Pengalaman Anggota

Pengalaman bersama ayah

Pagi itu saya berangkat pesawat jam 6 mandarat jam 7 di Semarang naik taxi 30 menit sampai ke st asiun, lalu naik kereta jam 8.30 dan 3 jam kemudian tepat menginjak bumi di kota Cepu. Sebuah kota perbatasan jawa tengah jawa timur.

Kota ini membawa ingatan sewaktu usia 3-5 tahun. Memang masih kecil sekali, namun saya masih bisa membayangkan dengan jelas pengalaman kecil dulu. Ayah saya adalah tentara yang dinas di madiun, disana saya lahir.

Sebagai tentara ayah harus nyambi, mencari pendapatan tambahan agar bisa menyambung hidup. Tentara di masa itu gajinya hanya bisa menghidupi biaya setengah bulan keluarga kalau tidak pinter-pinter mencari sampingan lebih berat bebannya. Mencari rezeki tambahan di masa tidak dinas yang dilakukan ayah saya adalah jadi supir truk angkut tembakau.

Daerah cepu dan sekitarnya kala itu banyak perkebunan tembakau. Kalau Madiun di jadikan sentrum, maka dalam radius 2 jam kami bisa mencapai, Bojonegoro, Cepu, Ngajuk, Magetan dan kesemua daerah yang saya sembutkan tersebut setiap musim panen tembakau tidak pernah bersamaan.

Misalnya panen di musim panas bulan Juli di Nganjuk , Agustus di Ngawi, September di Bojonegoro, oktober di Cepu. Sehingga selama musim panas selalu ada stok tembakau buat rokok di sekitar Pati, Kudus, Semarang yaitu pabrik rokok kecil lintingan klobot hingga besar seperti Gentong Gotri, Djarum Kudus bisa produksi sepanjang tahun.

Saya sering ikut menemani ayah yang pendiam. Jadi sepanjang jalan saya hanya menikmati pemandangan kampung dan desa sekitar. Memang tembakau tumbuh didaerah yang sedikit air dan tanah mengandung kapur sehigga pastinya daerah itu panas. Namun kalau saya mengingat masa 40 tahun yang lalu rasanya enak aja.

Jam 1 atau jam 2 biasanya kami berangkat dari Madiun. Mengunakan truck stayer tua buatan Soviet kalau tidak salah untuk menstarter, ayah harus turun mengengkol , engkolan berbentuk leter z panjang mulai berat sekali sampai dapat putaran cepat, dan mesinpun berbunyi gleng, gleng, gleng, makin cepat lalu..jreeeng mesin nyala.

Selalu ayah saya tersenyum bangga melihat kearah saya. dan pastinya tanpa bersuara seperti biasanya. Melihat hal itu saya senang dan bangga pada ayah yang nyupir truk tersebut. Saya naik disamping ayah dan dia mulai perjalanan mengangkat tembakau.

1-2 jam perjalanan tidak terasa sampai ke Ngawi misalnya lalu di isi tembakau dan dibawa ke Gudang Cepu, itu rute dulu. Lalu jam 5an biasanya sudah dalam perjalanan pulang ke Maospati Madiun. Jam 19an sampai rumah, mandi dan makan bersama dari hasil jualan tembakau hari itu biasanya buat 3 atau 4 hari.

Membayangkan masa lalu memang indah untuk di kenang. Melihat kota Cepu saat ini membuat saya mengingat kembali masa kecil terebut. Seorang ayah berpangkat letnan, dirumah barak tanpa furnitur, tidur di alas tumpukan selimut dan dekorasi rumah termewah adalah gorden yang menutupi pandangan orang luar kalau kami tidak memiliki perabot alias kosong. Saya dan adik kalau lari2 tidak ada barang yang harus kami rusak. Rumah ini friendly to child hehehe.

Setidaknya 1 minggu sekali kota Cepu saya sambangi. Sekarang saya duduk di tempat yang cukup bagus, sebuah penginapan hotel berbintang. Dulu hal ini tidak ada. Dulu Cepu hanya satu lewatan saja. Sekarang Cepu berbeda, saya mengecek Jadwal besok pagi jam 7 menuju lokasi Tiung biru, Randu Blatung dan Gundih sudah menanti.

Daerah yang dulunya pohon jati sekarang sudah banyak mini plant gas dan minyak. Sejak 2 tahun terakhir Cepu adalah kota yang rutin saya kunjungi karena pekerjaan. saya melihat kota ini semakin cantik walaupun tetap panas. Terus harus mengejar flight dari Surabaya jam 5 sore ke Bandung karena sabtu pagi jam 9 sudah ada jadwal di Bandung menanti.

Kembali ke Cepu, Perusahaan besar seperti Exxon, Petrochina dan banyak perusahaan oil & gas membuka lapangan di sana. Kegiatan bisnis menggeliat sangat cepat, 6 hotel di Cepu selalu penuh. Bahkan harus book jauh-jauh hari.

Jangan harap kalau mau go show akan dapat hotel di Cepu. Bagi sahabat, saya sarankan bawa anak anda atau diri anda travel ke Cepu. Kereta tua bermesin batubara masih beroperasi sliweran untuk wisata. Unik sekali. Juga prasasti dunia perminyakan sejak jaman belanda terpasang disana. Disinilah awal-awal sumber daya alam perminyakan berkembang di Indonesia. Happy traveling # peace be upon us
(Baheram Syah)

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.




Enter Captcha Here :

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Lihat Juga
Close
Back to top button
Close
Close