RSS Feed     Twitter     Facebook

Pinjaman (TA 256)

Vote This Post DownVote This Post Up (No Ratings Yet)
Loading...
   View : 33 views    Font size:
Pinjaman (TA 256)

“ …… wa aqridhuullaaha qardhan hasanan ……”

“…. berikan pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik” (potongan ayat surat Al Muzzammil QS 73:20)

Allah sengaja memilih kata “pinjaman”, dengan makna yang dalam untuk direnungkan.

 

Tidak main-main, sedekah yang kita berikan adalah pinjaman kepada Allah dan kelak pinjaman itu akan dikembalikan, ini janji Allah. Akankah kita ragu Allah akan cidra janji? Tentu tidak, pasti akan dikembalikan saat diakhirat.

 

Hamka dengan tangkas mengumpamakan dengan cerita yang sering kita dengar, “Jika burung terbang 10 ekor, kamu tembak, lalu jatuh 4; berapa yang tinggal?”. Orang yang tak sempat berpikir dijawabnya, “6 yang tinggal.” Tetapi orang yang berpikir lebih dalam menjawab, “Yang tinggal 4 ekor yang telah kena tembakan itu. Adapun yang 6 terbang pergi jauh entah kemana, belum tentu akan kita dapat lagi!”

 

Hamka melanjutkan sebuah kisah nyata penjabaran dari ayat suci diatas. Pada suatu hari singgahlah Hamka di kota Semarang, menemui dermawan yang patut dihargai di jaman seperti sekarang. Dia wakafkan sebagian dari kekayaannya untuk mendirikan rumah sakit dan diserahkan pengurusannya kepada organisasi agama.

 

Dia telah berkata pada anak2nya ketika akan memberikan wakaf itu, “Harta benda yang untuk kamu, wahai anak2ku sudah ada ketentuannya di Al Qur’an. Jika ayah mati, maka di saat ruh ayah bercerai dengan badan, harta itu semua kamu yang empunya. Di saat itu tidak ada sebuahpun yang akan ayah bawa ke akhirat, selain lapis kain kafan pembungkus diri sampai hancur.

 

Sebab itu, sebelum ayah meninggal ini, biarkanlah ayah mengirim lebih dulu harta yang akan ayah dapati di akhirat, dengan jalan mendirikan RS sakit untuk menolong orang2 miskin yang tidak kuat membayar mahal dan dipelihara oleh perkumpulan Islam yang dipercayai. Apa yang ayah amalkan dan kirimkan “terlebih dahulu” itulah yang jelas harta ayah”.

 

Anak2nya pun menerima keinginan ayahnya itu dengan ikhlas. “Dan mohonlah ampun kepada Allah”, karena sebagai manusia yang hidup, tidak akan sunyi kamu dari kealpaan dan kekhilafan. Yang penting adalah mengakui kekurangan diri di hadapan kebesaran Allah. (Sadhono Hadi; dari grup WA-VN)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

*

code