Psikologi

Willy moenandir Mangoendiprodjo, IR. [1]

Kepres No. 210/M tanggal 5/9/1983 mematahkan semua spekulasi yang santer waktu itu, sebelum penggantian direksi baru Perumtel. Ini kejutan akhir tahun 1983, ketika Ir. Willy Munandir bertahan pada posnya yaitu Dirut PERUMTEL, yang untuk pertama kali dijabatnya pada tahun 1973, dan dijabat lagi untuk kedua kalinya pada tanggal 1 Oktober 1983.

 

Kepres itu merupakan debut besar bagi suatu BUMN yang berdasarkan penilaian konkrit, bahwa Willy Munandir berhasil menduduki jabatan Dirut 12 tahun tanpa henti. Ternyata memang ia seorang tokoh yang dapat menjunjung tinggi nama PERUMTEL dimata rakyat. Ia berhasil meningkatkan reputasinya dalam mengelola pertelekomunikasian negeri ini.
Spekulasi yang terdengar waktu itu mengundang kekuatiran kalau-kalau Willy dipindah sehubungan dengan ucapannya dihadapan pers mengenai pulsa meter. Willy meyakinkan dirinya, bahwa masalah pulsa meter telepon ialah masalah intern PERUMTEL; dan PERUMTEL tak bisa digugat karena pulsa meter bukan kerja manusia, tetapi kerja elektronik yang tak pernah bohong.

 

Mempelajari sejarah lama, seorang pejabat tinggi bisa saja diganti karena opini publik. Tapi prestasi besar yang diciptakan Willy membawanya ke tempat yang benar. Sebab, setiap pengangkatan seorang pejabat senantiasa didasari penilaian, apakah orang itu cakap untuk menduduki tempat tertentu sesuai yang dibutuhkan, terutama di masa pembangunan ini. Orang percaya, bahwa pengangkatan Willy bukanlah keinginannya.

Diterimanya jabatan itu berulang tidak lain karena rasa tanggung jawabnya yang besar dan kecintaannya pada dunia pertelekomunikasian. Ia selalu merasa terpangil untuk melangkah cepat, dan bekerja keras, tanpa pamrih. Risiko tetap ada.

 

Namun dalam waktu 12 tahun itu ia tangguh, dan berhasil memenuhi harapan pemerintah dan rakyat dalam mewujudkan telekomunikasi wawasan nusantara yang diidam-idamkan. Hasil pembangunan telekomunikasi negeri ternyata banyak mempengaruhi kehidupan rakyat dan wilayah, terutama wilayah yang sebelumnya terisolir dari kehidupan ramai, yang kini menjadi hidup dan menyatu dengan wilayah lain di nusantara.

Kini dunia terbuka bagi mereka dan kesejahteraan jadi merata. Dalam kenyataan inilah, Willy ambil bagian. Ir.Willy Munandir dilahirkan di Banyuwangi 10/4/1936, dari keluarga Mangoendiprodjo. Ia menikah di Sukarnopura pada tanggal 21/4/1965 dengan Elizabeth Louise Sangkilawan, asal Manado, dan kini dianugerahi 3 orang anak laki-laki, dan seorang perempuun.

 

Setelah tamat SMA tahun 1953, ia melanjutkan pendidikannya di ITB jurusan elektro, dan lulus tahun 1960. Sebagai tambahan, ia mengikuti Sespa angkatan ke II tahun 1981 dan Lemhannas tahun 1983.
Jenjang kekaryaan Willy Munandir termasuk cepat, dan selalu tepat dalam menduduki jabatan tertinggi di Perumtel. Ini merupakan proses penjenjangan yang langka.

 

Loncatannya demikian jauh hingga ia tidak pernah melalui urutan jabatan struktural sebagai layaknya seorang karyawan, yang meniti kariernya dari bawah dengan tanjakan yang konstan. Dari pengalaman kerja dan apa yang pernah dijabatnya dapat diketahui, bahwa Willy sudah sejak lama mempersiapkan diri untuk menerirna tugas penting BUMN ini.

 

Ia mulai bekerja di Postel pada tahun 1960 sebagai Ahli teknik dan ditemptakan di laboratorium PTT di Tegallega Bandung. Walau di tempat ini ia bekerja selama 4 tahun dengan status “Ps” (Pegawai sementara), namun pada akhir 1964 ia langsung diangkat sebagai Kepala Wilayah Usaha Telekomunikasi ke-XII (Kawitel-XII) Jayapura.

 

(Rizal Chan; Dikutip dari buku “ Tokoh Tokoh Sejarah Perjuangan dan Pembangunan Postel di Indonesia”, Deparpostel, Ditjen PosTel, 27/9/1985)-FR
(naskah 1985… to be continued…)

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.




Enter Captcha Here :

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close
Close