Psikologi

Gentar mengadapi kematian

SuratPembaca :

Sepeninggal ayah beberapa bulan lalu, ibu kami (50) mengalami perubahan drastis. Beliau sering takut segera meninggal. Sampai2 tidak berani pergi ke pasar sendiri, kegiatan yang semula disenanginya. Apakah ini wajar? Saya pikir kebanyakan orang juga takut mati. Tapi rasanya ibu saya, kok, agak berlebihan. Belakangan terlihat sulit diajak berziarah ke makam almarhum, apakah ini yang namanya fobia? Mohon penjelasan dari ibu. Terima kasih sebelumnya. (Titi di Jakarta)

 

Saudari Titi yang baik.

Pandangan yang mengatakan, rata2 orang takut mati tidaklah salah. Sejauh takut itu tak jadi pemikiran terus hingga mengganggu kehidupannya, masih wajar. Apalagi jika seseorang bisa memahami bahwa kematian adalah suatu keniscayaan, tak ada seorang pun yang mampu menghindarinya. Demikian adanya, bukan?

 

Fobia kematian

Dari penjelasan tadi, ibu Anda mengalami fobia kematian. Menurut Edmund J Bourne PhD dalam The Anxiety and Phobia Workbook (2010), fobia kematian merupakan bagian dari fobia spesifik. Salah satu fobia spesifik melibatkan rasa takut pada obyek atau situasi tertentu. Anda cenderung menghindari situasi itu sama sekali atau cara lain tetap bertahan menghadapinya dengan ketakutan.

 

Untuk didiagnosis sebagai penderita fobia, Anda tidak hanya memiliki ketakutan yang kuat dan menghindari situasi tertentu, tapi fobia Anda juga secara signifikan mengganggu fungsi kerja dan / atau hubungan sosial Anda.

 

Ketakutan kematian, kadang2 disebut sebagai thanatophobia, dapat melibatkan satu atau beberapa dari variasi rasa takut yang berbeda. Berikut adalah beberapa jenis yang paling umum dari rasa takut akan kematian.

 

– Takut ketiadaan (tidak eksis), suatu akhir yang menetap untuk hidup.

 

– Takut sesuatu yang tidak diketahui-tidak tahu apa yang akan terjadi setelah kematian.

– Takut akhirat yang negatif berdasa keyakinan agama, seperti gagasan neraka atau api penyucian.

– Takut akan kesakitan, nyeri, dan penderitaan yang terkait dengan kematian.

 

– Takut akan kematian orang yang dicintai, yang sangat dekat hubungannya dengan Anda.

– Takut hal-hal yang akan terjadi pada orang yang dicintai dalam keluarga Anda setelah kematian Anda.

– Takut hal2 mati : Jenazah atau berhubungan dengan kematian : Peti mati, rumah duka, dan makam.

 

Kadang dasar dari ketakutan hanya kehilangan kontrol. Meninggal adalah kondisi yang terjadi di luar kendali seseorang dan dia mencoba untuk ”menahan” kematian melalui sering berkunjung ke dokter dan mendatangi berbagai praktik kesehatan alternatif lainnya.

 

Penyebab

Penyebab ketakutan kematian bervariasi bergantung jenis ketakutan mana yang dominan. Filsafat eksistensialis menyatakan rasa takut akan ketiadaan merupakan suatu bawaan untuk kondisi manusia dan dibagi bersama oleh semua manusia pada suatu tingkat yang mendalam.

 

Beberapa pandangan menyatakan, rasa takut kematian (dalam arti ketiadaan permanen) adalah ”inti” atau ketakutan yang mendasari seluruh ketakutan. Tampaknya pandangan para eksistensialis itu ada benarnya. Kita semua, pada satu titik tertentu, memiliki kecemasan tentang akhir kematian kita.

 

Ketakutan lain mengenai kematian berpusat pada keyakinan agama, yaitu mengenai hukuman dan neraka. Seseorang yang serius yakin ini perlu diperlakukan hati2 oleh konselornya, acap kali konselor kurang sensitif dan menganggap keyakinan itu seperti dibuat-buat saja.

 

Takut rasa sakit dan penderitaan terkait kematian mungkin timbul dari pengalaman traumatis menyaksikan yang dicintai melalui proses kematian yang berlarut. Sering kematian yang dicintai dapat berakibatn peningkatan rasa takut kematiannya atau pada benda2 yang berhubungan dengan kematian.

 

Penanganan

Penanganan terhadap thanatophobia bergantung sifat spesifik dari ketakutan seseorang. Mengatasi rasa takut ketiadaan perlu beberapa refleksi filosofis mendalam mengenai makna hidup dan pengakuan, mungkin cara terbaik untuk berurusan dengan kematian adalah dengan menjalani kehidupan sedapat mungkin. Adalah penting menyadari tidak satu pun dari kita unik dalam hal ini: setiap orang pasti berurusan dengan kematian. Hanya waktunya sulit untuk diketahui.

 

Beberapa orang merespons positif membaca literatur yang menyediakan bukti keberlangsungan kesadaran setelah kematian. Beberapa literatur pengalaman jelang kematian dan berbagai informasi individual mengenai orang ”lihat” selama pengalaman itu membuktikan kematian bukan akhir eksistensi yang permanen.

 

Takut kematian dari yang dicintai merupakan sesuatu yang sulit, tapi dilihat sebagai ”panggilan spiritual” untuk mengembangkan kekuatan batin dan kemampuan berdiri tanpa adanya orang2 tersayang. Beberapa orang berbesar hati dan yakin setelah kematian, mereka akan bersatu kembali dengan orang yang dicintai yang telah ”mendahului”, suatu kemungkinan yang jelas ditunjukkan oleh literatur tentang pengalaman menjelang kematian.

 

Akhirnya, jika ibu Anda takut mati karena dimulai pengalaman traumatis menyaksikan kematian teman atau anggota keluarga, Anda dapat mengajaknya berkonsultasi pada terapis psikologis yang akan membantu dengan menggunakan teknik hipnoterapi atau EMDR (Eye-Movement Desensitization and Reprocessing) untuk mengatasi dan mengonfigurasi ulang berbagai ingatan traumatis dari ibu. (ThW; Sumber dari Kompas, Minggu, 30/11/2014; Psikologi : Agustine Dwiputri)-FR

Tanggapan dari AphD

Takut mati
Hahaha, aya aya wae berita dari pak Thomas ini. Baru saja ada pengumuman dukacita dari corong pengeras mesjid dekat kantor/rumah, di Kelurahan Sukabumi Selatan (d/h disebut Sukabumi Udik), Kec.Kebon Jeruk, Jakbar (daerah Betawi, dg industri perumahan penghasil pakaian jeans untuk pasar Tanah Abang). “Inna’lillahi waina ……….telah meninggal dunia ibu Maemunah …… berumur 105 (seratus lima) tahun….”

Bukan main, pada saat orang meninggal 50-70an tahun, ini ibu bisa hidup satu abad lebih. Bayangkan kenyang di zaman Belanda, lahir tidak berbeda jauh dari Bung Karno, kemudian melewati 3 zaman, mengalami masa 7 Presiden RI
Waktu saya pindah dari Bandung ke sini th 1981 saja, daerah sini masih sepi, banyak hantu katanya. Apalagi pada saat almarhumah masih kanak-kanak. Mungkin seperti desa nun jauh dari Batavia.

Ya, begini. Saya sendiri “sasarannya” (tidak menolak) bertahan sampai 90 th ke atas. Bukan mustahil apabila jaga kesehatan dg baik. Dan ini adalah tugas keharusan manusia. Konon, umur fisik manusia saat ini bisa mencapai 160an tahun.
Orang Jepang yg banyak makan ikan (mentah) banyak yg capai 100, 110, dan bahkan 120 tahun.
Jadi apabila “cuma” 90-100 tahun, tentunya bukan mustahil, bukan? Maunya. Ya, semua tergantung Penciptanya. Mengenai takut mati, ini masalah sudut pandang tentunya. Bisa dianggap akhir dari semua harapan, atau sebagai pembebasan dari berbagai kesulitan dan tugas, bukan?

Saya, bagaimana? Mencapai umur panjang dengan jaga kesehatan, tidak usah merasa diri sudah tua (ini fatal, lho!) untuk melayani sesama (keluarga, teman, negara, bangsa, keyakinan). Itu saja. That’s it!
Jadi Dipanggil kapan saja, tidak masalah, kan? Apabila perlu bisa tutup peti sendiri (karena sehat).

Kebahagian di Akhirat dan Dunia, bagaimana? Kebahagian itu dimulai saat ini di dunia. Loh? Iya. Bukankah, ada kesenangan dan kesusahan, masakan orang susah dan menderita bisa senang? Kesusahan dan kesulitan itu adalah tantangan hidup. Bila berhasil melaluinya, akan bahagia, bukan?

Seperti Alpha Edison, saat ditanya wartawan karena lampu pijarnya menyala setelah 10.000 kali percobaan, “…apakah 9.999 percobaan sebelumnya anda gagal?”, Jawabnya, “Oh tidak, yang 9.999 kali itu sebagai tangga menuju sukses…”
Analoginya, demikian juga semua kesusahan dan penderitaan akan meraih kebahagian apabila dilalui dengan baik. Kita persembahkan kepada Sang Khalik sebagai pengorbanan dan penyucian. Manusia itu suatu misteri tersendiri, yang hanya Tuhan Mengerti.
Coba saja, kita membantu orang (mis. anak yatim-piatu) menjadi orang berhasil. Lah, kan bahagia. Bukankah mengeluarkan dana, daya, dan waktu, malah senang. Demikian juga berbuat kebaikan lain. Aneh, kan.
Sebaliknya, kita bermewah-mewah menghamburkan uang, atau dapat uang banyak bisa halal ataupun dengan cara menipu, dsb, apakah senang? Ada suatu suara dalam hati yang terus menggugah, anda apakan hasil itu? Jadi “mengapa takut” (Salam, AphD)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.




Enter Captcha Here :

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Lihat Juga
Close
Back to top button
Close
Close