Hobi danKetrampilan

Kalpataru

Alkisah, beberapa belas tahun yang lalu, Tuhan memerintahkan seekor burung yang sedang terbang untuk menjatuhkan sebutir biji ke mulut Goa Jepang di Taman Hutan Raya Juanda, Dago Bandung. Atau mungkin seekor kelelawar yang kekenyangan, melemparkan sebutir biji sebelum ia terbang masuk kembali ke sarangnya di dalam Gua Jepang. Biji itu tidak jatuh ke tanah, melainkan tersangkut ke dinding luar tebing yang tegak menjulang di sisi Utara Goa Jepang.

Biji tersebut kemudian tumbuh menjadi sebuah pohon yang cantik, yang berbeda dengan pohon-pohon lain di sekitar hutan tersebut. Sosok batang, dahan dan akarnya berwarna putih mulus, sedangkan daunnya hijau gelap dan tebal.

 

Mungkin sejenis beringin. Karena tumbuh tinggi di dinding tebing yang tegak, batangnya tumbuh keatas secara vertical, sebaliknya akarnya tumbuh menempel kebawah juga vertical. Akibatnya, munculah di atas samping Goa bersejarah itu sebuah pemandangan yang aneh dan unik.

Beberapa tahun yang lalu ketika saya masih sering lari pagi di tempat itu, bentuk dahan dan bentuk akar nyaris simetris, indah sekali, sehingga saya menyapanya dengan si Kalpataru. Terakhir, Selasa tanggal 17 pagi, ketika bersama sahabat-sahabat P2Tel berjalan melewatinya, bentuknya sudah tidak simetris lagi. Batangnya tumbuh lebih cepat dan besar ke atas, sedang akarnya sekalipun masih berkembang merayap kebawah, namun sudah banyak yang tembus ke tanah. Walaupun demikian, keunikan dan kecantikan pohon tersebut masih belum pudar.

Saya tidak berani membayangkan beberapa tahun yang akan datang, bagaimana riwayat pohon itu kelak. Bertengger di tebing, bukanlah tempat tumbuh yang normal. (Salam. 20120417; SH)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.




Enter Captcha Here :

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Lihat Juga
Close
Back to top button
Close
Close