Psikologi

Mengenal arti Gambaru(1/2)

GAMBARU berarti berjuang mati2an sampai titik darah penghabisan. Pada praktik se-hari2 bangsa Jepang terbiasa dengan motto gambattekudasai (ayo berjuang lebih lagi), taihen dakedo, isshoni gambarimashoo (saya tau ini sulit, tapi ayo berjuang bersama), motto2 kenkyuu shitekudasai (ayo bikin penelitian lebih dan lebih lagi).

 

Gambaru itu bukan sekadar berjuang ala kadarnya lalu cepat menyerah dan malas jika banyak rintangan, ya udah,  ya…berhenti aja. Menurut kamus bahasa jepang, gambaru artinya : “doko made mo nintai shite doryoku suru” (bertahan sampai kemana pun dan berusaha habis2an). Gambaru, terdiri dari dua karakter yaitu karakter “keras” dan “mengencangkan”.

 

Jadi image dari paduan karakter ini “mau sesusah apapun itu persoalan yang dihadapi, kita mesti keras dan terus mengencangkan diri, agar kita menang atas persoalan itu” (jangan manja, tapi anggap persoalan itu kewajaran hidup. Hidup pada dasarnya susah, jadi jangan berharap gampang, pokoknya bagi bangsa Jepang persoalan hidup hanya bisa dihadapi dengan gambaru, titik.).

 

Gambaru, falsafah hidup Jepang diperkenalkan sejak balita mulai anak mengenal bangku sekolah seperti mengenakan baju di musim dingin mesti yang tipis2 biar tidak manja pada cuaca dingin, Di sekolah tidak boleh pakai kaos kaki karena kalo telapak kaki langsung kena lantai itu baik untuk kesehatan, sakit2 sedikit cuma flu atau demam 37°C tidak usah bolos sekolah, tetap dihimbau masuk dari pagi sampai sore

 

Dengan alasan, anak akan kuat menghadapi penyakit jika ia lawan penyakitnya itu sendiri. Sehingga anak2 di Jepang sering mengucapkan gambare! faitoooo! (ayo berjuang, ayo fight!). Pokoknya tidak manja sama masalah, gambaru sampe titik darah penghabisan it’s a mus

 

Mari kita belajar saat Jepang menghadapi 3 musibah sekaligus tsunami, gempa bumi dengan kekuatan 9.0 dan ancama radiasi nuklir akibat kebocoron PLTN di jepang bagian timur. Wajar jika emerintah dan masyarakat jepang panik kebingungan karena bencana ini. Wajar mereka galau, menangis dan tidak tau mesti berbuat apa.

 

Bahkan untuk skala bencana sebesar ini, rasanya bisa “dimaafkan” jika stasiun2 TV memasang sedikit musik latar ala lagu2 ebiet yang men-dayu2, mengeksploitasi kesedihan dan membuat video klip tangisan anak negeri berisi wajah2 korban penuh kepiluan dan tatapan kosong tak punya harapan.

 

Bagaimana tidak, tsunami dan gempa bumi ini menyapu habis seluruh kehidupan yang mereka miliki. Sangat wajar jika mereka tidak punya harapan. Tapi apa yang terjadi pasca bencana mengerikan ini?

 

Dari hari pertama bencana, TV Jepang tidak memutar lagu2 sedih ala ebiet. Tidak ada rekening dompet bencana alam khas TV atau media Indonesia. Tidak ada Video klip tangisan anak negeri. Tiga unsur itu (lagu ala ebiet, rekening dompet bencana, video klip tangisan anak negeri), tidak disiarkan di TV.

 

Gambatte Sagasoo; (Prasetya B. Utama; Grup WA-VN; Bahan : Arif Suprihantoro; http://ceritainspirasi-arif.blogspot.com/2011/03/makna-gambaru-bagi-masyarakat-jepang.html)-FatchurR * Bersambung…….. 

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Enter Captcha Here :

Back to top button
Close
Close