RSS Feed     Twitter     Facebook

Tentang Hadits(1): Hadits Qudsi (TA 230)

Vote This Post DownVote This Post Up (No Ratings Yet)
Loading...
   View : 26 views    Font size:
Tentang Hadits(1): Hadits Qudsi (TA 230)

Bila Nabi s.a.w. menyandarkan perkataannya kepada Allah, dengan mengatakan: ‘Allah berfirman ……… ‘ maka itulah hadits Qudsi. Dilihat dari sumbernya, Hadits lain, hadits Nabawi (hadits Nabi), beliau tidak mengatakan ‘Allah berfirman …. atau …. berfirman Allah ……’

 

Hadits Qudsi itu titah Allah yang disampaikan pada Nabi di dalam mimpi atau jalan ilham, lalu Nabi menerangkan apa yang diimpikan itu, dengan susunan perkataan beliau sendiri serta menyandarkannya kepada Allah (Ath Thibi). Hadits Qudsi juga dinamakan hadits Ilahi atau hadits Rabbany (Al Kimani).

 

Lalu apa perbedaan antara Al Qur’an dengan Hadits Qudsi ? Al Qur’an ialah wahyu yang lafadh dan maknanya dari Allah, sedangkan hadits Qudsi, ialah wahyu yang lafadh-nya dari Rasul, sedang maknanya dari Allah (Abu Baqa’ al Ukbari).

 

Sebagian ulama berkata, ‘Al Qur’an lafadh-nya tidak dapat seluruh ahli membuatnya seperti itu, diturunkan dengan perantaraan Malaikat Jibril. Hadits Qudsi tidak diturunkan melalui malaikat Jibril. Hadits Qudsi tidak boleh dibacakan dalam shalat, sedangkan ayat Al Qur’an dibacakan dalam shalat.

 

Al Qur’an mengandung mukjizat, membacanya termasuk ibadah, baca hadits Qudsi tidak. Seorang ulama, Muhammad al Madani (wafat 881H/1476 M), memilih dari al Kutup as Sittah atau kitab hadits Enam (insya Allah kelak akan saya uraikan), sebuah himpunan hadits Qudsi yang berisi 858 hadits Qudsi.

 

Contoh hadits Qudsi, Rasulullah bersabda, “Allah SWT berfirman: Aku adalah menurut persangkaan hamba-Ku. Dan Aku bersamanya dimana saja dia menyebut (mengingat)-Ku” (HR Bukhari dari Abu Hurairah),

 

Contoh lain hadits Qudsi, Rasulullah SAW bersabda, Allah SWT berfirman, “Seluruh amal anak Adam untuk dirinya sendiri kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku dsa an Aku yang akan memberikan balasannya. Puasa itu perisai.

 

Apabila seseorang kamu berpuasa, janganlah dia memaki-maki, mengeluarkan kata-kata keji dan jangan dia berhiruk-pikiu. Jika ia dicarut oleh seseorang, atau (akan) dibunuh, hendaklah ia katakan:  Saya berpuasa. (HR Al Bukhary, Muslim); (Sadhono Hadi; dari grup WA-VN)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

*

code