muda juga.

Ketika Citrawiya telah dewasa, di negeri Kasi ada sayembara adu kesaktian, dalam rangka mencarikan calon suami bagi putri kerajaan Kasi tersebut.

Sebenarnya sudah menjadi tradisi, setiap putri negara Kasi sudah dewasa, diserahkan kepada Negara Astina. Namun, ketika raja Astina dipegang Citrawirya, Kasi memilih mengadakan sayembara untuk mencarikan jodoh putrinya.

Karena Citrawirya dianggap kurang sakti, maka Dewi Durgandini dan Prabu Sentanu meminta tolong kepada Bisma atau Dewabrata yang memang sakti mandraguna untuk mengikuti sayembara tersebut. Jika bisa memenangkan sayembara itu, Putri Kasi tersebut akan dikawinkan dengan Citrawirya. Bisma menyanggupi, kemudian berangkat ke Kasi untuk mengikuti sayembara.

Satu persatu peserta sayembara memamerkan kesaktiannya, satu persatu pula peserta bertumbangan. Pada akhirnya Bisma bisa mengalahkan semua peserta, maka kemudian Bismalah sebagai pemenangnya.

Pada saat “penyerahan hadiah” , Bisma baru tahu, ternyata yang menjadi “hadiah”, yang berupa putri Negara Kasi tersebut bukan hanya satu orang, melainkan tiga orang, yaitu Dewi Amba, Dewi Ambika dan Dewi Ambalika. Bisma lalu memboyong ketiga putri Kasi tersebut untuk dinikahkan dengan adik tirinya, Citrawirya.

Sesampai di Astina, ketika diserahkan kepada Citrawirya, Dewi Amba berterus terang bahwa dia sebenarnya telah punya pacar, yaitu Prabu Citramuka dari negara Swantipura. Citrawirya mengijinkan Dewi Amba meninggalkan Astina untuk menikah dengan Raja Swantipura itu. Menurutnya tidak baik memisahkan cinta antara dua orang anak manusia, apalagi mereka sudah sepakat untuk hidup bersama. Akhirnya Citrawirya menikahi Dewi Ambika dan Dewi Ambalika.

Di waktu-waktu selanjutnya, Citarwirya yang mengawini Dewi Ambika dan Dewi Ambalika ternyata belum juga dikaruniai anak. Bahkan, tidak lama kemudian Citrawirya meninggal dunia karena sakit paru-paru.

Dewi Durgandini dan Prabu Sentanu tentu sangat sedih dengan meninggalnya kedua putranya, Citargada yang kemudian disusul Citrawirya. Mereka tak lagi mempunyai putra mahkota sebagai pengganti raja di Astina.

Maka Dewi Durgandini kemudian meminta Bisma untuk menjadi rasa Astina yang kini kosong tanpa raja, serta mengawini Dewi Ambika dan Dewi Ambalika, agar Negara Astina kelak mempunyai calon pewaris tahta selanjutnya. Dewi Durgandini juga meminta maaf, karena dulu telah memintanya untuk tidak menjadi pewaris tahta Astina dan kini yang terjadi sangat tidak sesuai harapannya, harapan banyak orang juga.

Bisma hanya diam mematung. Di benaknya tergambar berbagai peristiwa, sejak kecil ditinggal ibu, tidak sempat dimanjakan dan memanjakan, bahkan melihat wajahnyapun belum pernah. Kemudian untuk menyenangkan ayahnya, yaitu Prabu Sentanu, dia rela menjadi wadat. Lalu mengikuti sayembara di Kasi dan pulang membawa Dewi Amba, Dewi Ambika dan Dewi Ambalika, disusul ‘perginya’ Dewi Amba sampai matinya Citrgada dan Citrawirya.

Sekian lama membisu, Bisma kemudian menjawab, bahwa dia tetap pada keputusan semula, tidak akan menduduki tahta Astina dan tidak akan menikah seumur hidup.

Kini Dewi Durgandini dan Prabu Sentanu yang lebih bingung, sebab tidak ada lagi keturunan Prabu Sentanu yang akan menduduki tahta Astina. Maka kemudian mereka atas sepersetujuan Bisma, mereka memanggil Abiyasa untuk menduduki tahta Astina, sekaligus mengawini Dewi Ambika dan Dewi Ambalika.

Setelah diceritakan semua yang terjadi dan diceritakan pula masa depan Astina yang suram jika tidak ada yang meneruskan tahta, maka Abiyasa menerima permintaan Dewi Durgandini dan Prabu Sentanu untuk menduduki tahta Astina dan mengawini kedua putri itu.

Acara pesta pernikahan akan dilangsungkan dengan meriah dan besar-besaran, berbarengan dengan upacara pelantikan Abiyasa sebagai raja Astina yang baru. Maka kini di negeri Astina para punggawa dan rakyat semuanya sibuk membicarakan dan menyiapkan kedua acara besar itu.

Namun demikian acara pernikahan secara agama segera dilangsungkan. Artinya sebelum pesta diadakan dan masih menunggu waktu itu, Abiyasa telah secara sah menikahi Dewi Ambika dan Dewi Ambalika. Hal ini dilakukan atas desakan Dewi Durgandini yang ingin segera mempunyai cucu, calon pewaris tahta Astina.

Dewi Durgandini lupa, Abiyasa lama hidup di pertapaan, di hutan jauh dari pergaulan pada umumnya, apalagi pergaulan keraton yang penuh tata cara. Dia lupa memberikan ‘pelatihan’, minimal ‘pelajaran’ kepada Abiyasa bagaimana bergaul hidup sebagai manusia normal, hidup sebagai anggota istana, dan yang lebih penting hidup sebagai suami yang harus menyayangi dan bergaul dengan istri.

Sebagai petapa lama dan hidup sebagai Begawan, Abiyasa sakti, apa yang dia ucapkan bisa menjadi kenyataan, bisa terjadi. Ucapannya bertuah. Di sisi lain, Abiyasa belum bisa meninggalkan kebiasaan sebagai pertapa, yang hidup seadanya, dengan pakaian sederhana.

 

Apalagi selama ini juga belum pernah hidup bersama wanita. Nah, yang sangat menyebalkan, dia belum mau berhias diri, merawat diri, merapikan diri, sebelum menemui istri-istrinya.

Pada malam pertama setelah resmi menikah, Abiyasa dan Dewi Ambika memasuki kamar pengantin. Dewi Ambika yang sejak kecil hidup di lingkungan keraton dengan berbagai adat, penuh sopan santun, kerapian dan keindahan, kaget menghadapi Abiyasa yang berambut masih gondrong awut-awutan.

 

Kumis, jambang dan jenggot tidak tercukur rapi, berantakan. Maka Abiyasa yang sebenarnya ganteng itu di mata Dewi Ambika malah terlihat menakutkan, seperti hantu, apalagi di malam dengan penerangan minim. Selain itu Abiyasa juga tidak tahu bagaimana caranya merayu, menyenangkan istri.

 

Maka pada malam itu Dewi Ambika justru takut melihat wajah Abiyasa, dia memejamkan matanya. Abiyasa yang melihat kejadian itu, bukan maklum, tetapi malah merasa tersinggung dengan sikap Dewi Ambika.

“ Kok kamu malah memejamkan mata? Kelak anakmu akan terlahir buta !”, kata Abiyasa. Dewi Ambika sangat kaget mendengar ini, karena dia tahu apa kata Abiyasa bisa menjadi kenyataan.

Pada malam kedua, yang masuk ke kamar pengantin adalah Dewi Ambalika. Teringat yang terjadi malam sebelumnya, Dewi Ambika menasehati Dewi Ambalika agar jangan memejamkan mata ketika berhadapan dengan Abiyasa.

Begitu bertemu dengan Abiyasa di kamar pengantin, Dewi Ambalika juga merasa takut oleh penampilan Abiyasa yang kusut dan rambut awut-awutan itu. Namun dia juga ingat nasehat kakaknya, Dewi Ambika. Maka Dewi Ambalika tetap memandang Abiyasa, tidak memejamkan mata. Namun, ketakutannya tidak bisa disembunyikan, wajahnya pucat pasi. Abiyasa kemudian berkata :

” Kamu kok pucat pasi begitu. Kelak anakmu akan terlahir pucat!”

Pagi harinya, kejadian di 2 malam itu diceritakan Dewi Ambika dan Dewi Ambalika ke Dewi Durgandini. Dewi Durgandini kaget dengar cerita ke-2 menantunya itu. Dia takut, karena yakin cerita itu jadi nyata. Sungguh tidak diharapkan punya cucu calon pewaris tahta kerajaan besar Astina cacat, yang satu buta dan yang satu lagi pucat . Bersambung Jum’at depan……; (Widharto KS-2017; dari grup FB-ILP)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Enter Captcha Here :

Back to top button
Close
Close