Serba Serbi

Mengikuti Konggres PTTI di Tokyo

Ketika Ketua Umum SSPTT (Serikat Sekerja Pos Telegrap dan Telepon), Sabaruljaqin menawari penulis untuk menjadi utusan pada PTTI (Post Telegraph and Telephone International) World Congres di Tokyo Jepang 16-22/09/81, penulis bersedia.

 

Penulis sadar atas segala resiko, pemerintah Orba melarang semua kegiatan Serikat Pekerja, kecuali KORPRI. Perusahaan pun tidak mungkin memberikan izin pegawainya untuk menghadiri kongres serikat pekerja pos dan telepon sedunia itu.
Penulis mencoba mengadakan pendekatan dengan sebuah media massa yang biasa memuat tulisan penulis. Berbekal surat keterangan dari media masa itu penulis mengurus pembuatan paspor. Kepada petugas Imigrasi penulis menyampaikan bahwa akan mengadakan perjalanan jurnalistik pariwisata ke Jepang. Tanpa proses wawancara, paspor pun beres.

 

Bertemu Utusan lain di pesawat.
Selanjutnya penulis mengurus visa, juga cuti tahunan dengan alasan keperluan keluarga. Sebagai pegawai golongan satu (Gol. Id) rasanya penulis luput dari perhatian akan berjuang di tingkat dunia. Kalau ketahuan dan berurusan dengan pihak yang berwajib adalah resiko perjuangan yang harus ditanggung, pikir penulis.

 

W. Th. Soeharto Bc.A.P. Kepala Urusan tempat penulis kerja, dikasih tahu belakangan. Soalnya ini misi rahasia yang diemban, memperjuangkan nasib karyawan ke tingkat dunia. Ketika itu penerbangan bagi WNI wajib menggunakan Garuda. Karena itu penulis menggunakan Garuda dari Jakarta ke Singapura.

 

Dari Singapura ganti pesawat JAL ke Tokyo. Di atas pesawat JAL Singapura-Tokyo penulis bertemu dengan beberapa utusan, diantaranya utusan dari Srilangka, New Zealand, Australia, Malaysia dan Singapura. Pertemuan dengan beberapa utusan di atas pesawat itu cukup membesarkan hati.
Dengan penerbangan DC -10 selama delapan jam non stop, akhirnya kami mendarat dengan selamat di airport Narita. Setelah melalui pemeriksaan imigrasi dengan pengambilan bagasi, kami disambut panitia kongres di airport dan diantar dengan bus ke hotel Imperial dan hotel Shimbashi Daichi di Tokyo.

 

Solidaritas sesama serikat pekerja.
Penulis ditempatkan di hotel Daichi tidak terlalu jauh dari Hotel Imperial tempat berlangsungnya Kongres Dunia PTTI ini. Begitu masuk kamar hotel, penulis mandi, pakai kimono, minum ocha (teh hijau) dan istirahat sebentar. Selanjutnya pergi ke lobby mencari teman ngobrol.
Waktu itu penulis kagum dengan pemerintah Jepang yang memberi kebebasan kepada Serikat Pekerja dan Serikat Buruh melakukan kegiatannya. Rasanya penulis tidak ada rasa takut berbicara perjuangan pekerja di negeri ini. Sedangkan perjuangan pekerja di tanah air waktu itu dikontrol pemerintah.
Beberapa utusan dari berbagai negara siap membantu perjuangan SSPTT. Mereka siap mendukung melalui kerja sama dengan serikat pekerja transportasi dan penerbangan untuk memboikot kiriman pos dari dan ke Indonesia.

 

Penulis masih berkelit untuk membicarakan dulu dengan pengurus SSPTT. Masih ada kekhawatiran penulis ditangkap penguasa waktu itu. Kalau ditangkap, perjuangan terus berhasil sih mending, kalau ditangkap perjuangan terus terhenti ya sia-sia.
Kongres itu berjalan panas dengan isu-isu pergerakan serikat pekerja di beberapa negara. Utusan dari Polandia termasuk paling demonstratip. Mereka minta dukungan dan bantuan untuk perjuangan pekerja dan buruh di Polandia menghadapi pemerintahan tirani mereka.
Suatu malam pengurus Zentei (Serikat Pekerja Pos Jepang) dan Zendenstu (Serikat Pekerja Telekom Jepang) datang ke kamar penulis. Mereka mengajak minum di sebuah kafe. Kami bicara panjang lebar mengenai keadaan kesejahteraan dan perjuangan masing-masing.

 

Salah seorang dari mereka, Eiji Onnishi yang menjadi penterjemah ke bahasa Inggeris, menyatakan rasa simpati mereka atas perjuangan SSPTT. Bahkan bila perlu mereka dapat berbicara langsung dengan wakil pemerintah Indonesia.

 

Tapi saya bilang rasanya sulit, pemerintah hanya mau bicara dengan KORPRI sebagai wadah tunggal pegawai negeri. Bahkan Onnishi bilang kalau perlu mereka desak pemerintah Jepang untuk menghentikan bantuan keuangan kepada Indonesia agar gerakan serikat pekerja diperhatikan.

 

Melihat museum bom atom.
Di akhir Kongres semua peserta diajak rekreasi ke Matsuyama, Hirosima dan Kyoto. Perjalanan ke Matsuyama menumpang pesawat ANA (All Nippon Ailines) perusahaan penerbangan domestik Jepang. Di Matsuyama seluruh peserta diajak melihat berbagai perusahaan. Di sini dilakukan pertemuan dengan pengurus serikat pekerja setempat dan bicara mengenai kesejahteraan pekerja.
Hari berikutnya kami diajak melihat Museum Korban Bom Atom Hiroshima. Museum ini memberikan pelajaran bagaimana penderitaan korban bom atom. Semua luluh lantak rata dengan tanah. Hannya ada satu bangunan berupa kubah yang masih tetap berdiri hingga kini. Kubah itu diberi nama Peace Dom (Kubah Perdamaian).
Kyoto kota tujuan kami berikutnya. Di sini juga kami melakukan pertemuan dengan wakil-wakil pengurus serikat pekerja setempat. Mereka bercerita mengenai pergerakan serikat pekerja di masing-masing perusahaan.

 

Serikat pekerja di sana cukup kuat dan mereka membayar lawyer (penasihat hukum) dalam membela anggota yang terkena masalah hukum. Keuangan serikat pekerja di sana cukup kuat dan semuanya berasal dari iuran anggota. Mereka menolak bantuan fasilitas dan materi dari perusahaan.
Keesokan harinya kami kembali ke Tokyo dengan menumpang Shinkasen, yaitu kereta api cepat yang dikenal dengan sebutan bullet train (kereta peluru). Kereta ini berjalan sangat cepat bagaikan pesawat. Konstruksi kereta ini juga seperti pesawat dengan pintu antar gerbong otomatis dan kaca jendela berlapis ganda. Namun kereta ini sangat nyaman dan tidak berisik karena dindingnya kedap suara.
Keesokan harinya kami masing-masing check out dari hotel, berangkat ke airport Narita terbang ke negaranya masing-masing. Di pesawat ada perasaan gelisah dan khahawatir kegiatan ini diketahui pemerintah Orba. Setelah mendarat dan pemeriksaan dokumen di airport , alhamdulillah aman.
Itulah sepenggal catatan perjalanan yang tidak mungkin penulis lupakan. (TJETJEP DJUHANDA adalah jurnalis, kartunis, kontributor majalah Gematel, blogger, aktifis SSPTT, aktifis organisasi pensiunan PT POS. Lahir 01 Februari 1951, wafat pada Senin 28 Januari 2013)-Tri W

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Enter Captcha Here :

Lihat Juga
Close
Back to top button
Close
Close