Islam

Mencintai Alloh

Salah satu sifat atau kecenderungan manusia, dan ini adalah karunia Alloh Swt yaitu rasa cinta kepada kesenangan hidup, sebagaimana difirmankan-Nya dalam QS Ali Imran 14 “Dijadikan indah dalam pandangan (manusia) kecintaan kepada apa yang diinginkan, berupa perempuan, anak-anak, harta yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Alloh-lah tempat kembali yang baik”. Bentuk cinta ini disebut hubbusy syahwat.
Alloh Swt tidak melarang manusia mencintai pasangan dan anak-anak, karena anak dan pasangan hidup, suami atau istri, bisa jadi ladang ibadah, juga tidak melarang untuk mencari kesenangan dunia dalam bentuk harta kekayaan, bahkan Alloh Swt memerintahkan manusia untuk bertebaran di muka bumi dalam mencarinya, karena harta dapat dijadikan bekal untuk lebih mendekatkan diri kepada-Nya.

Dalam salah satu hadits, Rasul Saw bertanya kepada para sahabatnya, siapa yang lebih mencintai dirinya dari pada yang lain, seorang sahabat menjawab dia adalah yang sangat mencintai dirinya, namun kemudian Rasul menyampaikan bahwa kecintaan kepada Alloh dan Rasul-Nya harus melebihi kecintaan kepada diri masing-masing. Sahabat tersebut menyampaikan bahwa dia mencintai Alloh dan Rasul-Nya melebihi kecintaan kepada dirinya.

Timbul pertanyaan bentuk dan praktek keseharian dari mencintai Alloh dan Rasul-Nya melebihi kecintaan kepada dirinya dan kesenangan hidup dunia. Pertanyaan ini muncul karena kecintaan kepada Alloh dan Rasul-Nya dimensinya bebeda dengan kecintaan terhadap kesenangan dunia, sebagaimana juga berbedanya rasa cinta terhadap istri atau suami dengan rasa cinta kepada anak-anak.

 

Cinta terhadap istri / suami pasti ada unsur syahwat atau birahi, sedang cinta kepada anak tidak ada unsur birahi. Cinta kepada harta kekayaan dimensinya berbeda dengan cinta terhadap anak atau pasangan hidup. Rasa cinta kepada Alloh dan Rasul-Nya diekspresikan dalam bentuk melaksanakan semua perintah, larangan-Nya dan sunnah Rasul, dan dalam cinta ini tidak mengandung unsur syahwat.

Bentuk atau gambaran apakah seseorang menjatuhkan pilihan mana yang lebih dicintai, terjadi ketika dihadapkan pada kondisi dia harus memilih antara lebih mencintai Alloh dan Rasul-Nya atau lebih mencintai kesenangan hidup dunia. Kondisi ini dapat digambarkan dalam  contoh sederhana berikut :

1. Seorang Muslim rela melaksanakan sholat, walau dalam kondisi lelah, rela bangun malam utk sholat malam, rela menangguhkan aktivitas saat waktu sholat tiba, rela melaksanakan shaum wajib walau bertentangan dengan nafsu memenuhi kebutuhan fisik di siang hari, dan kerelaan lain untuk melaksanakan kewajiban dan tidak melanggar perintah-Nya. Semua kerelaan tsb karena lebih mencintai Alloh dan Rasul-Nya dibandingkan dengan nafsu mencintai diri sendiri.

 

2. Pasangan hidup atau anak melakukan perbuatan yang terlarang atau meninggalkan yang wajib, dan setelah diberikan pengertian tetap tidak berubah perbuatannya, maka disinilah pilihan harus ditentukan.
3. Jika memiliki harta yang telah memenuhi nisab untuk dizakati, maka pemilik harta tersebut dihadapkan kepada pilihan mana yang lebih dicintainya, jika dia memilih tidak berzakat maka dia jadi manusia yang lebih mencintai hartanya dari pada mencintai Alloh dan Rasul-Nya.
Disamping cinta kepada kesenangan dunia, Alloh Swt juga memberikan karunia cinta yang bersifat ukhrowi yaitu cinta kepada keimanan (hubbul iman). Jika jenis cinta ini tumbuh subur dalam diri seseorang, maka itulah sebuah keunggulan sekaligus kenikmatan tiada tara sebagaimana telah difirmankan-Nya dalam QS Al Hujurat 7-8

 

“…Tetapi Alloh menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan (iman) itu indah dalam hatimu, serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus, sebagai karunia dan nikmat dari Alloh dan Alloh Maha Mengetahui, Maha Bijaksana”.
Seyogyanya umat Islam harus lebih mengutamakan kecintaan kepada Alloh dan Rasul-Nya, karena jika lebih mencintai yang lain, manusia disuruh menunggu keputusan-Nya, dan Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik (QS At Taubah ayat 24). Dan jika Alloh dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu keputusan, maka tidak pantas bagi yang beriman untuk mengambil pilihan yang lain yang berbeda bagi mereka untuk urusan mereka (QS Al Ahzab 36).
Cara untuk lebih mencintai Alloh dan Rasul-Nya adalah dengan melaksanakan segala perintah dan tidak melanggar larangan-Nya serta mengikuti sunnah Rasul-Nya. Seorang yang mencintai Alloh dan Rasul-Nya tidak merasa cukup hanya melaksanakan kewajiban, tapi juga ditambah dengan ibadah-ibadah yang disunnahkan, baik dalam sholat, shaum, infaq, bahkan kewajiban ibadah haji, dia jangankan melanggar larangan-Nya, mendekatipun tidak, bahkan yang makruhpun ditinggalkan. Alloh Swt pasti akan mencintai umat yang mencintai-Nya dan yang terus berupaya untuk mendapatkan ridho-Nya.
Dalam melaksanakan sholat selalu dilengkapi dengan sholat sunnah baik sholat rawatib, sholat malam, sholat dhuha, tahiyatal masjid, syukrul wudhu, bisa jadi dalam sehari semalam melakukan sholat minimal 40 rakaat. Demikian pula dalam melaksanakan shaum, selalu dilengkapi dengan shaum sunnah, senin-kamis, Shaum Daud, atau shaum 3 hari di pertengahan bulan, melaksanakan hajipun tidak cukup satu kali tapi dilengkapi dengan berkali-kali berkunjung ke Baitulloh melaksanakan umroh sunnah.
Ibadah yang berkaitan dengan harta adalah ibadah yang mempunyai dampak terhadap kehidupan social kemasyarakatan. Seorang yang lebih menintai Alloh dan Rasul-Nya tidak cukup hanya dengan membelanjakan hartanya di jalan Alloh sebatas yang bersifat wajib, tapi boleh jadi dia lebih banyak membelanjakan hartanya dalam bentuk infaq sunnah, berupa shodaqoh dan wakaf.
Para sahabat Rasul Saw banyak yang berlomba membelanjakan hartanya dalam bentuk infaq sunnah ini, antara lain Abu Bakar, Umar ibnu Khottob, Ustman bin Affan, Abdurakhman bin Auf dari golongan Muhajir, dan Abu Tolhah dari kaum Anshor. Mereka adalah golongan orang-orang yang mencintai Alloh melebihi kecintaan terhadap kesenangan dunia. Wallohu’alam. (Bandung, 18 Safar 1434 H/ 2 Jan 2013; Nanang Hidayat; Zakatel Citra Caraka)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Enter Captcha Here :

Back to top button
Close
Close