RSS Feed     Twitter     Facebook

Bermenung-Pensiun : Perlukah

Vote This Post DownVote This Post Up (No Ratings Yet)
Loading...
   View : 58 views    Font size:
Bermenung-Pensiun : Perlukah

// Tulisan ini mungkin tidak cocok bagi pembaca yang kebanyakan sudah dapat uang pensiun. Namun bisa sebagai wawasan untuk keluarga yang bekerja belum dapat jaminan pensiun. Boleh juga bagi anda yang mau menambah uang pensiun. Atau menambah semangat kita untuk bersyukur, karena sudah mendapatkan, walau kadang terasa kurang //

Jaman kecil Pak Sabar tinggal di desa kecil. Kebanyakan warga desa itu hidup sebagai petani atau buruh tani. Waktu itu kehidupan sulit. Pendapatan per kapita rakyat Indonesia saat itu, dihitung dengan dolar, nilainya hanya 1/6 dari pendapatan sekarang.

 

Jadi andaikan ada orang Bapak A berpendapatan sebulan 6 juta rupiah, maka jika dia hidup di jaman itu pendapatannya hanya satu juta rupiah, dengan uang sekarang. Kalau ada yang penghasilannya 3 juta rupiah, alias di jaman itu hanya 500 ribu rupiah sebulan. Bagaimana kalau punya istri, punya anak? Tentu sulit.

Maka di jaman itu banyak pegawai kecil yang gaji sebulan sudah habis dimakan seminggu. Kalau tidak kuat iman, dia akan keluar dan mencari pekerjaan lain yang ternyata sebenarnya juga sulit. Masih mending kalau tinggal di desa. Masak bisa dengan kayu bakar yang tinggal mencari di sekitar rumah atau di hutan.

 

Sayuran bisa mencari yang tidak dimiliki orang, misalnya daun sintrong, rendeng (kaki kuda), genjer, dsb. Atau minta tetangga, kalau sekedar lompong (pelepah talas), daun pepaya atau buah yang akan dikasih. Lauk pauk bisa mencari di sungai (ikan) atau di sawah (belut). Nah. kalau tinggal di kota harus memasak dengan minyak tanah yang harus dibeli, membayar listrik, hidup tentu akan lebih berat lagi.

Bapaknya Pak Sabar di desa itu tidak disebut miskin. Tapi ya kekurangan juga. Sawah dan kebun miliknya satu persatu dijual untuk biaya sekolah anak-anaknya. Nah, ketika sudah tidak punya sawah ini hidup terasa berat, sebab sudah tidak lahan penghasil padi. Hanya “tegalan” (huma) yang menghasilkan kayu bakar, kelapa dan kadang singkong serta pisang.

Untunglah! Bapaknya Pak Sabar adalah seorang pensiunan. Tapi ya kecil saja, kalau di kurs dengan uang sekarang, kira-kira hanya cukup untuk membeli beras 30 kg saja! Namun saat itu pensiun sebesar itu sudah lumayan.

 

Sudah bisa hidup dengan memasak beras sehari satu kilogram untuk sekeluarga yang 5 orang! Tentu berasnya dipilih yang sudah lama, agar mekar dan menjadi banyak kalau dimasak dan cukup untuk dimakan dua kali, siang dan malam dengan dibagi rata. Lauknya sayur seadanya, masih syukur kalau bisa beli tempe atau tahu.

Dengan pensiun sebesar itu, orang tua Pak Sabar sudah tidak tergolong hidup layak, menurut ukuran kampung di jaman itu. Banyak tetangganya yang lebih sulit hidupnya, terutama para buruh tani, apalagi jika sedang paceklik. Misalnya musim tikus yang meraja lela atau kemarau panjang. Hasil menjadi buruh tani, hasil ikut menanam padi menjadi tidak cukup dimakan.

Begitulah pensiunan. Walaupun kecil, kalau ada uang pensiun hidupnya lumayan, hati agak tenang, minimal bisa makan rutin sebulan. Terutama kalau sudah tua, badan sudah tidak bisa lagi kerja berat dengan tenaganya.

Jadi tidak ada salahnya kita mempersiapkan uang pensiun, khusunya bagi yang belum otomatis akan mendapat uang pensiun.

Uang pensiun di sini bisa didapat dengan berbagai cara. Pertama menabung dan ikut lembaga yang bisa menyediakan pensiun. Lembaga seperti ini sekarang banyak jumlahnya. Kita bisa rutin menabung dan kelak akan mendapat uang pensiun.

Kalau takut kena inflasi, bisa juga kita menabung emas (emas beneran, misalnya emas murni atau berbentuk ring saja) rutin setiap bulan misalnya 1 gram, 5 gram atau 10 gram. Tapi “harus” diniatkan untuk pesiaun ya.

 

Jangan diambil untuk keperluan apapun (membeli sawah, membeli kendaraan, mantu, dsb), sebelum kita memutuskan untuk pensiun. Kelak sesudah kita tidak sanggup bekerja keras, diambil tiap bulan 1 – 10 gram untuk kebutuhan sehari-hari.

Cara lain adalah dengan mempunyai usaha yang mendatangkan hasil secara rutin dan tidak memerlukan otot atau tenaga besar dalam mengelolanya. Misalnya mempunyai kebun kelapa, kebun cengkeh, kebun duku/ langsat, kebun kayu (jati, albasia, bambu), dan semacamnya yang bisa dipanen dan ditanami kembali secara bertahap.

Bisa pula mempunyai sawah, kemudian dikelola sendiri. Sekarang ini membajak sawah, menanam, menyiangi sampai memanen bisa menyuryuh orang dan tinggal meng-sms saja, tenaga akan datang sendiri. Sawah bisa juga diserahkan ke orang untuk dikelola dengan sistem bagi hasil.

Bisa juga mempunyai sawah, kebun atau tambak, atau lahan luas di kota lalu disewakaan. Kalau di kota untuk parkir. Alternatif lain misalnya membuat kos-kosan yang memang perlu dikelola, namun tidak berat. Tidak setiap hari harus mengurusnya. Pemilik masih bisa ke mana-mana, tidak terikat dengan kos-kosannya.

Tentu masih banyak cara lain. Intinya adalah kegiatan yang menghasilkan uang, namun dengan mengeluarkan tenaga sedikit atau bahkan tidak sama sekali . (Widartoks 2016; dari grup FB-MKPB Telkom)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

*

code