Selingan

Sinabung

Telah sekian lama engkau menunjukkan wajahmu yang damai penuh kenyamanan dan keteduhan yang bersahabat dengan seluruh mahluk disekitarmu. Petani berwajah riang ,bekerja tatkala mentari menyinari bumi yang menyuburkan ladang mereka.
Anak-anak tersenyum berlari menenteng buku untuk menuntut ilmu sebagai bekal dihari nanti.
Burung burung berkicau menyambut sang surya sebagai ucapan kegembiraan untukmenghuni bumi tempat mereka berada
Lau Kawar menanti kunjungan insan yang datang menghibur diri, untuk memandang air yang tenang dan bening yang menjernihkan pikiran mereka. Inilah siklus kehidupan setiap hari dari pagi sampai senja menjelang malam. Kini…..tanpa alasan engkau murka
Awan panas dan debu kau muntahkan mencederai alam sekitar
keindahan sinabungAnak-anak , tua , muda terpontang panting , gelisah dan menderita untuk mencari tempat berteduh
Nyawa manusia melayang dengan sia-sia dan harta penuh berselimut debu seperti
benda yang tidak berguna
Ada yang hanya bisa berteduh ditempat bersahaja
Anak kecil menggigil ditengah kedinginan malam sepi mencekam
Sinabung…..
Dengar jeritan mereka
Mereka telah lama merindukan kembali kekampung halaman
Rasa rindu mereka, burung yang tidak lagi berkicau seperti sedia kala akan berahir jika murkamu juga kau ahiri
Kapan wajahmu damai dan teduh kembali ? (Santos Katjaribu)

Catatan : Maaf sajian ini terlambat dimuat-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close
Close