Psikologi

Riset besar untuk Jaringan TIK

Kita mengharapkan pemerintah baru akan terbuka cakrawalanya menggelontorkan dana riset sehingga Indonesia dapat mengikuti secara minimal perkembangan industri TIK dan tidak hanya dikejutkan atau disodori perangkat baru oleh vendor.
Lebih bagus lagi apabila kemudian hasil dari Riset Nasional tersebut dapat ditinjaklanjuti oleh industri manufaktur kita sehingga bisa sebagian atau seluruhnya digunakan oleh para pemangku kepentingan TIK, seperti para operator TIK (jaringan dan jasa), maupun pengguna akhir.

Tanpa dana Riset yang besar Indonesia akan terus tertinggal dan menjadi pasar saja. Di Korea Selatan perusahaan TIK seperti Telkom dsb diminta menyisihkan 20% anggarannya untuk riset, dan didukung pemerintah sebanding. Pemerintah India juga mengalokasikan dana riset besar, untuk pengembangan sentral, satelit komunikasi dan pemantauan, dan roket peluncur.

Lihat isi dari tautan di bawah ini betapa besar tantangan yang ada di depan kita, dengan perangkat terminal yang saling tersambung TIK akan 1000 kali jumlah penduduk pada 2020, yaitu saat tercapai Konvergensi Puncak dari semua jaringan,‘Towards Ultimate Convergence of All Networks’ (TOUCAN) pada tahun 2020.

 

Kebanyakan akan menggunakan yang disebut Jaringan yang Dikendalikan Piranti Lunak, Software Defined Networking, yang dapat menggunakan pita frekuensi secara sangat efisien untuk nir-kabel maupun penyaluran dalam kabel. Semuanya sudah era pitalebar yang menjadi keharusan mutlak untuk mencapai kualitas kebutuhan.

 

Multi-Million Research Grant Will Revolutionise Future Communication Networks
Catatan : Tentunya untuk bidang lain yang akan menentukan kehidupan seperti biologi, kelautan, pertanian, kesehatan, dll, dibutuhkan kelimpahan dana riset serupa. (Salam, AphD)-FR
————

 

Catatan Komentar dari : Ono W Purbo

Jujurnya sih pak, dana besar juga akan masalah & gak terlalu effek
lha wong tukang ngoprek di republik ini sudah menjadi mahluk langka
apa yang kita oprek kadang di bilang ilegal sama regulator : Bisa cek ke Ketua Mastel, berapa persen anak teknik di student body di universitas itupun kalau lulus sebagian akan kerja di bank & asuransi (OP)

————

 

Tanggapan atas tulisan OP :

Mas Onno dan rekans yang baik, Tks untuk tanggapannya. Ya, semuanya tergantung orang dan khususnya Pimpinan. Sayang bila Institusi yang begitu penting, yang menentukan kemajuan suatu Bangsa, dan bisa menampung anak2 Bangsa yang cemerlang, tidak dibenahi. Dan untuk membenahi dan melanggengkan keberadaan kemampuan Riset dan Pengembangan (R&D) yang benar,  riset dasar (basic) maupun aplikatif, membutuhkan dana yang besar.

Semua setuju kita tidak hanya bisa mengeluh dan menyaksikan saja. Indonesia jika mau, pasti bisa kok. Ini sudah terbukti, sampai merombak organisasi ITU. Ya, mulai dari Birokrasi dan mentalnya, sehingga mau keluar dari Zone Nyaman yang tidak beresiko, dan membuat kebijakan dan keputusan yang keluar dari lingkaran setan.

Oleh karena nama pak Setyanto disebut, kebetulan, sekaligus saja saya angkat rencana di bawah ini.
Pak Setyanto, seperti diketahui selain Ketua Umum Mastel (masa bakti 2 x 3 tahun akan habis awal 2015), a.l. juga mantan Dirut Telkom dan mantan Sekjen Parsenibud yang, tidak canggung dengan terobosan pendekatan ke berbagai Departemen, termasuk Rencana Pitalebar (broadband) Indonesia yang memperoleh sambutan untuk dijadikan Perpres.

 

Ini paralel dengan usaha Bappenas. Kepada teman2 yang sedang menyusun kriteria dan persyaratan Menteri dan Menkominfo khususnya, dia menyatakan kesediaannya menjadi calon Menteri / Menkominfo, jika Negara menugasinya, walau dia menginginkan kita membuat kriteria dan persyaratan saja.

Menurut saya, salah apabila tidak menyebut calon2 samasekali yang  kita anggap memenuhi.
Tentunya calon2 lain juga terbuka, welcome.

Kiranya, kita wajib ikut mengamankan Kabinet yang dapat melaksanakan tugasnya bagi kepentingan rakyat pada umumnya, dan telekomunikasi/TIK pada khususnya. Kominfo juga harus kembali di bawah lingkungan Menko Ekonomi, tidak lagi di bawah lingkungan Menko Politik. (Salam, AphD)-FR

————–

Catatan dari : Taufik H

Sangat setuju pak Dji!

Selain mendukung riset dengan dana yang memadai dan memberikan nilai dalam proses risetnya, perlu kita dorong juga terbentuknya rantai nilai (value chain) dalam pengembangan dan penguasaan teknologi (teknologi ownership).

 

Untuk itu perlu ada kebijakan industri TIK didukung misalnya, segera menghilangkan kebijakan yang sampai saat ini masih berlaku bahwa impor komponen kena pajak, sedangkan impor barang jadi bebas dari pajak (yang ini karena kita mengadopsi multilateral agreement).

 

Pasar TIK DN juga harus dibuat supaya dapat menjadi pasar dari industri DN, kewajiban TKDN misalnya harus benar-benar diwujudkan, dengan insentif yang memadai. Di awal gerakan ini, besar kemungkinan akan muncul “inefisiensi” karena belum adanya economy of scale & scope, yang harus “diderita”, namun tanpa melewati hal seperti itu kita akan tetap menjadi pasar. Untuk menmbangun industri DN, juga membuka pasar keluar, bisa kita contoh RRT yang pemerintahnya begitu all out memajukan Huawei dan ZTE (juga yang lainnya).

 

Tentang SDN saat ini sudah mulai diterapkan di teknologi selular dimana fungsi-funsi jaringan menjadi virtual (network function virtualization. NFV), yang wujudnya kemudian hampir semua komponen jaringan  ada data center tempat proses-proses dan fungsi dijalankan.
Salah satu yang bisa kita mulai dan cepat  menguasai adalah dengan memanfatkan open source software (OSS, yang saya dengar sudah ada anjuran dari Menko Ekoin yang baru CT), yang terbuka, biasanya lisensinya tidak berbayar.

 

Contoh adalah OpenBTS, yang telah memanfaatkan software defined radio (SDR) salah satu “cabang” SDN. Dengan OpenBTS yang kendali utamanya dengan OSS, dan proses penyambungan (switching) dengan OSS softswitch (Asterix), maka beberapa langkah sudah kita lengkapi, karena penguasaan teknologi ini hambatannya tidak sebesar yang lain.

 

OpenBTS ini kalau ditekuni, selain akan dapat mendorong penguasaan teknologi, membangun industri dalam negeri, juga dapat membuka kesempatan dan peluang kerja bagi kelompok masyarakat di pedesaan, karena salah satu implementasi (di banyak daerah di dunia) adalah pembanguna fasilitas di daerah yan kurang terlayani, dengan. (Best regards – Salam, Taufik Hasan)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Lihat Juga
Close
Back to top button
Close
Close