Iptek dan Lingk. Hidup

LTE, agar akses internet merata

Akses pada teknologi long term evolution (LTE) atau dikenal dengan teknologi 4G sangat dinanti implementasinya. Pengguna perangkat telekomunikasi berharap banyak pada teknologi ini karena dipercaya meningkatkan kaspasitas dan kecepatan jaringan. Dengan kecepatan downlink hingga 300 Mbps dan Uplink 75 Mbps, LTE sangat dibutuhkan karena mendukung aplikasi game on line, televisi streaming, dan komunikasi dalam posisi bergerak dalam kecepatan tinggi.

Tingkat download mencapai 299.6 Mbps dan tingkat upload gingga 75.5 Mbps mampu meningkatkan dukungan pada akses bergerak dengan kecepatan hingga 350 – 500 km per jam tergantung pita frekuensi sehingga dapat diaplikasikan pada pesawat terbang. Selain itu LTE mendukung teknologi MBSFN (Multicast Broadcast Single Frequency Network). Fitur ini memberi layanan seperti mobile tv menggunakan infrastruktur LTE, dan menjadi pesaing layanan DVB-H berbasis siaran TV.

Selain itu LTE mendukung gambar beresolusi tinggi standar high definition semacan full HD. Para pengguna dan penyedia layanan game on line masih mengeluh karena akses yang tersendat ketika memainkan game dengan gambar beresolusi tinggi. Kemenkominfo menjanjikan akhir tahun ini regulasi akan selesai. Saat ini regulasi tengah dibahas untuk selanjutnya dikeluarkan pada akhir 2013. Diharapkan pada 2014 LTE sudah dapat dinikmati oleh masyarakat.

Jadi teknologi LTE bisa menggunakan kanal yang bisa di-refarming untuk teknologi itu,” ujar Menkominfo Tifatul Sembiring. Tifatul menambahkan saat ini sambil menunggu regulasi dibuat oleh BRTI tahapan yang dilakukan pemerintah dan operator adalah pemerataan akses internet di seluruh wilayah tanah air. Hal ini dilakukan untuk mendukung sektor telekomunikasi yang sedang tumbuh cepat di Indonesia.

Sebenarnya saat ini lisensi lisensi broadband wireless access (BWA) dari jenis teknologi TD LTE sudah keluar. Ada 30 lisensi BWA yang diberikan pemerintah untuk 15 zona di seluruh Indonesia. Awalnya mereka direncanakan menggunakan teknologi worldwide interoperability for microwave access (wimax) nomadik atau standar 16d, yang kemudian berubah menjadi teknologi wimax mobile (standar 16e) yang merupakan teknologi netral dan stara dengan LTE.

Para pemegang lisensi BWA itu terdiri dari delapan perusahaan, yakni PT Berca Hardaya Perkasa memegang 14 lisensi BWA, PT Telekomunikasi Indonesia (5), PT Indosat Mega Media (1), PT First Media Tbk (2), PT Internux (1), PT Jasnita Telekomindo (1), PT Konsorsium Wimax Indonesia (3), dan Konsorsium PT Comtronic System (3).

Anggota BRTI Ridwan Efendi mengatakan untuk LTE jenis Time Divisin Duplex (TDD) saat ini sedang dibahas regulasinya. Namun pada dasarnya regulasi yang dikeluarkan tidak akan jauh berbeda dengan TD LTE yang telah dikeluarkan. “Tinggal mengubah ijin individual saja,” ujar Ridwan Selasa (22/5).

Untuk LTE dari lisensi non BWA mereka bisa menggunakan frekusnsi 1800 Mhz, 800 Mhz atau 700 Mhz yang saat ini masih dipakai oleh televisi analog. Namun demikian karena proses migrasinya terkendala set top box maka untuk sementara dikesampingkan.

Pilihan Teknologi
Ridwan mengatakan kalau dari segi handset saat ini yang paling banyak adalah pada LTE requency division duplex (FDD) pada frekuensi 1800 Mhz. Dengan handset yang didukung banyak vendor maka harga akan lebih murah ketimbang jenis pilihan frekuensi dan jenis teknologi yang tidak didukung oleh ekosistem.

Telkomsel sendiri saat ini telah melakukan ujicoba LTE FDD pada frekuensi 1800 Mhz. Dengan meminta ijin yang diperkirakan tahu ini rencananya LTE ini FDD akan beroperasi pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia Pasific Economic Cooperation (APEC) pada Oktober 2013 di Bali nanti.

Direktur Network PT Telkomsel, Abdus Somad, mengutarakan yang sudah major memang LTE TDD. Namun demikian pilihan pada LTE FDD di Bali nanti karena dukungan ekosistem dengan sistem CDMA. “Tidak tergantung frekuensi, ini hanya masalah ekosistem. Jangan sampai seperti CDMA dan GSM yang berbeda jauh sekali,” ujarnya di Jakarta Senin (20/5).

Sedangkan penyedia solusi telekomunikasi Huawei mengajak para operator untuk menggunakan LTE jenis Time Division Duplex (TDD). Teknologi dinilai memiliki kapasitas jaringan lebih tinggi. Dengan teknologi ini maka pengguna (end user) dapat memperoleh peningkatan kecepatan, konektivitas M2M (machine to machine) dan beberapa layanan aplikasi berat lainnya seperti video.

Secara teknis LTE TDD menggunakan sistem modulasi dimana kanal frekuensi yang sama digunakan untuk downlink dan uplink serta sinyal dikirim berbasis waktu untuk menghantarkan data. TDD dinilai cocok untuk penghantaran data dalam kapasitas besar.

Direktur Pemasaran Huawei Indonesia Mark Donelly, LTE TDD adalah sebuah teknologi yang paling tepat untuk memenuhi tingginya permintaan arus layanan data di Indonesia. “Teknologi ini mampu mengoptimalkan sumber daya spektrum yang berharga, daya tampung tinggi dan hambatan rendah dalam layanan data, guna memberikan pengalaman pelanggan yang lebih baik,” ujar Donelly pada Indonesia ICT Carnival 2013 di Jakarta, Senin (20/5).

Bagi operator seluler teknologi LTE TDD menawarkan kelebihan pada daya tampung jaringan E2E hingga 500 kali lipat, pemenuhan ketepatgunaan jaringan dan pengalaman pengguna terbaik (best performance), konvergensi satu perangkat keras, satu perangkat lunak dalam satu jaringan, dan perangkat layanan inovatif serta mutakhir untuk E2E Innovation.

Ekosistem LTE TDD telah memperoleh dukungan penuh dari penyedia perangkat, dengan lebih dari 32 TDD Chipsets, 163 model perangkat termasuk 20 telepon genggam pintar, yang terdiri dari Samsung Galaxy S3/S4, HTC one, Huawei Ascend D2, serta Media Pad Huawei.

Lebih dari 700 TDD bersurat-izin telah dikeluarkan di seluruh dunia, termasuk kawasan Asia Pasifik yang tergolong sangat aktif. LTE TDD telah mencapai komersialisasi global berskala besar, BRIC (Brasil, Rusia, India, Cina, Afrika Selatan), Jepang, KSA, AU, AS, dan lainnya.

Terdapat 41 jaringan komersial lintas 6 benua yang sudah digunakan oleh sekitar 200.000 operator. Sejumlah 500.000 BTS akan didirikan pada tahun 2014, dan kaan melayani kebutuhan telekomunikasi sekitar 2 milyar penduduk.

Tapi menurut Dirjen Sumber Daya dan Perangkat dan Pos Informatika Kemkominfo Budi Setiawan, tidak mudah melakukan adopsi LTE TDD . Pasalnya teknologi ini harus memenuhi syarat Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) sebesar 30 persen untuk tahun pertama. Lima tahun selanjutnya harus memenuhi TKDN sebanyak 50 persen. hay/E-6

Adopsi Teknologi LTE Harus Lihat Tren Global

Adopsi teknologi Long term evolution (LTE) yang merupakan teknologi 4G harus cepat dilakukan karena kelebihan yang tidak ditawarkan akses melalui teknologi 3G. Teknologi yang menawarkan kecepatan tinggi ini sangat diperlukan bagi pengguna aplikasi berat dan akses dari pesawat terbang.

Pengamat telematika Teguh Prasetya mengatakan adopsi teknologi LTE harus melihat apa yang menjadi tren di dunia. Adopsi teknologi dan frekuensi harus mengacu pada industri telekomunikasi dunia dan produsen perangkat (device). “Tren teknologi yang terjadi di Eropa dan Amerika bisa menjadi pilihan,” ujar Teguh Rabu (22/5).

Selama ini setiap negara memang memiliki standar frekuensi berbeda, mulai dari 700 Mhz, 1.800 Mhz, 2.300 Mhz, atau frekuensi 2,3 Ghz. Setiap pilihan mengandung konsekuensi tersendiri.

Jika frekuensi semakin tinggi, cakupan areanya semakin rendah sehingga dibutuhkan banyak BTS. Sementara jika frekuensinya semakin rendah, jangkauannya semakin luas, namun tingkat kapasitas menjadi semakin kecil.

Pilihan frekuensi sebaiknya mengacu pada keinginan pengguna, bukan vendor handset atau operator. Mana yang lebih menguntungkan konsumen itu yang dipilih. Masalahnya kalau tidak banyak yang memakai frekuensi tersebut maka handset akan langka di pasaran sehingga harganya akan tinggi dan jelas akan merugikan konsumen.

Dari segi operator, LTE akan mendongkrak pendapatan. LTE akan memberikan operator kesempatan mendapatkan revenue yang lebih tinggi ketika kecenderungan tumbuhnya hanya 6–7 persen atau flat secara riil jika dihitung nilai inflasi.

Teguh berharap regulasi LTE segera keluar. Memang sekarang sudah ada LTE dari lisensi broadband wireless access (BWA) dengan teknologi netral wimax mobile (standar 16e) tapi ini belum cukup karena belum ada pemain dari seluler.

Sementara Sekjen Indonesia Telecommunication Users Group (IdTug) mengatakan Indonesia sudah sangat ketinggalan dalam soal waktu dalam adopsi LTE. Seharusnya adopsi sudah dilakukan pada 2010 lalu. “Secara teknologi sudah siap sejak lama tapi regulasinya selalu lambat,” katanya Rabu (22/5).

Sebenarnya tanpa melakukan ijin penggunaan frekuensi LTE sudah bisa digunakan dengan frekuensi yang ada (existing). LTE bisa menjadi solusi di tengah rendahnya kualitas broadband yang ditawarkan operator dalam soal kecepatan. (hay; http://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/120039)-FatchurR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Enter Captcha Here :

Back to top button
Close
Close