Psikologi

Kuli bangunan

Seorang ayah tanpa sengaja mendengar perbincangan istrinya yg tengah menasehati anaknya yang merasa rendah diri karena ayahnya hanya seorang tukang batu (kuli). “Apakah kamu tau? Gedung2 bertingkat-apartemen mewah bisa berdiri? jalan tol-jembatan layang bisa dibangun? Pelabuhan dan Bandara bisa di gunakan? semua membutuhkan orang2 seperti ayahmu mengerjakannya. Memang ada pengusaha dan investor yang membiayainya.

 

Ada arsitekdan desain interior perancangnya. Ada para manager dan mandor yang mengawasi jalannya pekerjaan itu, tapi tanpa ada orang2 seperti ayahmu yg menggali tanah, mengaduk pasir dan semen, menyusun batu kali untuk jadi pondasi menjadikannya sebuah tembok kokoh yg tidak mudah ambruk, semua impian itu tidak akan terwujud tanpa orang2 seperti Ayahmu..” ungkap si ibu kepada putranya.

“Di setiap rumah sakit, bank, gedung perkantoran, terdapat sidik jari dan butiran keringat ayah mu yang melekat di dinding bangunan itu.” lanjut sang ibu dengan penuh kasih sayang. Si anak menghampiri dan memeluk ibunya sambil berkata, “terima ¬kasih ibu, engkau telah membuat saya percaya diri dan bangga mempunyai ayah seorang tukang batu..”

Si ayah yg mendengar percakapan mereka kemudian masuk dan berkata kepada mereka
“terima kasih kalian telah membuat hidup ayah sangat berarti”
kata si ayah sambil menyeka air mata nya.

***
Semua orang bangga dengan pekerjaannya selain itu yg lebih penting lagi,”Dunia tidak menuntut kita /kamu/anda untuk menjadi seorang arsitek/ presiden/ politikus/DPR/ ¬¬ilmuwan, ect. “untuk kebahagiaan, Dunia hanya menuntut kita agar menjadi seorang yang terbaik pada apa pun yang anda kerjakan, apapun profesi dan pekerjaan kita, yg penting HALAL, lakukanlah dengan penuh suka cita dan rasa bangga..” (Suhirto M)-FatchurR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Enter Captcha Here :

Back to top button
Close
Close