RSS Feed     Twitter     Facebook

Sikap Muslim menghadapi Musibah

Vote This Post DownVote This Post Up (No Ratings Yet)
Loading...
   View : 4 views    Font size:
Sikap Muslim menghadapi Musibah

Beberapa waktu yang lalu bumi pertiwi acap kali tertimpa musibah. Gempa bumi, banjir, tanah longsor, hingga tsunami. Tidak sedikit muslim yang jadi korban. Bagaimana sikap seorang muslim menghadapi musibah?

 

Musibah diturunkan oleh Allah berupa kebaikan dan keburukan. “Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang se-bena2rnya), dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan”. (QS AlAnbiya : 35)

 

Musibah itu ketentuan dari Allah SWT yang tidak bisa ditolak ataudicegah. Walau, manusia wajib  menghindari / mengantisipasi dari berbagai bentuk musibah yang sudah dan yang akan terjadi pada diri kita. Seorang yang terkena sakit diwajibkan berobat agar sehat seperti sedia kala. Bila terkena banjir, kekeringan, atau bencana alam lain, wajib baginya menghindar dari bahaya itu.

 

Musibah diturunkan Allah memiliki berbagai makna. Musibah kepada suatu hamba bisa sebagai penghapus atas dosanya. “Tidaklah menimpa mukmin rasa sakit (yang terus menerus), rasa capek, kekhawatiran (pada pikiran), sedih (karena ada yang hilang), kesusahan hati atau hal yang menyakiti sampai duri yang menusuknya melainkan akan dihapuskan dosa2nya.” (HR. Bukhari no. 5641 dan Muslim no. 2573).

 

Musibah diturunkan Allah sebagai teguran atas perbuatan dosa masa lalu. “Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukumannya di dunia. Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia mengakhirkan balasan atas dosa yang ia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat kelak.” (HR. Tirmidzi no. 2396).

 

Upaya antisipasi musibah bukan saja pada tingkat pencegahan semata, tapi juga penanggulangannya. Karena membiarkan diri dalam kerusakan dan kebinasaan, bertentangan dengan prinsip2 Alquran dalam menjaga jiwa. ”…Janganlah kamu menjatuhkan dirimu ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah karena Allah sangat menyukai orang2 yang berbuat baik.” (QS Al Baqarah : 195).

 

Islam memberi tuntunan menyikapi musibah yang dialami seseorang, berupa istirja (mengembalikan segalanya pada Allah SWT) dengan mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raji’un (kami milik Allah dan kami akan kembali kepada-Nya) serta melakukan antisipasi. Berdoa agar musibah yang menimpa diri kita hanya bentuk ujian dari Allah SWT bagi hamba-Nya yang soleh.

 

Ikhlas dan lapang dada menghadapinya, agar kita mendapat rahmat-pahala-Nya. Musibah2 yang Allah turunkan pada kaum sebelumnya bisa dijadikan pelajaran bagi umat Islam. Musibah kepada kaum Nabi Nuh. Beliau berdakwah 950 tahun, namun yang beriman hanya 80 orang. Kaumnya mendustakan dan meng-olok2 Nabi. Lalu, Allah mendatangkan banjir besar, menenggelamkan mereka yang ingkar, termasuk anak dan istri Nabi Nuh (QS Al-Ankabut : 14).

 

Kaum Nabi Hud. Nabi Hud diutus untuk kaum ‘Ad. Mereka mendustakan kenabian Nabi Hud. Allah  mendatangkan angin dahsyat dengan bunyi guruh yang menggelegar hingga mereka tertimbun pasir dan akhirnya binasa (QS Attaubah: 70, Alqamar: 18, Fushshilat: 13, Annajm: 50, Qaaf: 13).

 

Nabi Saleh diutuskan Allah kepada kaum Tsamud. Nabi Saleh diberi mukjizat seekor unta betina yang keluar dari celah batu. Namun, mereka membunuh unta betina tersebut sehingga Allah menimpakan azab kepada mereka (QS ALhijr: 80, Huud: 68, Qaaf: 12).

 

Umat Nabi Luth terkenal dengan perbuatan menyimpang, yaitu hanya menikah dengan sesama jenis (homoseksual dan lesbian). Kendati diberi peringatan, mereka tak mau bertobat. Allah memberikan azab ke mereka berupa gempa bumi yang dahsyat disertai angin kencang dan hujan batu sehingga hancurlah rumah2 mereka. Kaum Nabi Luth ini tertimbun di bawah reruntuhan rumah mereka (QS Alsyu’araa: 160, Annaml: 54, Alhijr: 67, Alfurqan: 38, Qaf: 12).

 

Alquran mengingatkan kita, : “…Apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan akibat (yang diderita) oleh orang2 yang sebelum mereka? Orang2 itu lebih kuat dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkan lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah datang ke mereka rasul2 Nya membawa bukti2 nyata. Maka Allah tidak sekali-kali berlaku zalim kepada mereka, tapi merekalah yang berlaku zalim ke diri sendiri.” (QS Ar-Ruum : 9). Wallahu alam.***(opch)-FR

Tulisan Lainnya :

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

*

code