Pengalaman Anggota

Dua dua

Sudah sejak lama saya bersahabat dengan pak Hari. Mereka suami istri, sama dengan kami, berasal dari Jawa Timur. Bila berjumpa dimanapun selalu meriah dan banyak canda. Pada suatu kesempatan, kami pernah melakonkan sebuah sandiwara babad Tulung Agung.

 

Sandiwara yang sukses ditonton oleh ratusan orang ini, bintang panggungnya adalah bu Hari sebagai Dyah Ayu Rara Kembang Sore, sedang saya berperan sebagai Betara Kalang, seorang adipati angkara murka yang jatuh cinta setengah mati
kepada Rara Kembang Sore.

 

Pak Hari berperan sebagai Lembu Peteng, yang hanya muncul sebentar terus mati karena saya
bunuh, sedang istri saya menjadi pembawa acara dalam acara nostalgia tersebut. Persahabatan kami dengan mereka sangat erat, seperti saudara kandung saja layaknya.

Ketika istri saya sakit kanker ovarium tapi masih sering menghadiri pertemuan, tidak berapa lama kemudian saya dapati dia agak surut dari pertemuan-pertemuan komunitas kumpulan. Istrinya tidak lagi sering muncul dalam acara rutin.

 

Kita semua prihatin, ternyata bu Hari terserang kanker paru-paru dan sudah pada stadium lanjut. Pada tahun-tahun terakhir istri-istri kami dirawat di Rumah Sakit yang sama. Persahabatan kemudian dilanjutkan di Rumah Sakit. Kami kemudian saling mengunjungi, bertukar pengalaman dalam merawat pasien.

Bu Hari berpulang lebih dahulu dari istri saya. Pak Hari yang kemudian berstatus duda, bukannya surut, ia justru lebih sering nengok istri saya. Setiap ada kesempatan yang luang di kantornya, diperlukannya untuk datang ke Rumah Sakit, menghibur istri saya.

 

Dengan tlaten ia selalu menanyakan apa yang diperlukan oleh istri saya dan dengan ringan tangan ia
mencarikan, mulai dari es lilin yang sangat dibutuhkan istri saya sampai peralatan audio untuk menghibur istri saya.

 

Saya selalu dimarahi bila terlalu lama meninggalkan istri saya sendirian.. Karena ia ahli elektronika, melihat istri saya yang kepanasan baik punggung maupun disekitar lubang bekas operasi, dibuatkannya alat penyejuk mini yang cukup membantu.

 

Pak Hari juga memiliki pengetahuan dalam pengobatan tradisional, sering memijit refleksi telapak kaki istri saya untuk meringankan penderitaanya. Ketika lima bulan kemudian istri saya menyusul pulang ke alam barzah, lengkaplah persamaan nasib kami berdua

Saya sangat bersyukur, dimasa ujian berat yang belum pernah saya alami seperti saat ini, Allah mengirimkan seorang sahabat sejati. Allah memang sayang kepada umatnya. Saya tidak bisa
membayangkan bagaimana saya bisa menanggung cobaan ini sendirian, mungkin Allah yang Maha Tahu, betapa ringkihnya hati saya kehilangan istri.

 

Saya kira kesedihan pak Hari juga teramat besar saat kehilangan istrinya. Sampai beberapa bulan
ia masih sering menangis mengingat istrinya. Lagu-lagu yang sering didengarnya adalah lagu-lagu melankolis yang syairnya menyebutkan tentang kehilangan belahan jiwa.

 

Ia juga sangat sayang kepada almarhumah istri saya, ketika saya putarkan CD suara istri saya menyanyikan keroncong rekaman di RRI, langsung ia sesenggukan menangis. Saya beberapa kali ikut berziarah ke makam bu Hari, dan pak Hari juga beberapa kali saya ajak ke Karawang, menengok makam istri saya.

Kami berdua saling mendukung. Saling mengingatkan. Saling menghibur. Bila dia sedang down, saya mendorongnya untuk bangkit, sebaliknya bila saya sedang remek, dia yang mengangkatnya kembali. Kadang-kadang kami berdua tertawa tergelak-gelak, mengingat polah dua kakek seperti remaja
mencari cinta.

 

Kami sering berjalan berdua, mulai mencari sarapan, makan siang sampai makan malam. Pernah suatu pagi kami berjalan menyusuri jalan Cisitu mulai ujung Selatan sampai ujung utara untuk mencari sarapan yang cocok. Berdua ngudarasa (Jawa, mengeluhkan nasib), tidak terpikir ada dua kakek kleleran kelaparan.

 

Dulu,tidak pernah tidak ada sarapan di meja makan. Apakah sekedar tempe penyet dengan bawang putih dan cabe, ataukah brambang goreng setengah matang disiram kecap dengan tahu goreng panas. Tapi kami segera sadar, masih beruntung bisa beli makanan, masih banyak orang yang untuk beli
sarapanpun tidak ada uang.

Bila kami berdua bertemu, atau di telepon, selalu dimulai dengan ucapan “Hei Dud?” dan dilanjutkan dengan tawa kami tergelak, menertawakan nasib kita sendiri. Tapi saya tahu, suatu saat ini semua akan berakhir. Suatu saat satu diantara kita akan bertemu jodoh, saya sih mengharapkan dia menikah
lebih dahulu, karena dia lebih lama menduda dari pada saya. Dan sekalipun silaturahmi saya harapkan tetap berlanjut, namun apakah masih “seindah” saat ini, saya tidak tahu.

Salam; 20120708; (SH)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.




Enter Captcha Here :

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close
Close