Iptek dan Lingk. Hidup

Tahun 2020 5G akan komersial

Pembekalan teknologi 5G oleh KaBadan LITBANG Kominfo untuk semua pejabat intinya tgl 20/3/15, sungguh melihat ke depan dan tepat waktu. Teknologi 5G akan dikenalkan dalam waktu 5 tahun lagi. Salah satu vendor multinasional besar akan bilang, tidak usah buru-buru karena baru 2025.

Standardisasi 5G dengan perangkat gawai LTE nya sudah beberapa tahun dilakukan oleh ITU-R dan IEEE.
Hampir tidak bisa dipercaya 5G yang kecepatannya akan 100-1000an kali teknologi saat ini akan diperkenalkan (introduced) tahun 2020, 5 tahun lagi. Diperkenalkan itu berarti akan menjadi komersial dan bukan contoh percobaan (pilot project)

Tulisan di bawah kiranya salah satu yang dapat memberikan gambaran jelas bahwa 5G itu bukan hanya terkait kecepatan, melainkan juga layanan lain yang tidak terkirakan atau terbayangkan saat ini, dan akan dibutuhkan. Ini kilasan manfaatnya, a.l.:

• Kecepatan unduh dari 1 gigabit per sekon (gbps) menjadi 10 gbps (saat ini sudah untuk bisa 1-2 Megabit per sekon, saya hanya bisa 100an kilobit per sekon).
• Kecepatan kirim antar perangkat dari 50 milisekon menjadi 1 milisekon.
• Dunia yang lebih tersambung: dalam The Internet of Things (sambungan antarbarang yang dipakai, aplikasi alat di rumah, mobil tersambung, dll) yang mengakomodasi milyaran alat.
• Daya batere lebih lama.
• Pita frekuensi yang sama bisa digunakan beberapa layanan dan operator, dll.

Dengan kecepatan yang demikian menggunakan perangkat LTE terbaru (a.l. release 13 yang masih distandardisasi), maka satu pita frekuensi akan dapat digunakan beberapa layanan, termasuk lebih dari satu operator, Ini sangat menghemat, Jadi bukan hanya untuk negara maju, tetapi kita sendiri butuh.

Oleh karena itu, sudah saatnya Indonesia segera terjun dalam bidang penelitian 5G, dan Menkominfo sudah berpesan bahwa penelitian ini penting dan harus diikuti, termasuk oleh LITBANG Kominfo.
Mampukah Indonesia?

Jangan tanya, dilakoni saja. Masa lalu membuktikan kita bisa, asal serius niatnya, dan bersinergi tentunya. Pemerintah beri arah teknologi (semacam Perpres RPI), undustri dan Universitas meneliti, dan operator membeli. Tentulah bila Indonesia tidak hanya jadi pasar saja, yang bosan mendengarnya.

Di bawah ini juga dikatakan bahwa walaupun sistem 4G saat ini dapat ditumpangi berbagai layanan dan data dari sistem2 sebelumnya, di sisi lain masih ada kesenjangan besar akan kebutuhan nyata orang terhadap apa yang dapat ditawarkan 4G.

Produksi 4G silahkan terus, seraya 5G dipersiapkan. Sistem 4G jangan dijadikan sasaran akhir, melainkan sasaran antara tanpa harus ngoyo. Jadi tidak terbuang melainkan bukan di situ konsentrasinya. Banyak industri multinasional besar berancang-ancang dan bersaing untuk merebut pasar 5G, jadi waspadalah.

Indonesia harus memiliki kekuatan Penelitian sendiri. Jangan lagi sok produk dalam negeri, dengan membeli lisensi yang amat mahal. Produk dalam negeri bisa beri konten lokal 70-80% atau lebih.
It’s your chance boys and girls. Kesempatan ini tidak pernah akan terulang kembali.

JAS MERAH, Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah.
Jangan mengulangi jibaku nasional saat salah satu UKM kita berhasil membuat Gawai (terminal, 5C) dan Sentral (4C) NGN (Next Generation Network) awal 2000, saat lelang NGN dipersyaratkan oleh perusahaan terbesar telekomunikasi nasional, dipersyaratkan peserta harus berpengalaman minimal di 2 (dua) negara. Opo tumon, membunuh anak sendiri.

Padahal hasil penelitian dan produknya sudah dicolba di Sumut (Telkom) dan SulTeng (Indosat).
Nampaknya, para penyelenggara lebih percaya pada bisikan perusahaan multinasional (gagah dan menjanjikan) daripada kepada sang pengusaha UKM (kucel). “Kau terlalu kecil untuk bermain di sini, kata salah pengusaha multnasional”

Padahal UKM mengembangkannya bersama dengan RISTI (sekarang pakai istilah IDec) Telkom, lho. Apabila berhasil dengan IDN skala ekonomi yang untung siapa?
1. Operator karena akan bisa membeli barang dalam negeri lebih murah,
2. Pelanggan otomatis merasakannya, dan
3. Indonesia bukan hanya pasar, melainkan produsen untuk pasar nasional, regional, dan khususnya negara2 berkembang di Asia-Pasifik, Afrika, Eropa Tengah,
4. Indonesia siap dan diberdayakan (pengalaman dan dana) untuk ikut derap teknologi berikutnya, dll

Peta Jalan Indonesia yang benar, adalah secepatnya menyukseskan pemerataan 2G dan 3G hingga ke pelosok sesuai Perpres 96 tahun 2014 tentang RPI (Rencana Pitalebar Indonesia), dan 5 tahun lagi langsung melompat ke teknologi 5G. (Salam, AphD*-FR

Sumber rujukan

Moving To The Next Generation In Wireless Technology
A Lancaster University professor is at the forefront of promising technology techniques to speed up the development of fifth generation (5G) wireless communications.

Professor Zhiguo Ding, from the School of Computing and Communications, together with colleagues from China’s Southwest Jiatong University, has completed a global review of 5G progress including the challenges that lie ahead and the implementation.

But, say the review team, greater breakthroughs in wireless communication technology are on the way as research and development work continues to meet the commercial goal of 5G for all by 2020.
They also expect new network architecture and techniques will emerge to promote current cellular systems too.

The research paper ‘Key techniques for 5G wireless communications: network architecture, physical layer, and MAC layer perspectives’ introduces potential techniques for future 5G systems.
However, the review team state these are only a small portion of what would be used in 5G systems, but they shed light on a promising technology-developing trend.

The review team’s research presents an overview of potential network architecture and highlights several promising techniques which could be employed in future 5G systems by analysing 5G requirements and current research

These techniques include:
• Non-orthogonal multiple access (NOMA) – a shift from conventional telecommunication systems relying on interference free assumptions
• Massive multiple input and multiple output (MIMO) – offers excess degrees of freedom due to the use of hundreds of antennas at a single base station, an important breakthrough due to recent advances in semiconductor technologies
• Cooperative communications, network coding and full duplex (FD) – important physical layer solutions to spectrum crunch, a global phenomenon that mobile communications are always hungry for more bandwidth resource.
• Millimetre wave communications – a promising enabling technology for future cellular networks since it operates in the 10-300GHz band, in which more spectrum can be used for telecommunications.
• Device-to-device (D2D) communications and cognitive radio (CR) – important for merging telecommunication networks with mobile internet, internet of things, etc.

“5G is much more than just faster data speeds on mobile devices,” says Professor Ding. “It also opens the door to a lot of different consumer and industrial applications and uses — some of which seem unbelievable now because they’re so futuristic. For example, 5G has been envisioned as the key to provide seamless communications among autonomous cars, healthcare monitoring devices, interactive gaming gadgets, etc.”

5G should provide:
• Faster data download speeds from one gigabit per second (gbps) to 10gbps.
• Faster data sending times between devices from 50 milliseconds to one millisecond
• A more ‘connected world’: The Internet of Things (wearables, smart home appliances, connected cars) will need a network that can accommodate billions of connected devices
• Longer battery power

Although current 4G systems could be loaded with many more services and data than previous systems, there is still a dramatic gap between people’s practical requirements and what can be offered by 4G technologies.

Consequently, research and development for fifth generation (5G) systems have been started and the race is on in the bid to seize leadership. Huge amounts are being invested from both academia and industry, in the UK, Europe and worldwide.

Currently, both the research community and industrial companies are working together to identify the fundamental limits of enabling technologies to be used for 5G and the standardization for 5G is to be started from 2016, together with the allocation of spectrum to be used by 5G.

Some pre-commercial trials have been carried out and the worldwide deployment of 5G is expected to start from 2020.

Professor Zhiguo Ding has held academic posts at Queen’s University Belfast, Imperial College and Newcastle University. Since October 2014, he has been at Lancaster University’s School of Computing and Communications as a Chair in Signal Processing and is an academic visitor at Princeton University.
SOURCE: Lancaster University

Laman (web) bisa diklik di bawah ini :
http://www.wirelessdesignonline.com/doc/moving-to-the-next-generation-in-wireless-technology-0001?
sectionCode=News&templateCode=Single&user=105204&source=nl:42964&utm_source=et_6214365&utm_
medium=email&utm_campaign=WIRE_2015-05-07&utm_term=F693DB73-C0CE-11D4-8C7F-
009027DE0829&utm_content=The%2bRace%2bFor%2b5G%2bWireless%2bCommunications%2b. (AphD)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Enter Captcha Here :

Lihat Juga
Close
Back to top button
Close
Close