IslamPengalaman Anggota

12/19 Ihram

(Serial)-Pakaian Ihram, khusus bagi pria, adalah dua potong kain katun yang ukurannya 1 x 2 meter. Pakaian Ihram bisa dipakai di mana saja, bahkan di Jogja juga bisa. Pakaian Ihram dipakai kemulan (selimut) juga bisa. Tapi makna Ihram adalah bila kita mandi besar, kemudian mengenakan dua potong kain itu dan kemudian menjatuhkan niat untuk Umrah di tempat miqat yang ditentukan.
Sejak itu kita eligible (memegang hak) untuk Umrah. Namun kehormatan dan hak tersebut mengandung kewajiban untuk mematuhi ketentuan-ketentuan bagi pemakai Ihram. Bila dilanggar, ya kita
kena denda.

Ibadah Umrah adalah disiplin diri. Siapakah yang akan mengetahui bila kita memotong kuku, memotong rambut atau membunuh hewan atau mencumbu wanita? Siapa pula yang akan mengecek apakah kita sudah membayar dam atau belum? Sistemnya simple. Melanggar, denda. Bila tidak, ya diri sendiri yang akan menanggung resikonya dan silahkan mempertanggung jawabkan sendiri kepada Allah yang memanggil kita.

Kami, karena sudah tiga hari di Madinah, seperti halnya penduduk Madinah, boleh mengambil Miqat di Bir-Ali. Bir-Ali hanya beberapa puluh km dari Madinah, sehingga dalam perjalanan panjang selebihnya menuju ke Mekah kami dalam keadaan Ihram.
Inilah ujian fisik yang pertama. Menembus suhu dingin menempuh perjalanan ratusan km hanya mengenakan kain yang di ikat dan diselempangkan. Tanpa kaos dalam, tanpa celana dalam, tanpa
kaos kaki bahkan tanpa topi.

Tapi bayangkan Nabi, 15 abad yang lalu menempuh jalan terjal dan berbatu. Kendaraanpun hanya unta, berjalan berminggu-minggu dari Madinah menuju ke Baitullah. Betapa beratnya ibadah Umrah
atau Haji pada saat itu.

 

Itulah yang terjadi pada tahun 628 M atau tahun ke 6 Hijrah, Rasulullah bersama 1400 orang muslim
tiba di Hudaibiyah, beberapa belas km di utara Mekah. Mereka datang dari perjalanan yang jauh melelahkan bersama dengan ribuan ternak untuk korban.

Kaum muslimin di hadang dan tidak diperkenankan memasuki Mekah. Terjadi perundingan disertai dengan salah paham. Akhirnya terjadi kesepakatan yang dikenal dengan perjanjian Hudaibiyah.
Dari pasal-pasal yang disepakati Nabi secara harfiah, tampaknya Islam banyak sekali mengalah, namun Nabi melihat suatu lompatan kemajuan dalam bidang diplomasi.

 

Islam hanya menunda satu tahun, kesempatan melakukan ibadah haji, namun Mekah mengakui adanya negara Islam di Madinah. Kesempatan gencatan senjata, 10 tahun, memungkinkan Islam memperluas pengaruhnya ke seluruh penjuru Arab. Nabi memanfaatkannya untuk mengirimkan utusan-utusannya ke Syam, Persia, Mesir dan negara lain.

Sementara itu, para pengikut beliau yang sudah menempuh perjalanan berat dan panjang dengan segala pengorbanan, ketika sampai di mulut Mekah, harus kembali balik kanan dan pulang ke Madinah. Bayangan melihat kembali kampung halaman yang sudah bertahun-tahun ditinggalkan, lenyap begitu saja. Kecewa, sedih, marah dan tidak puas menyelimuti semua. Inilah ujian kesabaran. Mengalah untuk hal yang lebih besar dikemudian hari.

Akan halnya saya dan rombongan, tidak ada masalah memasuki Mekah. Bus langsung menuju ke hotel di jantung kota Mekah. Setelah memasukkan kopor ke dalam kamar, kami segera bergegas bergabung dengan rombongan, memasuki Masjidil Haram dari pintu King Fahd. Sholat, tahayyatul masjid dan men-jama shalat Magrib dan Isya bagi yang belum sempat melakukannya selama perjalanan.

Tawaf dapat dilaksanakan dengan lancar. Kemudian rombongan menuju ke pelataran Sa’i. Istri saya yang sejak berangkat sedikit demam ditambah perjalanan yang lumayan berat, dengan tertatih-tatih mencoba mengikuti sa’I sekalipun jauh tertinggal di belakang. Akhirnya setelah tiga putaran, ia terduduk, tidak mampu bangkit. Saya kemudian mencari sewa kursi roda. Mereka menawarkan mulai dari SR 150, turun terus sampai akhirnya mau dengan permintaan saya SR 50.

Saya pikir ini cukup wajar. Dua puluh tahun yang lalu, sewa ini 45 real, kursinya masih dari kayu yang berat. Saya jadi ingat bu Sunami, jemaah sepuh dari Banjarmasin, yang sudah sering umrah. Ibu petani karet itu selalu membayar satu juta rupiah untuk kursi roda Tawaf dan Sai. Bayangkan betapa kayanya dia? (Gudengan 20150301 (Sadhono Hadi; Creator of Fundamen Top40; Visit ; http://fundamen40.blogspot.com dan http://rumahkudidesa.blogspot.com)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close
Close